Oleh: M. Amsar Roedi

Di jalur jalan pantura Demak, sebelah utara jembatan Wonokerto kira-kira 4 kilometer, tepatnya di dusun Karanggawang Desa Sidorejo Sayung Demak, hiduplah seorang yang bernama Kiai Ahmad Yasir. Beliau mempunyai dua orang istri yaitu Nyai Aminah dan Nyai Hafshah. Kiai Yasir adalah seorang tokoh agama di Karanggawang. Merupakan tokoh yang memprakarsai berdirinya masjid Al-Amin di Dusun Karanggawang yang masih dapat kita lihat saat ini. Seperti orang-orang pada masa itu, Kiai Yasir bekerja sebagai seorang petani mengolah sawah untuk membiayai kehidupan keluarganya.

Jum’at, 5 Ramadhan 1347 H/15 Februari 1929 adalah hari yang bahagia bagi Kiai Yasir, karena saat itu Nyai Aminah melahirkan seorang anak yang kelak akan mengharumkan nama keluarga dan nama Karanggawang. Bayi laki-laki tersebut diberi nama Ma’shum Mahfudhi. Secara harfiyah, kedua lafadz tersebut memiliki kesamaan makna. Lafadz Ma’shum memiliki makna ‘yang terpelihara’, namun lafadz ini berkaitan dengan sifat Nabi. Sementara lafadz Mahfudh juga memiliki makna ‘yang terpelihara’ namun dituju­kan kepada para wali Allah. Tampaknya kedua lafadz tersebut kelak semakin meneguhkan pribadi dan karakter Kiai Ma’shum sebagai ulama’ yang terpelihara dari sifat-sifat tercela.

Kiai Yasir dikarunia 5 anak, yaitu Abdullah Zaini, Ma’shum Mahfudhi dan Sholihul Hadi yang berasal dari istri pertamanya, Nyai Aminah. Sementara dari istri kedua, Nyai Hafshah memiliki anak Khomsatun dan Syahid.

Ada pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jika dilihat dari sisi nasab, pepatah tersebut berlaku bagi keluarga Ma’shum Mahfudhi. Ayahnya, Kiai Yasir adalah putra dari Kiai Tobri bin Kiai Rofi’i bin Mustofa Singodrono. Singodrono sendiri adalah salah satu abdi Kerajaan Mataram. Pada zaman penjajahan dulu, Mbah Singodrono bersama temannya dikejar-kejar oleh tentara Belanda. Saat pengejaran itulah mereka berpisah dan Singodrono memilih untuk berkelana dan menempati daerah yang dinamakan Desa Babadan Kecamatan Sayung. Kemudian salah satu keturunannya pindah daerah Sidorejo.

Menuntut Ilmu

Ma’shum kecil tumbuh sebagaimana anak pada umumnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa kelak dia akan menjadi tokoh besar. Hanya saja, kedua orang tuanya sangat memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya. Ma’shum kecil beserta saudara-saudaranya mulai dari kecil sudah belajar membaca al-Qur’an dari ayah dan ibunya. Selain itu, Ma’shum juga diperintahkan untuk mengaji di kediaman K. Nawawi, seorang Kyai ter­pandang di Kuripan Sidorejo, sebuah Dusun di sebelah timur Karanggawang.

Namun upaya Kiai Yasir membimbing anak-anaknya mengenal agama terhenti saat Ma’shum kecil berumur 12 tahun. Tepatnya tanggal 20 Rajab 1362 H Mbah Yasir meninggal dunia. Praktis, saat itulah Ma’shum beserta saudara-saudara­nya menyandang gelar yatim. Semua kebutuhan keluarga dan pendidikan ditangani oleh ibu mereka masing-masing. Oleh Nyai Aminah, Ma’shum kecil kemudian diantarkan ke Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen untuk belajar agama di hadapan KH. Mushlih, seorang tokoh di Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyah (JATMAN).

Selama di Mranggen, Ma’shum belajar ilmu dasar selama kurang lebih enam tahun. Ilmu-ilmu yang dipelajari Ma’shum kecil di Mranggen adalah fiqih, tajwid, nahwu, sharaf, bahasa Arab, tauhid, akhlak dan lain-lain. Menurut beberapa teman seperjuangan, Ma’shum dikenal sebagai santri yang rajin muthalaah dan riyadhah puasa.

Di pondok Futuhiyah, suasana belajar Ma’shum sangat berat karena pada saat itu adalah masa proklamsi kemerdekaan Indonesia. Tidak jarang wilayah Mranggen dihujani bom oleh penjajah karena saat itu KH. Muslih adalah salah satu kiai yang menentang keras penjajah.

Setelah ilmu yang didapat terasa cukup, Ma’shum kecil kemudian melanjutkan pendidikannya ke sejumlah pesantren. Beberapa pesantren yang pernah disinggahi belajar adalah Pesantren Bareng Kudus, Pesantren Pondowan, Pati dan Pesantren Darul Hikam Bendo, Pare, Kediri.

Pesantren Bareng Kudus saat itu diasuh oleh KH. M. Yasin, mujiz Dalail al-Khairat di Indonesia. Ma’shum sendiri mulai mondok di pesantren Mbah Yasin se­kitar tahun 1947. Beliau mengaji, selama kurang lebih tiga tahun. Dari gurunya ini, Ma’shum menerima ijazah Dalail al-Khairat dan Kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilany yang dijalani melalui riyadhah puasa. Dan bahkan bukan hanya itu, di Pesantren yang dikenal sebagai pesantren riyadhah ini, tidak sedikit ijazah yang diterima Ma’shum dari KH. Yasin.

Dari pesantren Bareng Kudus, Ma’shum meneruskan pendidikannya ke pesantren Pondowan Pati yang diasuh oleh KH. Muhammadun. Di hadapan Mbah Madun, Ma’shum memperdalam ilmu tauhid, nahwu, sharaf, fiqh, balaghah, ushul fiqh, tafsir dan ta­sawuf. Pada bidang nahwu, Mbah Madun yang dikenal sebagai Sibawaih Jawa, begitu telaten mengajar santri-santrinya. Misalnya saat membaca sebuah kitab, beliau sering mencontohkan aplikasi ilmu nahwu.  Jadi setiap membaca, ke­mudian pembacaan kitab berhenti sejenak guna untuk mem­bedah lafadz yang bersangkutan dalam segi nahwu, sambil mengingatkan santri pada pelajaran nahwu yang sudah lewat. Hal ini beliau lakukan supaya santri-santrinya memahami nahwu tidak hanya sebatas teori saja tapi juga aplikasinya dalam struktur bahasa Arab.

Kepada KH. Muhammadun, Ma’shum mengaji selama kurang lebih dua tahun lantas kembali ke tempat kelahirannya, Karanggawang. Kiai Ma’shum kemudian mengajar agama di masjid Al-Amin dan menikah dengan seorang gadis bernama Hikmah. Namun beberapa saat setelah menikah, konon pada suatu malam kiai Ma’shum bermimpi bertemu dengan ayahnya, Kyai Yasir.  Saat itu ayahnya memerintahkan Ma’shum untuk belajar lagi karena apa yang sudah dia dapat masih belum cukup dalam memuliakan agama Islam.

Maka Kiai Ma’shum menceraikan istrinya dan lantas melanjutkan belajarnya ke Pesantren Darul Hikam Bendo, Pare, Kediri yang diasuh oleh KH. Muhaji, murid Syaikhona Kholil Bangkalan Madura yang dikenal memiliki banyak keramat dan luas keilmuannya. Seorang ulama yang berhasil menelurkan sejumlah kiai besar di seantero Jawa.

Di Bendo Ma’shum memperdalam ilmu tasawuf dan fiqih. Kitab-kitab yang dikaji di hadapan Kyai Muhajir antara lain Ihya’ Ulumiddin, Mahalli, Fathul Wahab, Fathul Mu’in, Bajuri, Taqrib, dan kitab-kitab kecil lainnya. Di sana Ma’shum bertemu dan berdiskusi dengan teman santrinya yang berasal dari ber­ba­gai daerah yang memiliki berbagai macam keutamaan masing-masing. Ma’shum sendiri dikenal sebagai santri yang gemar riyadhah. Ada banyak teman seperjuangan Ma’shum saat mondok di Bendo, antara lain adalah Kyai Sahal Mahfud Kajen, KH. Abuya Dimyathi Banten, Kyai Mas’ud Cilacap, KH. Syam’ani, Jember, KH. Salman Dahlawi Popongan Klaten dan lain-lain.

Di mata teman-temannya, Ma’shum merupakan sosok santri yang khusyuk dan wira’i. Konon, ia pernah ‘ditantang’ salah seorang temannya untuk mendoakan agar segera mendapat kiriman uang. Padahal zaman dulu, sangat jarang sekali seorang santri mendapat kiriman bekal dari rumah karena perekonomian sangat sulit. Temannya tersebut bersedia memberi imbalan jika permintaannya tersebut bisa ter­wujud. Benar juga, setelah didoakan Ma’shum, selang beberapa saat ternyata ada kiriman untuk temannya tersebut. Alhasil Ma’shum mendapatkan apa yang dijanjikan kepadanya.

Di sela-sela mondok di Bendo, Kiai Ma’shum menyempatkan pergi ke berbagai daerah di Jawa Timur untuk tabarrukan kepada para kiai. Salah satunya adalah Kyai Ma’ruf Kedonglo Kediri. Dari Syekh Ma’ruf lah beliau menerima sanad ijazah Puasa al-Qur’an.

Mendirikan Pesantren dan Kisah Pernikahan

Pada tahun 1958, Kiai Ma’shum pulang dari Bendo Pare Kediri. Beliau segera menyebarkan ilmunya dengan mengajar mengaji anak-anak kampung di masjid Al-Amin. Selang beberapa waktu, datanglah enam santri dari Madiun secara bergantian. Usut punya usut ternyata mereka mendapat amanat dari almarhum guru mereka untuk menuntut ilmu kepada Kiai Ma’shum. Selain mereka juga ada beberapa santri dari desa sekitar. Kiai Ma’shum kemudian membangun pesantren di lahan peninggalan ayahnya, sebelah timur kurang lebih 200 meter dari masjid Al-Amin. Pondok Pesantren tersebut kemudian dinamakan Fathul Huda.

Setelah ngrumat pesantren selama kurang lebih enam tahun, barulah Kiai Ma’shum menikahi seorang perempuan ber­nama Sayyidah, putri KH. Umar, seorang ulama Undaan Kidul Karanganyar Demak yang pernah mukim di Mekah.

Pernikahan Kiai Ma’shum dengan Sayyidah di­lak­sanakan pada hari Senin Wage, tanggal 26 Agustus 1963, ber­te­patan dengan 6 Rabiul Tsani 1382 bertempat di Undaan Kidul Karanganyar Demak. Saat itu Kiai Ma’shum berusia 35 tahun, sedangkan Sayyidah berusia 21 tahun.

Pasangan Kiai Ma’shum dan Nyai Sayyidah dikaruniai tujuh orang anak, yaitu KH. M. Zainal Arifin Ma’shum, Hj. Nur Izzah Ma’shum, Ainistiqamah Ma’shum (wafat saat kecil), Hj. Nur Aliyah Ma’shum, KH. Luthfin Najib Noor Ma’shum, Gus M. Badruddin Ma’shum dan Gus Abdul Lathif Ma’shum. Kelak, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum meneruskan perjuangan Kiai Ma’shum mengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda. Sementara adiknya, KH. Luthfin Najib Noor Ma’shum mendirikan pondok pesantren  di sebelah utara masjid Al-Amin yang diberi nama Pondok Pesantren Ar-Riyadh.

Semakin lama, santri Kiai Ma’shum semakin bertambah. Tidak hanya dari Demak, Jawa Tengah, ada yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat dan luar Jawa. Perlahan tapi pasti, Pondok Pesantren Fathul Huda mengalami perkembangan yang signifikan.

Selain pengajian kitab kuning di pondok dan madrasah diniyah, Kiai Ma’shum juga membuka pendidikan formal mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan saat ini putranya, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum tengah merencanakan pendirian perguruan tinggi.

Menjadi Mursyid

Tarekat yang dijalani Kiai Ma’shum adalah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dia pelajari dari KH. Muslih Mranggen. Oleh KH. Muslih, Kiai Ma’shum diangkat menjadi mursyid yang kemudian diberikan ijin untuk mengembangkan dan mengajarkan Thoriqoh kepada masya­ra­kat. Tempat pengajian tarekat berpusat di masjid pondok pesantren Fathul Huda. Semenjak membuka pengajian ini, sudah ada ribuan orang yang berbaiat dan mengikuti pengajian tarekat beliau, baik dari Demak maupun luar kota. Juga ada yang dari luar jawa. Diantaranya adalah KH. Sulaiman Thoha (Ngawi),      KH. Yasin Masyhadi (Demak),  KH. M. Zainal Arifin Ma’shum (Demak), KH. Abdul Muhid (Maluku), KH. Mahfud (Sumatera Selatan), KH. Ali Utsman Dahlan (Jambi) dan lain-lain.

Mendidik Melalui Riyadhah

Semenjak kecil saat belajar di Pondok Futuhiyah Mranggen, Kiai Ma’shum sudah sudah mulai menjalani laku riyadhah puasa sepanjang hari. Riyadhah ini dijalani hingga akhir masa hayatnya. Beliau layak disebut sebagai ahli riyadhah lantaran selama lebih dari tiga perempat umurnya beliau habiskan untuk menjalani puasa dan berdzikir.

Syekh Ma’shum berhasil mendidik santri-santrinya karena kedalaman ilmu, akhlak mulia dan keikhlasan. Wajar bila banyak santri Syekh Ma’shum menjadi “orang” sekembalinya ke rumah. Metode mendidik yang diterapkan Syekh Ma’shum sebenarnya sangat sederhana tapi membuahkan hasil yang sangat luar biasa.

Pertama, memahami kitab kuning. Kitab kuning yang membahas bidang ilmu nahwu, sharaf, fiqh, ushul fiqh, hadits, tafsir, tasawuf dan sebagainya semua beliau ajarkan. Tahap awal yang dilakukan beliau adalah mengajarkan ilmu alat yaitu ilmu nahwu dan sharaf. Kepada para santri, Syekh Ma’shum mewajibkan meng­hafal kedua ilmu tersebut di luar kepala.

Tahap selanjutnya setelah menguasai ilmu alat adalah memahami isi kitab kuning. Pada tahap ini sistem bandongan dan sorogan beliau lakukan. Selain belajar kepada Syekh Ma’shum, para santri juga memliki kesempatan berdiskusi dengan santri lain dalam musyawarah yang membahas isi kitab kuning. Tahap terakhir adalah mempersiapkan santri me­nye­bar­kan ilmu dengan cara mengkader santri senior untuk meng­ajar santri yunior.

Kedua, Syekh Ma’shum mendorong santri-santrinya untuk melaksanakan shalat berjamaah. Shalat berjamaah sebanyak lima kali dalam sehari. Beliau meyakinkan bahwa seseorang yang rajin melanggengkan shalat berjamaah, pasti akan mendapat keberkahan dalam hidup.

Ketiga, melatih riyadhah. Selain mewajibkan santri-santrinya belajar yang tekun dan giat, Syekh Ma’shum juga mendorong mereka untuk melakukan riyadhah. Bagi beliau, belajar saja belum cukup. Seorang santri juga harus melakukan riyadhah puasa agar ilmu yang telah mereka kuasai dapat menjadi ber­kah dan manfaat.

Para santri dianjurkan untuk melakukan riyadhah puasa mulai dari Manaqib Syekh Abdul Qadir selama 40 hari, puasa Al-Qur’an selama satu tahun dan puasa Dalail al-Khairat selama tiga tahun. Selain ketiga macam puasa tersebut, Kiai Ma’shum juga menganjurkan puasa-puasa lainnya. Tak heran jika banyak santri Kiai Ma’shum yang tidak makan minum saat siang hari. Ijazah-ijazah wirid juga tak luput dari pendidikan yang diajarkan Kiai Ma’shum kepada santri-santrinya.

Keempat, menggembleng mental santri seperti mu­ja­hadah, zuhud, sabar dan qanaah. Gemblengan seperti ini biasanya disampaikan kepada santri senior dalam sebuah pengajian kitab atau di saat kesempatan sowan.

Kiprah Kiai Ma’shum

Di sela-sela perjuangan mendirikan pesantren, Kiai Ma’shum juga aktif di Nahdlatul Ulama (NU). Karena kealiman dan ketokohannya, pada sekitar tahun 1970 sampai 1980 beliau diberi amanah sebagai Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang (MWC NU) Sayung. Kemudian pada tahun 1985 beliau diberi amanah sebagai Mustasyar Pegurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Demak hingga wafat.

Ketika NU menjadi partai politik, beliau merupakan tokoh NU yang gigih dalam berjuang di tengah intimidasi dari partai penguasa. Selanjutnya saat partai NU berfusi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 5 Januari 1973, Kiai Ma’shum pun masuk ke dalam PPP. Kemudian setelah NU melaksanakan muktamar ke-27 di Situbondo dan memutuskan untuk kembali ke khittah 26, beliau lantas masuk di partai Golkar. Kiprah beliau di partai Golkar berakhir pada era reformasi dengan lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan oleh para kiai NU. Dalam kepengurusan di DPC PKB Demak, Kiai Ma’shum menjabat sebagai penasehat partai hingga wafat.

Menghadap Sang Pencipta

Senin 24 Rajab 1426 H atau 29 Agustus 2005 adalah hari terakhir Kiai Ma’shum di dunia. Ya, kiai yang menjadi kebanggaan Demak ini menghembuskan nafas terakhirnya di kediaman beliau setelah sebelumnya mengalami gangguan pernafasan. Kiai yang dikenal sebagai gudang ijazah ini meninggal dalam usia 76 tahun. Pagi hari setelah kabar duka menyebar, ribuan pelayat mendatangi komplek Pondok Pesantren Fathul Huda Karanggawang. Keluarga, alumni, para muhibbin seakan tidak rela melepas kepergian Kiai Ma’shum saat itu.

Jenazah Kiai Ma’shum dimakamkan di samping makam orang tuanya dan temannya, KH. Abdullah Rifa’i, Cebolek Pati di pemakaman umum Dusun Kuripan Desa Sidorejo.