Oleh: Moh. Rivaldi Abdul

Perjuangan para Habaib dalam menyinarkan cahaya Islam di bumi Nusantara tak perlu diragukan lagi. Sejarah mencatat berbagai nama Habaib yang melakukan perjuangan dakwah untuk menyinarkan cahaya Islam di Nusantara. Salah satu nama dari para Habaib itu adalah Habib Idrus bin Salim al-Jufri.

Habib Idrus adalah ulama karismatik yang sangat dikenal dan disegani oleh masyarakat Indonesia, khususnya Indonesia bagian tengah. Masyarakat biasa menyebut beliau dengan sebutan Guru Tua (selanjutnya penulis akan menggunakan sebutan ini), hal ini menggambarkan betapa beliau sangat disegani dan dihormati oleh masyarakat.

Namanya juga kini diabadikan sebagai nama bandara udara di Palu: Bandara Mutiara SIS (Sayid Idrus bin Salim) Al-Jufri. Penting untuk mengenal Guru Tua, ulama karismatik yang sangat disegani oleh masyarakat Indonesia, khususnya Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

Mengenal Guru Tua

Habib Idrus bin Salim al-Jufri atau biasa dikenal oleh masyarakat di Indonesia– khususnya Sulawesi Tengah–dengan sebutan penghormatan “Guru Tua”, beliau lahir di Taris, Hadramaut, Yaman pada 13 Maret, 1892 M.

Guru Tua merupakan Habaib–keturunan Nabi Muhammad saw. Adapun silsilah beliau: Habib Sayyid Idrus bin Salim bin Alwi bin Saggaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwi bin Abdullahat-Tarisi bin Alwi al-Khawasah bin Abu Bakar al-Jufri  al-Husain al-Hadramiy yang mempunyai jalur keturunan dari Sayyidan Husan bin Fatimah al-Zahra Putri Nabi Muhammad saw. Ibunya bernama Syarifah Noor al-Jufri, berasal dari Sulawesi Selatan. Jadi, Guru Tua merupakan ulama dengan darah campuran Arab Indonesia.

Sejak kecil Guru Tua sudah mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya–Habib Salim. Guru Tua sering diajak ayahnya menghadiri lingkaran majelis ilmu di Taris dan Tarim. Saat usianya baru 12 tahun, Guru Tua sudah mampu menghafal al-Qur’an dan menguraikan 200 ayat dalam hukum Islam.

Guru Tua berhasil menyelesaikan pendidikan formal di lembaga Perguruan Tinggi Ar-Rabithatul-Alawiyah di Taris. Beliau banyak belajar dari para ulama, terutama dari sahabat ayahnya. Guru-guru beliau: Habib Muhsin bin Alwi as-Segaf, Habib Ali bin Umar bin Saggaf as-Segaf, Habib Muhammad bin Ibrahim Balfagih, Habib Abdullah bin Husan bin Salleh al-Bahr, Habib Idrus bin Omar al-Habsyi,  Habib Abdullah bin Omar as-Satri, Syekh Muhammad Bakasir, Habib Ahmad bin Hamid, Habib Arif Billah Ali bin Muhammad al-Habsyi, dan Abu Bakar bin Ahmad al-Bakri.

Saat usianya 17 tahun, Guru Tua dibawa oleh ayahnya ke Indonesia, tepatnya di Kota Manado. Kedatangan beliau ini adalah untuk bertemu ibunya dan 2 saudara kandungnya–Habib Alwi dan Habib Syekh–yang telah lebih dulu datang ke Manado. Setelah itu beliau kembali ke Hadramaut, dan mulai mengajar di sekolah milik ayahnya.

Tak lama kemudian Guru Tua menikah dengan Syarifah Bahiyah. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 3 anak: Habib Salim, Habib Muhammad, dan Syarifah Raguan.

Saat usianya 25 tahun, pada tahun 1916, Guru Tua diangkat menjadi mufti dan hakim di Taris, Hadramaut, oleh Sultan Mansur. Pada masa mudanya, beliau banyak bergerak membela HAM khususnya masalah ketidak adilan, terutama penindasan yang dilakukan oleh Inggris di Hadramaut. Salah satu cara yang dilakukan Guru Tua waktu itu adalah membuat tulisan berupa makalah tentang ketidak adilan untuk disebarkan di wilayah Arab. Beliau bergerak bersama Habib Abdurrahman. Namun, gerakan mereka ketahuan Inggris saat di Pelabuhan Laut Merah. Makalah yang disusun Guru Tua pun dihancurkan oleh Inggris, dan Guru Tua dilarang untuk melakukan perjalanan di negara-negara Arab lainnya.

Guru Tua hanya dibolehkan oleh Inggris untuk melakukan perjalanan pulang ke Hadramaut atau ke Asia Tenggara. Dan beliau pun memilih untuk melakukan perjalanan kembali ke Indonesia, sementara temannya–Habib Abdurrahman–memilih kembali ke Makkah.

Perjalanan Guru Tua ke Indonesia yang kedua ini terjadi pada tahun 1922. Beliau masuk ke Indonesia melalui Pekalongan. Di Pekalongan Guru Tua memulai usaha dagang kain, dan menikah dengan Syarifah Aminah binti Thalib al-Jufri , dan dikaruniai 2 anak: Syarifah Lulu’ dan Syarifah Nikmah.

Guru Tua kemudian pindah ke Solo. Di Solo, dibantu muridnya yang sudah lebih dulu tinggal di Solo, mendirikan madrasah yang diberi nama Perguruan Arrabithah Alawiyah. Beliau menjadi Guru dan Kepala Sekolah di madrasah itu. Kemudian pada 1926, Guru Tua pindah ke Jombang. Di Jombang beliau berkenalan dengan Kiai Hasyim Asy’ari–pendiri NU. Hubungan kedua ulama ini sangat baik, mereka juga merupakan ulama dengan paham madzhab Syafiiyah.

Perjalanan Guru Tua kemudian dilanjutkan ke Indonesia Timur untuk berdakwah. Tempat Guru Tua berdakwah di Indonesia Timur antaranya, Maluku, Bacan, Jailolo, dan Morotai. Kemudian beliau pergi dakwah ke Patani, Weda, dan Kayoa. Kemudian melanjutkan perjalanan dakwahnya ke Indonesia Tengah–Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Lanjut ke Kalimantan, setelah itu ke Irian Barat. Tak lama kemudian, Guru Tua berangkat lagi ke Manado, Sulawesi Utara, atas panggilan kakaknya–Habib Alwi–yang ada di Manado.

Pada 1929, Guru Tua kemudian ke Wani, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Hadirnya Guru Tua di Wani, merupakan bagian dari keinginan masyarakat yang ingin lebih mengenal Islam. beliau kemudian mendirikan madrasah yang diberi nama al-Hidayah. Madrasah ini ditutup oleh Belanda saat pecah perang di Toli-toli, sebab Belanda khawatir madrasah al-Hidayah akan mempengaruhi masyarakat setempat.

Kemudian, pada 1930, Guru Tua pun kembali mendirikan madrasah baru dengan menggunakan ruangan toko Haji Quraisy di Desa Ujuna. Madrasah ini kemudian diberi nama al-Khairat, dan berkembang menjadi pesantren besar hingga sekarang.

Di Palu, pada 1931, Guru Tua menikah dengan Ince Ami Dg. Sute, dari pernikahan ini beliau dikaruniai 2 anak: Syarifah Sidah dan Syarifah Sa’diyah. Ince Ami merupakan istri Guru Tua yang sangat besar jasanya dalam pengembangan al-Khairaat pusat.

Al-Khairaat sempat ditutup oleh Jepang, saat Sulawesi diduduki Jepang. Walau al-Khairaat ditutup Jepang, namun semangat Guru Tua dalam mengajar tak padam. Beliau pun mengajar secara bawah tanah (diam-diam) pada malam hari di Desa Bayoge. Setiap santri datang secara bergantian dan diam-diam. Pengajaran bawah tanah ini berlangsung selama 3 tahun. Hingga saat Indonesia merdeka pada 1945, al-Khairaat pun kembali dibuka oleh Guru Tua. Dan al-Khairaat pun terus berkembang menjadi pesantren besar di wilayah Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

Dalam perjalanan Guru Tua mengembangkan al-Khairaat, saat di Ampana beliau menikah dengan Syarifah Haolah binti Husain al-Habsyi.

Pada tahun 1968, Guru Tua mulai mengalami sakit parah, dan meninggal pada senin, 22 Desember, 1969 M. Beliau dimakamkan di belakang masjid Pesantren al-Khairaat Pusat, Palu, Jln. SIS Al-Jufri. Makam Guru Tua selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah, dan setiap tahunnya selalu diadakan haul Guru Tua.

Karya Guru Tua

Guru Tua pernah menyusun tulisan dalam bentuk makalah. Namun, dihancurkan oleh Inggris. Sehingga tak ada satu pun karya berupa tulisan yang ditinggalkan Guru Tua, yang bisa kita lihat sekarang. Banyak kalangan pernah bertanya pada Guru Tua tentang karyanya, dan beliau hanya menjawab, “Saya tidak menulis dalam kertas tetapi menulis (mencetak) manusia.” Jadi, kalau ditanya, apa karya yang ditinggal Guru Tua? Adalah Pondok Pesantren al-Khairaat yang hingga sekarang terus mencetak manusia-manusia yang takwa pada Tuhan yang Maha Esa.

Pondok Pesantren al-Khairaat adalah pesantren besar di Palu, yang cabangnya tersebar luas di wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Pesantren ini didirikan pada 1930 M oleh Guru Tua di Palu, Sulawesi Tengah.

Kondisi masyarakat Palu yang awalnya kurang memadai dari aspek keagamaan, budaya, dan pendidikan. Dan masih banyak dipengaruhi kepercayaan tradisional dan didominasi oleh Hindia-Belanda, sehingga ajaran Islam belum dipahami secara memadai oleh masyarakat. Membuat hadirnya Al-Khairaat menjadi media pendidikan Islam yang memiliki kiprah penting bagi masyarakat Palu.

Sekarang Al-Khairaat menjadi pesantren besar dengan banyak cabang yang tersebar luas, khususnya di wilayah Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. Lembaga Pendidikan al-Khairaat memiliki jenjang pendidikan dari tingkat PAUD hingga tingkat Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi al-Khairaat berada di Palu, dengan nama Universitas Alkhairaat Palu (UNISA Palu).

Sedikit Perenungan

Berkembang pesatnya al-Khairaat hingga sekarang, menjadi karya dan sekaligus bukti perjuangan dakwah Guru Tua dalam menyebarkan cahaya Islam. Perjuangan dakwah Guru Tua yang tanpa kenal lelah melakukan perjalanan panjang dari Hadramaut hingga di berbagai daerah-daerah Indonesia, dan berakhir di Palu, bisa menjadi pelajaran bagi umat Islam bahwa bagaimana dalam perjuangan dakwah tak kenal kata lelah apalagi menyerah. Hingga kini, Guru Tua dikenang sebagai Habaib yang menyinarkan cahaya Islam di Indonesia–khususnya Indonesia Tengah.

 

Daftar Pustaka:

Dede B, Zubair, Arif S, Karya Ulama di Lembaga Pendidikan Keagamaan di Sulawesi Tengah, Al-Turas Vol. XX, No. 1, Januari 2014.

Skripsi, M. Khaidir Rusdan, 2017, Kontribusi Habib Idrus bin Salim Al-Jufri Terhadap Pengembangan Pendidkan Islam di Palu 1930-1945 M, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Nur Solikhin, 2014, Para Habib Terkemuka Indonesia, cet. Ke-1, Yokyakarta: Saufa.

Alkhairaat.sch.id/sejarah-alkhairaat/

Alkhairaat.sch.id/sejarah-habib-idrus-bin-salim-aljufri-guru-tua/