Oleh: Moh. Rivaldi Abdul

Ingin rasanya berkata, kalau Nusantara adalah tanah yang amat diberkahi untuk umat Nabi Muhammad s.a.w. Perkataan yang tak berlebihan, sebab kalau berkah tanah Arab sebagai tanah kelahiran nabi-nabi. Maka berkah tanah Nusantara, dipilih oleh Allah s.w.t sebagai salah satu tanah kelahiran ulama-ulama. Satu dari banyaknya ulama yang lahir di Nusantara adalah Syekh Mahfudz at-Tarmasi.

Syekh Mahfudz at-Tarmasi merupakan ulama Nusantara yang sangat mumpuni dalam berbagai bidang keilmuan Islam. Sebagai ulama yang mengajar kitab Bukhari di Masjidil Haram, Makkah, tentu kapasitas keilmuan hadis beliau tak perlu diragukan lagi.

Tak hanya mempunyai kapasitas keilmuan hadis yang mumpuni, at-Tarmasi bahkan punya sanad hadis sampai pada Imam Bukhari. Untuk melihat sanad hadis beliau, kita bisa melihat dari sanad hadis muridnya, yaitu Kiai Hasyim Asy’ari: 1) KH. Hasyim Asy’ari, 2) Dari Syekh Mahfudz at-Tarmasi. 3) Dari Syekh Muhammad Abu Bakar Syatha al-Makki, 4) Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, 5) Dari Syekh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, 6) Dari Syekh Muhammad bin Ali asy-Syinwani, 7) Dari Syekh Isa bin Ahmad al-Barawi, 8) Dari Syekh Muhammad ad-Dafri, 9) Dari Syekh Salim bin Abdillah al-Bashri, 10) Dari ayahnya: Abdillah bin Salin al-Bashri, 11) Dari Syekh Muhammad bin Alaudin al-Babili, 12) Dari Syekh Salim bin Muhammad ash-Shansuri, 13) Dari Najm Muhammad bin Ahmad al-Ghayto, 14) Dari Syekh al-Islam Zakariyah bin Muhammad al-Anshari, 15) Dari al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, 16) Dari Ibrahim bin Ahmad at-Tanukhi, 17) Dari Abil Abbas Ahmad bin Thalib al-Hajar, 18) Dari Husain bin Mubarak az-Zabidi al-Hambali, 19) Dari Abil Waqt Abdil Awwal bin Isa as-Sijzi, 20) Dari Abil Hasan Abdul Rahman bin Mudzaffar bin Dawud ad-Dawudi, 21) Dari Abi Muhammad Abdullah bin Ahmad as-Srakhsi, 22) Dari Abi Abdillah Muhammad bin Yusuf Mathar al-Firabri, 23) al-Imam al-Hafid al-Hujjah Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim al-Bukhari (Imam Bukhari).

Syekh Mahfuzd at-Tarmasi lahir di Nusantara, tepatnya di Tremas, Ajosari, Pacitan, Jawa Timur. Nama lengkapnya adalah Muhammad Mahfuzd bin Abdillah bin Abdul Manan at-Tarmasi al-Jawi. Nisbat at-Tarmasi pada nama beliau, merupakan penisbatan pada tempat kelahirannya di Tremas.

Sebagai anak yang lahir dalam lingkungan Pesantren Tremas, Syekh Mahfuzd at-Tarmasi tumbuh akrab dengan nuansa ilmu-ilmu Islam. Saat usianya baru 6 tahun, ayahnya–Kiai Abdullah–membawa beliau ke Makkah. Sehingga tak mengherankan jika at-Tarmasi tumbuh sebagai sosok muslim yang punya semangat belajar yang berapi-api, sebab semangat belajar beliau telah dinyalakan oleh keluarganya sejak masih kecil.

Sekembalinya at-Tarmasi pada perjalanan pertama ke Makkah, ayahnya memasukkan at-Tarmasi ke pesantren Kiai Shaleh Darat. Pesantren Shaleh Darat merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang ditempuh oleh at-Tarmasi. Selesai belajar di Pesantren Shaleh Darat, at-Tarmasi kemudian melanjutkan pendidikan ke Makkah, mengikuti jejak ayahnya dan gurunya–Kiai Shaleh. Ini merupakan perjalanan kedua at-Tarmasi ke Makkah.

Di Makkah at-Tarmasi mempelajari banyak disiplin ilmu agama, termasuk ilmu hadis yang menjadi bidang keahliannya. At-Tarmasi mempelajari ilmu agama di berbagai lembaga pembelajaran, mulai dari halaqah, ribath–semacam pondokan–dan juga kuttab–berupa madrasah kecil yang diselenggarakan di rumah-rumah pengajar. Hal ini menggambarkan betapa at-Tarmasi adalah seorang pemburu ilmu yang berburu ilmu dengan sungguh-sungguh.

Dengan nyala semangat belajar yang membara, Syekh Mahfudz at-Tarmasi menjadi ulama yang menguasai berbagai bidang keilmuan Islam. Beliau pun merupakan sosok ulama yang produktif dalam menulis. Satu dari banyak karya beliau adalah kitab Al-Minhah al-Khairiyyah fi Arbain Haditsan min Ahadits Khair al-Bariyah. Karya at-Tarmasi ini dikenal dengan Kitab Hadis Arba’in at-Tarmasi.

Muhajirin dalam jurnalnya yang berjudul, “At-Tarmasi: Icon Baru Hadits Arba’in di Indonesia,” menjelaskan cara Syekh Mahfudz at-Tarmasi menyusun Arba’in at-Tarmasi, adalah dengan metode menghimpun hadis-hadis dalam kutub as-Sittah. Beliau mengambil hadis pertama dan terakhir dalam setiap kitab. Dan cara ini belum pernah dilakukan oleh para ahli hadis sebelumnya dalam menyusun hadis Arba’in. At-Tarmasi juga mengutip kitab al-Muwathak Imam Malik.

Sebagaimana yang kita tahu bahwa kitab hadis Arba’in yang paling populer di masyarakat muslim Nusantara adalah hadis Arba’in an-Nawawi. Ada beberapa perbedaan antara hadis Arba’in at-Tarmasi dan hadis Arba’in an-Nawawi. Salah satu perbedaannya adalah, jika Arba’in an-Nawawi dimulai dengan hadis niat, untuk Arba’in at-Tarmasi dimulai dengan hadis kasih sayang.

Sehingga dalam Arba’in at-Tarmasi nilai kasih sayang menjadi hal yang amat penting. Hal ini memberikan spirit untuk masyarakat Nusantara, agar senantiasa menerapkan sikap kasih sayang dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih dalam susunan masyarakat Nusantara yang amat heterogen (beragam: agama, suku, golongan).

Sebagai ahli hadis Nusantara, at-Tarmasi memiliki banyak karya-karya baik dalam ilmu hadis, maupun ilmu-ilmu Islam lainnya. Dan Al-Minhah al-Khairiyyah fi Arbain Haditsan min Ahadits Khair al-Bariyah atau Arba’in at-Tarmasi, adalah salah satu karya beliau yang terkenal.

Perenungan atas spirit hadis dari at-Tarmasi, membawa pada kesadaran untuk memahami Islam secara menyeluruh. Bukan hanya memahami Islam dari satu sumber yaitu al-Qur’an, namun juga menggunakan Hadis sebagai sumber mata air Islam. Spirit ini penting, sebab dalam konteks kekinian, banyak pihak yang hanya memahami Islam dari al-Qur’an secara datar, tanpa melengkapinya dengan pemahaman hadis terkait yang melingkupi. Sehingga mengenal berbagai ulama hadis Nusantara (termasuk karya mereka) adalah penting. Dalam hal ini kita sudah sedikit kenalan dengan Syekh Mahfudz at-Tarmasi sebagai Arba’in-nya Nusantara.