Oleh: Ni’amul Qohar

Tepat di desa saya tradisi membaca shalawat ba’da adzan masih terawat dengan baik sampai sekarang. Meskipun dalam struktural para warganya tidak masuk dalam jajaran pengurus NU (ORMAS yang terkenal merawat tradisi keagamaan peninggalan Walisongo). Tetapi tidak diragukan lagi bahwa di sana 100% warganya merawat tradisi, seperti tahlilan, ziarah kubur, manakiban, sedekah bumi, membaca shalawat habis adzan dan lain sebagainya dengan sangat baik.

Lambat laun setelah saya meninggalkan desa ini untuk mencari ilmu dan pengalaman di suatu tempat yang baru. Membuat saya  menemukan beberapa aliran yang enggan merawat tradisi seperti yang disebutkan di atas. Aliran yang saya dapati di sini salah satunya yaitu Wahabi. Pernah suatu kejadian, dengan kedua mata saya sendiri mengetahui bagaimana aliran ini sangat melarang bacaan shalawat setelah adzan. Mereka mengatakan jika dulu pemimpinnya Muhammad ibn Abdul Wahab sangat melarang bahkan sampai mengaharamkan pembacaan shalawat ba’da adzan dengan suara yang keras. Bahkan kata mereka orang yang membaca shalawat sehabis adzan boleh dibunuh, sebagaimana dulu pemimpinnya  yangmenyuruh salah satu muridnya untuk membunuh muadzdzin yang membaca shalawat sehabis adzan.

Peristiwa pelarangan tersebut selain yang saya alami ini, pernah juga terjadi di masjid Jami’ Ad-Daqqaq di Syam. Seorang Wahabi yang mendengar bacaan shalawat muadzdzin “Ash-Shalatu was-Salamu ‘alayka ya Rasulullah” setelah mengumandang adzan, dengan lantang ia mengatakan “Ini haram, sama halnya dengan orang yang menikahi ibunya”. Kejadian ini terjadi kurang lebih 40 tahun yang lalu.

***

Waktu itu saya hanya bisa diam mendengar ucapan kaum Wahabi. Karena minimnya pengatahuan yang saya dapatkan tentang permasalahan tersebut. Kebiasaan saya di desa hanya melanggengkan tradisi, bukan mencari sumber kebenarannya atau alasannya kepada membaca shalawat setalah adzan. Hikmah dari kejadian tersebut membuat saya semakin tekun untuk belajar tentang berbagai hal yang terjadi di lingkungan pedesaan.

Ditemukannya dua hadist shokhih tentang diperbolehkannya membaca shalawat setelah adzan. Pertama, hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda; “Jika kalian mendengar suara adzan maka ucapkanlah sebagaimana diucapannya muadzdzin dan bersholawatlah untukku”. Hadits yang ke-dua diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Ya’la dalam musnadnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda; “Barang siapa mendengar namaku disebutkan maka bershalawatlah kepadaku”, dalam riwayat lain disebutkan “Barang siapa mendengar namaku disebutkan di sisinya maka bacalah shalawat atasku”. Hadist di atas memiliki sanad yang kuat dan tidak diperselisihkan lagi keshahihannya.

Lantas jika ditanya di situ kan tidak ada anjuran untuk mengeraskan suara, kenapa pembacan shalawat setelah adzan harus dikeraskan?. Jika ada pertanyaan seperti itu cukuplah dijawab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah melarang ummatnya untuk bershalawat kepadanya kecuali dengan suara yang pelan. Artinya dengan suara keras pun tidak menjadi masalah dan tidak menimbulkan dosa (haram). Di zaman Rasulullah shalallahu ‘alahi wassalam memang tidak ada tradisi atau ajaran seperti ini. Maka kejadian ini bisa dianggap sebagai bid’ah. Tetapi kita tidak semena-mena mengatakan bahwa ini haram, kafir, harus dibunuh dan lain sebagaimana. Kita harus mengikuti para Imam Mujtahid yang tidak perlu diragukan lagi kualitas keilmuannya. Lagian tidak semua bid’ah itu menyesatkan dan menjerumuskan pada api neraka. Para ulama sudah memberikan hasil ijtihadnya mengenai permasalahan bid’ah.

Ulama-ulama hadist dan fiqih sudah menyepakati jika shalawat setelah adzan masuk dalam kategori bid’ah khasanah, yaitu suatu hal baru dalam ajaran Islam yang baik untuk dilaksanakan. Di antara ulama yang menganggapnya bid’ah hasanah yaitu al-Hafizh as-Sakhawi dalam kitabnya Al-Badi yang mengatakan; “Para Mu’adzdzin telah melakukan hal baru dengan membaca shalawat atas Rasulullah setelah adzan pada setiap masuk shalat fardhu, kecuali pada waktu subuh dan jum’at, hanya saja mereka mendahulukan bacaan shalawatnya dan waktu maghrib mereka tidak membacanya karena waktunya yang singkat. Hal ini terjadi pertama kali ketika masa kepemimpinannya Raja Shalahuddin al-Ayyubi dan beliau sendiri yang memirintahkan hal tersebut”. Kemudian beliau menambahi “Masalah ini menjadi perdebatan di kalangan ulama, apakah hukumnya sunnah, makruh, bid’ah atau disyari’atkan?. Pendapat yang mengatakan pembacaan shalawat setelah adzan adalah sunah merujuk pada firman Allah subhanallah wa ta’ala dalam Surah al-Hajj, Ayat 77 yang artinya “Berbuatlah kalian akan kebaikan”. Dan membaca shalawat adalah di antara kebaikan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah apalagi banyak hadits yang memberikan motifasi untuk bershalawat juga hadist yang menyebutkan keutamaan doa setelah adzan, sepertiga malam dan waktu yang mendekati shubuh. Dan pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bid’ah hasanah, pelakunya akan mendapatkan pahala dengan ketulusan niat”.

As-Suyuthi dalam al-Wasa’il fi Musamarah al Awa’il berkata : “Membaca shalawat dan salam atas Rasulullah setiap setelah adzan terjadi pertama kali di al Manarah pada masa raja al Manshur Haji ibn al Asyraf Sya’ban ibn Husain ibn an Nashir Muhammad ibn al Manshur Qalawuun atas perintah al Muhtasib Najmuddin ath-Thambadi pada bulan Sya’ban tahun 771 H. Setelah sebelumnya juga dikumandangkan pada masa raja Shalahuddin al Ayyubi pada setiap malam sebelum adzan shubuh di negara Mesir dan Syam dengan lafazh “as-Salamu ‘ala Rasulillah”. Hal itu berlanjut sampai pada tahun 767 kemudian bacaannya di tambah 28 atas perintah al Muhtasib Shalahuddin al Barlasi menjadi: “AshShalatu wa as-Salamu ‘alayka ya Rasulullah” kemudian bacaan shalawat ini dikumandangkan pada setiap setelah adzan pada tahun 771 H.”

Kini saya sudah mengetahui hukum membaca shalawat sehabis mengumandangkan adzan. Sebuah landasan hukum yang sangat diperlukan oleh para santri sebagai landasan. Masih ada banyak lagi tradisi-tradisi di pedesan yang perlu dibongkar satu persatu mengenai landasan hukumnya.

Wallahu’alam bishowab

 

Sumber Rujukan

Kholil Abou Fateh, “Masa-il  Diniyyah”, Kompilasi Ebook, 2011.