Oleh: Syfana Amalena

Biografi

Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, identitas lengkap dan nasabnya adalah a-Allamah al-Faqih al-Musnid Muhammad Yasin bin Muhammad Isa bin Udiq al-Fadani al-Andunusi al-Makki al-Shafi’i. Sebagian pendapat menyatakan nama kakeknya adalah Udid bukan Udiq, namun dalam menulis muqaddimah kitab al-Wafi bi Dhayl Tadhkar al-Masafi Syekh Yasin menggunakan nama Udiq. Sementara al-Fadani merujuk pada salah satu nama tempat di bagian Barat Pulau Sumatra, Padang.

Yasin al-Fadani merupakan ulama keturunan Padang, Sumatra Barat yang lahir dan dibesarkan di Makkah. Beliau dilahirkan pada tahun 1335 H/17 Juni 1915 M dan wafat pada tahun 1410 H/20 Juli 1990 M. Muhammad Yasin terlahir dari keluarga Muslim yang religius dan sangat menjaga kuat tradisi keilmuan. Ayahnya yang bernama Muhammad Isa merupakan ulama besar dalam bidang ilmu hadits.

Pendidikan awal Muhammad Yasin diperoleh dari kedua orang tuanya. Sejak kecil beliau sudah mempelajari al-Quran di bawah pengawasan ibunya sendiri dan khatam menghafal ketika berusia 8 tahun. Setelah itu, Muhammad Yasin meneruskan menimba ilmu dengan berguru kepada Syekh Mahmud al-Fadani. Pada tahun 1346 H masuk di Madrasah ash-Shaulatiyah. Selama menimba ilmu di madrasah tersebut kecerdasan dan keilmuan Muhammad Yasin memancar sangat menakjubkan, sehingga memesona guru-guru beliau dan membuat Muhammad Yasin menjadi murid kesayangan. Kemudian Muhammad Yasin pindah ke madrasah dar al-Ulum ad-Diniyyah dan menamatkan pendidikannya pada tahun 1353 H.

Selain pendidikan formal, Muhammad Yasin juga banyak berguru dan menimba ilmu kepada ulama-ulama besar di Timur Tengah, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam disiplin ilmu hadits Muhamad Yasin berguru pada Syekh Umar Hamdan, Syekh Muhammad Ali bin Husayn al-Maliki, Syekh Umar Bajunaid (mufti Syafi’iyyah, Makkah), Syekh Said bin Muhammad al-Yamani, dan Syekh Hassan al-Yamani. Dalam disiplin ilmu ushul fiqih Muhammad Yasin berguru pada Syekh Muhsin ibn Ali al-Falimbani al-Makki (ulama keturunan Palembang yang menetap di Makkah), Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki al-Makki, dan banyak ulama besar lainnya. Guru Muhammad Yasin diperkirakan kurang lebih berjumlah 70 orang.

Muhammad Yasin menaruh kecintaan yang luar biasa dalam hal mncari ilmu. Beliau juga berguru kepada Syekh yang datang ke Makkah dari segala penjuru dunia Islam. Dalam setiap kesempatan selalu dimanfaatkan oleh Muhammad Yasin untuk menimba ilmu. Cara yang digunakan oleh Muhammad Yasin dalam mencari ilmu adalah: pertama, belajar di Madrasah formal; kedua, belajar pada ulama-ulama yang membuka halaqah di Masjidil Haram ataupun kuttab di rumahnya; ketiga, belajar dari Syekh dari penjuru dunia yang dapat ke Makkah ketika melaksanakan ibadah Haji maupun menghadiri acara lain; keempat, Belajar dengan menggunakan media surat menyurat kepada Syekh yang berada jauh dari Makkah.

Seperti yang diketahui bahwa masyarakat Arab terbiasa dengan penjenamaan dan gelar bahkan mayoritas lebih dikenal dibandingkan nama aslinya. Syekh Muhammad Yasin sendiri memiliki dua penjenamaan yaitu abu Muhammad dan abu al-Fayd, sedangkan gelarnya adalah Alam al-Din atau Ala u al-Din yang artinya tokoh agama.

Syekh Muhammad Yasin banyak menulis karya-karya hadits dan aktif sebagai pengajar di Masjidil Haram dan Dar al-Ulum ad-Diniyah. Beliau lebih dikenal sebagai ulama ahli hadits. Setiap bulan Ramadhan selalu membaca dan mengijazahkan salah satu Kutub al-Sittah (6 kitab ulama ahli Hadits). Kegiatan tersebut terus-menerus dilakukan dan berlangsung hingga kurang lebih lima belas tahun.

Muhammad Yasin dengan segala keilmuan dan akhlak yang dimilikinya kemudian dikenal sebagai orang alim dan disegani masyarakat hingga dijuluki allamah. Selain itu, beliau juga termasuk satu dari dua muhaddits (ahli hadits) termasyhur pada abad ke-14 H sampai abad ke-15 H dan termasuk salah satu ulama Jawi yang mengajar di Masjidil Haram.

Pada tahun 1384-1410 H Muhammad Yasin dipercaya sebagai Kepala Madrasah Dar al-Ulum ad-Diniyyah. Beliau juga merintis sekolah perempuan (Madrasah Banat) yaitu Madrasah Ibtidaiyah Putri di Syamiyyak, Makkah pada bulan Rabiul Awwal tahun 1362 H. Madrasah Banat menjadi sekolah perempuan pertama di Makkah, bahkan di kerajaan Saudi Arabia. Kemudian pada tahun 1347 H didirikan Ma’had Mu’allimat. Madrasah Banat terus mengalami perkembangan dari masa ke masa dan mencetak alumni-alumni yang kompeten.

Semasa hidupnya, banyak jamaah haji Indonesia yang selalu menyempatkan berkunjung ke Madrasah yang dikepalai oleh Syekh Muhammad Yasin. Beliau juga sangat menjaga dan memelihara silaturrahim dengan Kiai-Kiai di Indonesia. Bahkan sering kali menuliskan biografi Kiai Indonesia. Syekh Muhammad Yasin juga turut serta menghadiri muktamar NU ke-26 yang berlangsung di Semarang pada tahun 1979 M. Kesempatan yang baik itupun dimanfaatkan oleh Syekh Muhammad Yasin untuk mengunjungi sejumlah Pesantren di Jawa Tengah.

Di mata Muslim Indonesia, utamanya kalangan Kiai dan Santri, Syekh Muhammad Yasin dianggap sebagai ‘benteng’ doktrin Ahlussunnah Wal Jama’ah di tanah Haramayn karena berhadapan dengan kampanye agresif paham Wahabi yang disokong oleh pemerintahan Arab Saudi.

Karya dan Pemikiran

Syekh Muhammad Yasin selain gemar belajar juga gemar menulis. Banyak karya-karya yang sudah beliau torehkan, baik dalam bidang hadits, fiqih, ushul fiqih, manthiq, maupun bahasa Arab. Jumlah karya yang sudah beliau hasilkan mencapai 97 kitab. Diantara semua karyanya yang paling masyhur adalah kitab al-Arba’un al-Haditsun.

Syekh Muhammad yasin al-Fadani tidak hanya berpengetahuan luas yang dibuktikan dengan karyanya. Tetapi juga telah banyak mengkhidmahkan dirinya dalam mengkaji dan menulis hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, menelusuri sanad-sanadnya, kemudian meriwayatkannya secara musnad hingga sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam melalui para perawi yang telah meriwayatkan hadits-hadits dalam kitab mereka.

Syekh Muhammad Yasin juga dikenal sebagai salah satu pembaharu Islam. Hal ini bisa dilihat dari kontribusi beliau dalam penulisan kitab-kitab hadits maupun non-hadits serta keterlibatan beliau dalam institusi-institusi keagamaan dan pendidikan. Syekh Muhammad Yasin berhasil mencapai posisi yang mulia di kalangan ulama Jawi maupun ulama Haramayn.

Memang, Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani sejak kecil tinggal dan menetap di Makkah, namun beliau tetap menyumbangkan tradisi keilmuan yang besar dalam kajian keilmuan di Indonesia. Hampir seluruh ulama Indonesia pada masa itu memiliki jalur sanad dengan Syekh Yasin.