Tumenggung Pratiktoningrat atau yang lebih dikenal dengan Pangeran Sedo ing Laut Rembang (Pangeran Sedo Laut di Rembang) merupakan Adipati Rembang pertama kali. Ia diangkat menjadi adipati pasca menyerahnya Tumenggung Sosrodilogo yang merupakan panglima perang Pangeran Diponegoro yang dipasrahi untuk melawan kompeni di kawasan pantura Rembang dan sekitarnya. Tumenggung Sosrodilogo berjuang bersama dengan Kiai Shihhah (leluhur kiai-kiai Jombang, asal Lasem), Kiai Saman ibn Yaman (Sarang), Kiai Lanah (yang menurunkan kiai-kiai Sarang), Kiai Hamzah, Kiai Mursodo, dan lain-lain.

Karena banyaknya pembesar Pangeran Diponegoro yang disandera dan dilucuti kekuatannya oleh kompeni, terlebih kekuatan utamanya, yaitu Kiai Mojo dan Sentot Aly Basya telah ditangkap, maka hal tersebut merembet ke beberapa panglima yang lain, termasuk Tumenggung Sosrodilogo yang ditangkap kompeni pada 3 Oktober 1828 M. Ia kemudian diasingkan entah kemana, sehingga sejarah tidak dapat mendeteksi keberadaan akhir hayatnya.

Semenjak Tumenggung Sosrodilogo dipecat sebagai Adipati Lasem (Rembang), kompeni memilih R. Tumenggung Pratiktoningrat sebagai gantinya. Lasem yang dahulunya merupakan kadipaten yang membawahi wilayah Rembang sudah dihapus kompeni, digantikan menjadi Kadipaten Rembang (hingga saat ini). Ia memegang jabatan Adipati Rembang tidaklah lama, hanya berlangsung selama tiga tahun 1828-1831 M, sebab ajal yang mendahuluinya.

Tumenggung Pratiktoningrat dikenal dengan nama Pangeran Sedo ing Laut Rembang sebab ia meninggal di pesisir pantai Rembang. Ia dimakamkan di belakang Masjid Agung Rembang. Selain dirinya, terdapat juga makam pembesar Rembang seperti sang istri, juga ada makam Adipati Condrodiningrat beserta sang istri.

Rembang dahulunya adalah masuk wilayah bagian Kadipaten Lasem yang merupakan kerajaan vassal Majapahit pada zaman Raja Hayam Wuruk. Lasem dirajai oleh Dewi Indu dan keturunannya dengan pusat pemerintahan di Lasem (Bonang Binangun, Cologawen, dan Soditan), kemudian dipindah ke Magersari (Rembang, 1750 M) oleh kompeni, lalu dipindah lagi ke Lasem, hingga akhirnya dipindah ke Rembang lagi pada masa R. Tumenggung Pratiktoningrat.

Selain keturunan Dewi Indu, ada juga trah lain yang mengisi jabatan Adipati Lasem seperti Kiai Ambyah (Tumenggung Puspayuda), Tumenggung Widyaningrat, Suroadimenggolo III, Kiai Adipati Hario Yudanegara dan Raden Saleh Ario Notodiningrat. Antara Tumenggung Widyaningrat  hingga R. Tumenggung Pratiktoningrat, apakah trah Dewi Indu ada yang menjadi adipati  (bupati) di Kadipaten Rembang? penulis belum menemukan data tersebut. Penulis berharap Pemerintah setempat berkenan mengadakan penelusuran untuk mengetahui rekam jejak para adipati tersebut, sehingga akan menghilangkan ganjalan kemusykilan yang selama ini menyelimuti banyak sejarawan, pemerhati sejarah Kadipaten Rembang, khususnya masyarakat Rembang yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kebangkitan Rembang.(A3)

 

Yogyakarta. 22 Juli 2019

Amirul Ulum

(Khadim Ulama Nusantara Center/ UNC)