Oleh: Ni’amul Qohar

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 30, yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Menurut Imam Ibnu Jarir At-Thabari, seorang pakar tafsir di zaman tabi’i at-tabi’in, di dalam kitabnya yang berjudul Jami’ al Bayan Fi Tafsir Al-Qur’an, mengatakan khalifah adalah seseorang yang datang untuk menggantikan kedudukan yang sebelumnya sudah ditempati orang lain. Terdapat cerita sebelum nabi Adam AS diciptakan lalu diturunkan ke muka bumi. Bumi ini sudah dihuni oleh Banul Jan terlebih dahulu yang memiliki sifat saling membunuh.

Masih menurut At-Thabari yang mengatakan bahwa khalifah memiliki tiga makna. Pertama, orang yang menggantikan kedudukan orang sebelumnya. Kedua, khalifah (pengganti/wakil) Allah SWT untuk mengatur bumi. Ketiga, suatu generasi menggantikan generasi lain yang lebih dahulu menghuni bumi. Dapat disimpulkan bahwa inti dari khalifah sendiri adalah pengganti. Bisa ditafsirkan pengganti makhluk sebelumnya atau pengganti (wakil) Tuhan untuk mengurus bumi.

Pendapat ini didukung oleh Rasyid Ridha, bahwa khalifah adalah pengganti makhluk sebelumnya. Maka, nabi Adam AS bukan jenis hewan berakal yang pertama kali ada bumi. Tapi merupakan kelompok baru yang menggantikan mereka. Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan dalam teori evolusi, bahwa seluruh makhluk hidup berasal dari satu nenek moyang atau berubah secara bertahap akibat seleksi alam pada satu spesies.

Charles Darwin (1890-1882) yang terkenal dengan teori evolusinya juga mengatakan bahwa makhluk hidup (manusia) yang ada saat ini merupakan hasil evolusi seleksi alam yang berasal dari masa silam. Teori tersebut telah dibantah oleh Harun Yahya, seorang pemikir muslim dari Turki di abad-21 ini. Beliau mengatakan bahwa seleksi alam hanya akan mengakibatkan kerugian-kerugian dalam mekanisme individu-individu yang lemah. Mekanisme seleksi alam tidak mampu menghasilkan spesies yang baru, informasi genetik baru dan organ baru yang menguntungkan. Maka diciptakan nabi Adam AS bukanlah dari hasil evolusi mahkluk sebelumnya. Tetapi lebih menggantikan makhluk sebelumnya yang sudah ada di bumi. Nabi Adam AS adalah generasi homo sapiens yang memiliki potensi akal di atas rata-rata makhluk hidup terdahulu. Sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 31 yang artinya “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”.

Menurut M. Quraish Shihab maksud ayat di atas adalah Allah SWT telah mengajarkan kepada nabi Adam AS tentang nama-nama benda beserta fungsinya. Ditambah lagi dengan diberikannya kemampuan untuk bisa menyebutkan nama-nama benda tersebut melalui ilmu bahasa.

Kemampuan nabi Adam AS ini bisa disebut sebagai pembuat abstraksi dalam dunia particular. Berbeda dengan kemampuan yang dimiliki oleh makhluk hidup sebelum nabi Adam AS, yang hanya memiliki kemampuan berdasarkan pengalaman. Seperti pengalaman menggunakan batu, api dan ranting pohon sesuai fungsinya tanpa mengetahui namanya (dalam aspek bahasa). Dalam sejarah filsafat epistimologi kemampuan membuat abstraksi atau menyusun teori berada di atas kemampuan menceritakan pengalaman. Seperti kata Aristoteles bahwa tingkat pengalaman itu berada di bawah tingkat pengetahuan.

Jadi,  penciptakaan nabi Adam AS di muka bumi ini sebagai pengganti makhluk hidup yang sudah lama berada di sana. Mereka melakukan kerusakan di bumi dengan cara saling membunuh. Hal ini membuat para Malaikat merasa khawatir jika ciptakannya nabi Adam AS sebagai khalifah akan menambah kerusakan di bumi. Tetapi keresahan para Malaikat telah dijawab oleh Allah SWT dengan tegas, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S Al-Baqarah (2); 30)

 

Wallahu’alam Bishowab

 

Sumber rujukan

Abdullah Khozin Afandi. “Ilmu dan Iman dalam Wawasan Al-Qur’an”. Disertasi. Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga. 1997.

Mohammad Khadafi. “Kritik dan Pandangan Harun Yahya Terhadap Teori Evolusi Manusia (Evolusionisme)”. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. 2008.

Fitri Ramdhani. “Konsep Evaluasi Pendidikan Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 31-34 dan Az-Zalzalah Ayat 7-8”. Tesis. Universitas Islam Negeri Sumatra Utara. 2018.