Oleh: Fakhrul Fauzi

Peran ulama dalam kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Ulama bahkan rela mengorbankan harta, tenaga serta jiwa mereka dalam berjuang dan mempertahankan kemerdekaan. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka menjadi  lini terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sehingga, tak sedikit pula di antara mereka yang gugur sebagai seorang syuhada.

Tak terhitung jumlah ulama sebagai pahlawan. Banyak dari para ulama menjadi tokoh sentral baik dalam kepemimpinan laskar militer ataupun sebagai penggerak santri atau masyarakat untuk ikut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Hal ini diakui oleh Thomas S. Raffles, seorang Letnan Guberner EIC (1811-
1816), ”Karena mereka (ulama) begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk membujuk rakyat agar melawan. Dan mereka menjadi alat yang paling berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan pemerintahan kolonial”. Ulama membentuk laskar-laskar rakyat untuk mendapat pelatihan militer dan memanggul senjata dengan metode baru. Maka terbentuklah laskar-laskar rakyat seperti Hizbullah, Sabilillah, Mujahidin, dan laskar lainnya yang memainkan peran penting dalam perang kemerdekaan Indonesia.

Kegigihan para ulama tentu tak lepas dari konsep jihad yang mereka pegang. Bagi mereka, penjajah adalah kedzaliman yang telah merampas kedaulatan umat Islam serta ingin menghancurkan agama Islam. Jadi memerangi penjajah termasuk jihad dan wajib bagi kaum muslimin untuk melaksanakannya. Fatwa jihad ini berpengaruh besar terhadap perjuangan melawan penjajah. Hampir semua pertempuran melawan penjajah dipengaruhi oleh fatwa jihad, seperti pertempuran  10 November 1945 di Surabaya yang kemudian hari dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Berkat Fatwa dari KH. Hasyim Asy’ari, maka pejuang kemerdekaan di Surabaya tidak gentar dan ragu untuk menentang dan melawan penjajah pada waktu itu. Ulama tidak hanya berperan secara pemikiran ataupun politik, tetapi juga secara fisik yang nyata siap mengorbankan raga dan nyawa untuk meraih kemerdekaan. Kita bisa lihat bagaimana perjuangan secara fisik yang dilakukan Pangeran Diponegoro (1785-1855) melawan Kolonialisme Belanda (1825-1830), hingga Belanda melakukan gencatan senjata di berbagai daerah di Indonesia dan menarik pasukkannya untuk fokus melawan Diponegoro. Bahkan pihak belanda menjanjikan hadiah 20.000 Golden, bagi siapa saja yang bisa membunuh Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro bukan hanya seorang pejuang, beliau juga seorang ulama dari kalangan santri yang memiliki banyak pengikut. Pater Carrey dalam bukunya berjudul Kuasa Ramalan menuliskan, “Bahwa kurang lebih ada 108 kiai, 31 haji, 15 syeikh, 12 penghulu kraton Yogyakarta , dan 4 Mursyid Tareqat  yang turut berperang bersama Diponegoro”.
Thomas Stamford Raflles dalam bukunya History Of Java menyebutkan, “Bahwa
ulama dan santri walaupun merupakan kelompok minoritas hanya sepersembilan belas dari populasi di Pulau Jawa, jika bekerja sama dengan para sultan dan pemegang kekuasaan politik Islam, menjadikan kaki penjajah barat tidak dapat tegak berdiri dengan aman”.

Harus kita akui, bahwa kemerdekaan bangsa ini memang diperankan oleh para
ulama sebagai “Mercusuar” utama. Sebut saja seperti H. Agus Salim yang berperan sebagai diplomat luar negeri untuk pengakuan negara republik ini (H. Agus Salim merupakan ulama berdarah minang, pamannya adalah Syeikh Ahmad Khatib Sambas 1803-1872, ulama besar pendiri Tareqat Qodiriyyah wa  Naqsabandiyyah). Adapula Sayyid Idrus Al Jufri di Pulau Sulawesi yang memberikan saran dan perintah kepada K.H Hasyim Asy’ari (Jombang) untuk menjadikan warna merah dan putih sebagai Bendera Pusaka, dan menjadikan Ir. Soekarno sebagai pemimpin negaranya.

Hal ini menjadi bukti, bahwa peran para Ulama dalam kemerdekaan tidak hanya berfokus pada satu titik saja (Pulau Jawa). Mereka bersama-sama andil bersatu untuk kemerdekaan tanpa memandang geografis wilayah.  Jauh ke Timur Indonesia lagi, kita akan melihat perjuangan dari Tokoh sekaligus ulama besar di tanah NTB (Nusa tenggara barat), Yaitu Tuan Guru KH.
Muhammad Zainuddin Majid. Beliau merupakan pendiri Nahdlatul Wathon Dinniyah Islamiyah. Secara Etimologis, Nahdlah artinya Perjuangan/ Kebangkitan / Pergerakkan, Wathon artinya Tanah Air / Bangsa / Negara, sedangkan Dinniyah Islamiyah berarti Agama Islam.

Dari fakta sejarah, terbaca betapa besarnya  peran kepemimpinan Ulama dalam perjuangan menegakkan kedaulatan bangsa ini. Diikuti pula dengan perjuangan Ulama mempertahankannya serta membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai penutup penulis mengambil perkataan dari Douwes Dekker Danoedirdjo, yang merupakan anggota Indische Partij: “Jika tidak karena sikap dan semangat Perjuangan para Ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan”.