Oleh: Ni’amul Qohar

Di awal-awal abad ke-19 banyak para pemuda Indonesia pergi ke Timur Tengah untuk menimba ilmu. Mekkah, Saudi Arabia menjadi rujukan pertama kali bagi para pemuda tanah air di awal abad ini. Baru di abad ke-20 mereka merapat ke Kairo, Mesir, Baghdad, dan Irak. Meskipun berada di luar negeri, tidak membuat luntur semangatnya dalam membela tanah air Indonesia. Mereka di sana berpegang teguh dengan dua prinsip yaitu, tidak bekerjasama dengan penjajah, dan memiliki kesadaran atas keserumpunan bangsa Indonesia dengan Malaya. Prinsip yang pertama ini menunjukan bahwa mereka yang belajar di Timur Tengah beragama Islam. Agama yang menentang segala bentuk kedholiman yang dilakukan oleh para kafir (penjajah). Sedangkan prinsip yang kedua dapat dibuktikan dengan nama-nama organisasi mereka. Misalnya di Mesir nama organisasinya PERPINDOM (Persatuan Pemuda Indonesia-Malaya), di Saudi Arabia namanya PERTINDOM (Persatuan Talabah Indonesia-Malaya), di Irak namanya MAKINDOM (Majlis Kebangsaan Indonesia-Malaya), di India namanya PARSINDOM (Persatuan Indonesia-Malaya), dan di Ceylon namanya KERIS (Kesatuan Rakyat Indonesia-Semenanjung).

Adapun tahapan-tahapan perjuangan mereka para pemuda di Timur Tengah sebelum Proklamasi dapat di bagi menjadi tiga priode yaitu :

  1. Sebelum perang dunia pertama,
  2. Sesudah perang dunia pertama dan
  3. Selama perang dunia kedua.

Sebelum Perang Dunia Pertama

Pada permulaan abad ke-19 sampai belasan tahun awal abad ke-20 para pemuda Indonesia baru berkumpul di Saudi Arabia (Mekkah). Pada masa ini perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah belanda melalui perlawanan bersenjata. Lalu dilanjutkan menyusun kekuatan nasional melalui partai politik. Perang Padri di Minangkabau menjadi salah satu contoh perlawanan bersenjata waktu itu. Ada tiga panglima yang sebelumnya belajar di Mekkah, pulang ke tanah air untuk memimpin perang fisabilillah bersama Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Belanda. Mereka bertiga yaitu Haji Miskin, Haji Piabang dan Haji Sumanik.

Rakyat Indonesia pertama kali menyusun partai politik bernama Serikat Islam sebagai usaha membebaskan dari penjajahan. Mengetahui keadaan ini, Belanda menyuruh orang Arab dari Jatipetamburan, Jakarta untuk menulis sebuah buku tentang larangan umat Islam mengikuti partai tersebut. Buku itu berjudul “Kafful Awwam  ‘An Syarikatil Islam” (Melarang Rakyat Umum Memasuki Serikat Islam). Dalam upaya untuk menentang buku yang beracun tersebut, pada tahun 1912 seorang ulama guru besar dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat, yaitu Syaikh Ahmad Khatib yang karena kealimannya dalam agama Islam telah diangkat oleh Syarif Mekkah menjadi Imam dan Khatib di Masjidil Haram. Beliau telah menulis buku yang berjudul “Hassul ‘Awwam ‘Alad Dukhuli fi Syarikatil Islam” (Menghasung Rakyat Umum Masuk Serikat Islam). Buku yang ditulis dalam bahasa Melayu tersebut sangat besar pengaruhnya di Indonesia. Sehingga dalam waktu pendek partai Serikat Islam berkembang pesat dan menjadi partai nasional pertama kali di Indonesia.

Sesudah Perang Dunia Pertama

Kekalahan Turki di Timur Tengah membuat negara sekutu termasuk Belanda mendapatkan angin segar yang menduduki posisi strategis di sana. Dengan kedudukan ini, Belanda mulai menekan warga Indonesia yang berada di sana. Dibuktikan dengan penangkapan 11 jamaah haji Indonesia yang difitnah memiliki paham komunis oleh kedutaan Belanda. Serta larangan kegiatan politik bagi warga Indonesia. Hal ini membuat para pemuka Indonesia pergi ke Mesir untuk meperluas arah pergerakan dengan membentuk organisasi bernama “Al-Jamiyatul Khairiyatul Jawiyah” (Perhimpunan Kebangkitan Jawa) di bawah kepemimpinan Janan Thaib. Penggunaan nama Jawa ini meliputi wilayah Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaya, Siam, dan Pilipina. Perhimpunan ini berdasarkan surt izin berdirinya no. 323 hanya bergerak dalam kegiatan sosial, tetapi mereka tidak membatasi pergerakannya hanya sebatas itu. Pergerakannya diperluas yaitu dengan mulai memperkenalkan tanah air dan tuntunan-tuntunan nasionalnya, mendorong rakyat Indonesia memenangkan tuntunan-tuntunan tersebut melalui suara-suara yang dikumandangkan dalam majalah-majalah mereka; “Seruan Al-Azhar”, “Pilihan Timur”, “Merdeka”,  dan “Usaha Merdeka”. Majalah-majalah ini terbit silih berganti. Adapun “Al-Jamiyatul Khairiyatul Jawiyah” telah dirubah namanya menjadi PERPINDOM (Persatuan Pemuda Indonesia-Malaya) pada pertengahan tahun tiga puluhan. Pada tahun 1926 Janan Thaib pergi ke Belanda untuk menemui Dr. Muhammad Hatta (Ketua Perhimpunan Indonesia), guna koordinasi perjuangan Indonesia di luar negeri.

Selama perang dunia kedua

Tahap ini dapat dinamakan perlawan di bawah tanah. Karena kegiatan para pejuang di Timur Tengah terpaksa dijalankan secara diam-diam di bawah hukum militer Inggris. Adapun tujuan perjuang di bawah tanah yaitu; menggagalkan usaha Belanda mengumpulkan warga Indonesia di luat negeri untuk sama-sama membebaskan Indonesia dari penjajah Jepang, memberi pengertian kepada bangsa Arab khususnya dan dunia internasional umumnya bahwa perjuangan bangsa Indonesia selama puluhan tahun itu hanya untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda.

Atas pertolongan Allah SWT perjuang para pemuda di Timur Tengah berhasil tercapai. Meskipun menghadapi tekanan dan ancaman dari kedaulatan Belanda. Di Saudi Arabia dari 400 warga Indonesia, hanya 200 yang tertipu. Itupun akhirnya mereka menyesal setelah dikasih tahu penjelasan tentang siasat tipu daya penjajah Belanda. Di lain sisi suatu kebetulan yang sangat berharga telah terjadi di sela-sela perjuangan para pemuda di Timur Tengah. Liga Arab mengadakan kongresnya untuk pertama kali di Iskandariyah. Dalam kongres tersebut telah memutuskan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia.

 

Sumber Rujukan

M. Zein Hassan Lc. Lt., “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri”, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1980