Oleh: Ni’amul Qohar

Agama Islam bukan hanya sekedar mengatur mengenai tata cara beribadah yang hubungannya langsung kepada Allah SWT. Melainkan segala bentuk hubungan sesama manusia, agama Islam pun turut memberikan peraturan atau tuntunan. Salah satunya mengenai pernikahan. Peristiwa pernikahan pertama kali yaitu antara Nabi Adam as dengan Siti Hawa ra. Pernikahan ini menjadi gerbang untuk memasuki bangunan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah. Serta akan mengukir sejarah peradaban manusia yang sangat menakjubkan.

Dalam catatan sejarah Islam, pernikahan untuk membangun rumah tangga merupakan sistem organisasi kecil yang akan membuat perubahan besar. Para Nabi dan Rasul terdahulu dalam menyebarkan ajaran Allah SWT diawali oleh organisasi kecil tersebut. Seperti Nabi Adam as yang menikahi Siti Hawa ra. Sudah mashur bagi kita bahwa beliau nabi Adam as diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah pemimpin di muka bumi.  Yaitu sebagai wakil Allah SWT untuk menjaga dan merawat bumi dan seisinya. Perjuangan Nabi Adam dalam menjalankan amanahnya tersebut dibantu oleh Siti Hawa ra yang diciptakan dari tulang rusuknya. Rumah tangga Nabi Adam as beserta istrinya dibangun atas lingkungan fisik yang tidak bersahabat dan sangat tandus. Begitupun juga dengan Nabi Ibrahim as yang berjuang menyebarkan ajaran Allah SWT yang ditemani oleh Siti Sarah ra dan Siti Hajar ra.

Hingga pada masa nabi akhir zaman yaitu Nabi Muhammad SAW yang ditemani oleh Siti Khadijah ra untuk menyebarkan agama Islam. Ketika Nabi Muhammad SAW mengalami kegelisahan, Siti Khadijah ra hadir sebagai penenang beliau. Menjadikannya perempuan pertama yang percaya atas ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Beberapa Peristiwa kerasulan tersebut mengingatkan kita bahwa perubahan sejarah diawali oleh sistem organisasi yang kecil. Sebab bukan besarnya suatu organisasi yang mengakibatkan perubahan besar, melainkan kekuatan pribadi individunya yang sanggup berjuang tak pernah mengenal putus asa.

Pernikahan dapat dikatakan sebagai penyatuan dua karakter yang berbeda. Disatukan dalam ikatan janji suci (cinta dan kasih sayang). Dijadikan suami sebagai pemimpin rumah tangga agar bisa bersifat bijaksana, pemaaf, lapang dada, dan pengampun kepada istri dan anak-anaknya. Pemaaf terhadap kesalahan kecil dan pengampun terhadap kesalahan besar. Maka ketika terjadi perbedaan karakter maupun orientasi kehidupan, sang suami wajib bersikap bijaksana di dalam rumah tangga tersebut.

Organisasi kecil dalam berumah tangga jangan sampai diremehkan. Justru harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mencapai perubahan yang besar. Suami sebagai kepala rumah memiliki kewajiban atau tanggung jawab tersendiri. Begitupun dengan istri dan anak-anaknya yang masing-masing memiliki kewajiban dan tanggung jawab. Hal ini selaras dengan Hadist Nabi Muhammad SAW bahwa “Setiap kalian adalah pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban, seorang laki-laki  adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggung jawaban. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggung jawaban. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban”.

Betapa indahnya jika masing-masing dari individu di dalam rumah tangga memiliki kekuatan tersendiri. Mereka saling memahami dan mengerti posisi yang sedang dijalaninya, serta bersikap saling menghargai atas segala perbedaan. Hakikat pernikahan merupakan monogami atau dinikahkan oleh Allah SWT. Kanapa bisa begitu?, karena menikah atas dasar petunjuk Allah SWT dan RasulNya untuk bisa saling mengenal dan mengerti. Lalu dari situ terbangunlah kekuatan yang sangat besar untuk mengukir sejarah dan mengarungi manis-pahitnya kehidupan.

Wallahu’alam bishowab