Oleh: Ni’amul Qohar

Sebagai umat muslim kita wajib untuk berdo’a kepada Allah SWT sebagai bentuk  penyadaran diri bahwa kita ini adalah makhluk yang sangat lemah. Dia yang Maha Kuasa atas segalanya dan hanya kepadaNya kita meminta pertolongan dan perlindungan. Bisa jadi orang yang tidak pernah berdo’a termasuk dalam kategori hamba yang sombong. Merasa bahwa dirinya tidak memerlukan pertolongan dan perlindungan Allah SWT.

Menurut Al-Asqari do’a merupakan permohonan terhadap Allah SWT agar mendatangkan sesuatu yang bermanfaat dan menjauhkan segala bentuk kemudharatan. Dalam kondisi maupun situasi seperti apa, jangan sampai kita lupa untuk berdo’a kepada Allah SWT. Mengenai pembahasan tentang do’a, berikut ada salah satu kisah yang penuh dengan makna. Yaitu kisah tentang bagaimana Allah SWT akan cepat mengabulkan do’a setiap hambanya. Kisah ini terjadi dalam kehidupan Rasulullah SAW bersama sang istri yaitu Sayidah Aisyah.

Terdapat sepenggal cerita di dalam kitab Sunan Ibnu Majah bahwa Sayidah Aisyah yang pernah mendengar do’a Rasulullah SAW. Adapun doanya sebagai berikut: “Allahuma as-aluka bismika ath-thohiri al-mubaroki al-ahabbi ilaika alladzi idza du’ita bihi ajabta wa idza su-ilta bihi a’thoita wa idza usturhimta bihi rohimta wa idza ustufrijta bihi farrojta”, (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perantara nama-Mu yang suci lagi baik, yang diberkahi lagi paling Engkau cintai. Nama yang jika digunakan untuk memohon kepada-Mu, maka engkau akan mengabulkannya. Jika digunakan untuk meminta sesuatu kepada-Mu, maka Engkau akan memberinya. Jika digunakan untuk memohon rahmat kepada-Mu, maka Engkau akan merahmatinya. Jika digunakan untuk memohon pertolongan kepada-Mu, maka Engkau akan menolongnya).

Selang beberapa hari kemudian, Rasulullah SAW bertanya kepada Sayidah Aisyah tentang do’a agar cepat dikabulkan oleh Allah SWT. Beliau berkata “Ya Aisyah, hal alimti annallaha qod dallani ‘alal ismi al-ladzi idza du’iya bihi ajaba” (Wahai Aisyah, tahukah kamu kalau sesungguhnya Allah SWT telah menunjukan kepadaku sesuatu nama yang apabila disebutkan dalam sebuah do’a, maka akan dikabulakan-Nya?). Lalu Sayidah Aisyah bertanya kepada beliau tentang nama apa saja yang disebutkan dalam do’a agar cepat terkabulkan, sekaligus meminta diajari Rasulullah SAW. Namun permintaan Sayiadah Aisyah dengan lembut ditolak oleh Rasulullah SAW, seraya bersabda: “Innahu la yanbaghi laki ya Aisyah”, (Sesungguhnya hal tersebut tidak seyogyanya kamu ketuhui wahai Aisyah).

Mendengar penolakan secara halus Rasulullah SAW, membuat Sayidah Aisyah beranjak menjauhi Rasulullah SAW lalu duduk di suatu tempat untuk beberapa saat. Tidak lama kemudian Sayidah Aisyah bangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri Rasulullah SAW sambil mencium kepalanya. Beliau masih berkeinginan untuk diajari Rasulullah SAW tentang rahasia tersebut. Melalui beberapa rayuan yang lakukannya demi mendapatkan keinginannya. Tak sedikit pun membuat Rasulullah SAW berubah pikiran, dengan tenang beliau menjawab “Innahu la yanbaghi laki ya Aisyah, an u’allimaki. Innahu la yanbaghi laki an tas-alina bihi syaian min ad-dunya” (Sesungguhnya tidak layak aku ajarkan hal tersebut kepadamu wahai Aisyah. Karena kamu tidak pantas menggunakannya untuk memohon kesenangan duniawi sedikit pun).

Untuk kedua kalinya permintaan Sayidah Aisyah ditolak oleh Rasulullah SAW. Akhirnya hal ini membuatnya pergi berwudhu lalu mengerjakan shalat dua rakaat. Setelah selesai shalat, Sayidah Aisyah berdoa kepada Allah SWT “Allahumma, inni ad’ukallah wa ad’ukarrahman wa ad’ukal barror rohima wa ad’uka bi asma-ika al-husna kulliha ma’alimtu minha wa ma lam a’lam an taghfiro li wa tarhamani (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah, ya Rahman, ya Barru, ya Rohim, aku memohon kepada-Mu dengan menggunakan semua nama-Mu yang paling baik. Yang aku ketahui maupun tidak. Ampunilah dan rahmatilah aku).

Do’a yang baru saja dilantunkan Sayidah Aisyah didengar oleh Rasulullah SAW. Membuatnya tersenyum lalu berkata: “Innahu lafi asma’i al-lati da’auti biha” (Sesungguhnya, nama Allah yang akan aku ajarkan kepadamu sudah kamu lantunkan dalam do’amu tadi).

 

Wallahu’alam Bishowab

Sumber rujukan: Qutuv Izziddin Jamil Al-Syarwai, Lc. Fikih Humor, Perpustakaan Mutamakkin