Oleh: Syfana Amalena

KH. Tolchah Mansoer merupakan salah satu ulama karismatik berdarah Madura yang sekaligus menjadi cendekiawan muslim berpengaruh. Beliau dikenal juga sebagai guru besar ilmu keislaman dan hukum tata negara di beberapa perguruan tinggi yang terletak di Yogyakarta maupun kota lain. Selain itu beliau merupakan kader Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah menjabat sebagai Rektor di beberapa perguruan tinggi.

Pada tanggal 10 September 1930 di Kota Malang beliau dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama Mansoer merupakan seorang ulama dan pedagang anyaman bambu asal Bangkalan, Madura yang merantau ke Malang. Sedangkan ibunya bernama Siti Nur Khatidjah seorang janda dari saudagar kaya asal Madura. Tholchah merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Semasa kecil, Tholchah hobi membaca buku. Hal ini dipengaruhi karena lingkungan tempat tinggalnya di Malang yang padat penduduk, sehingga tidak ada lahan seperti tanah lapang untuk berkumpul dan bermain bersama teman sebayanya. Kondisi demikian membuat Tolchah lebih memilih menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku koleksi sang kakak dan mengaji.

Pendidikan formal pertama Tolchah Mansoer diperoleh dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nahdlatul Ulama Jagalan Malang. Kemudian beliau melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah di tempat yang sama. Selain gemar belajar, Tolchah juga mulai berkecimpung dalam organisasi. Ketika usianya 17 tahun beliau terpilih menjadi sekretaris Sabillah daerah pertempuran Malang Selatan. Amanat baru yang diemban membuatnya harus meninggalkan sekolahnya untuk sementara waktu. Baru setelah perang kemerdekaan usai, Tolchah melanjutkan sekolahnya di Taman Madya Malang hingga lulus pada tahun 1951.

Di tahun yang sama, Tolchah meminta restu kedua orangtuanya untuk pergi merantau ke Yogyakarta. Tolchah Mansoer melanjutkan menimba ilmu di Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial, dan Politik (HESP) Universitas Gajah Mada. Di Universitas tersebut beliau lebih banyak berkecimpung di organisasi, sehingga pada tahun 1953 terpaksa membuatnya harus berhenti kuliah untuk sementara waktu (cuti). Tahun 1959 beliau kembali ke bangku kuliah dan menuntaskan pendidikannya pada 1964.

Semangat Tolchah dalam tholabul ilmi tak pernah surut, beliau tetap menuntaskan pendidikannya walaupun sudah menikah. Tolchah membutuhkan waktu 13 tahun untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum. Kemudian melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan berhasil memperoleh gelar Doktor Ilmu Hukum konsentrasi Hukum Tata Negara dalam waktu 5 tahun. Bahkan Disertasi yang beliau tulis dengan judul “Pembahasan Beberapa Aspek Tentang Kekuasaan-Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Negara Indonesia (17 Desember 1969) dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit Radya Indria, Yogyakarta (1970).

Selama menjadi mahasiswa Tolchah aktif di beberapa organisasi, antara lain Pelajar Islam Indonesia (PPI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), bahkan Tolchah bersama teman-temannya merintis berdirinya organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan menjadi Ketua selama tiga periode. Beriringan dengan IPNU, jiwa intelektualisme Tolchah terbentuk. Beliau dikenal sebagai pemuda yang idealisme tinggi, tekun, mudah bergaul, dan humoris.

Kesibukan Tolchah dengan ilmu dan organisasi membuat dirinya tak sempat memikirkan perihal asmara. Namun teman-temannya sering menjembatani antara dirinya dengan cucu kiai Wahab Chasbullah, Umroh Mahfudzoh. Umroh Makfudzoh juga merupakan seorang aktivis dan pendiri organisasi Pelajar Putri NU. Keduanya pertama kali dipertemukan dalam Konferensi Segi Lima di Solo pada tahun 1954. Pertemuan pertama mereka menimbulkan perdebatan karena perbedaan pemikiran.

Tolchah dan Umroh kemudian menikah pada 5 Desember 1957. Mereka dikarunia 7 orang anak. Tolchah dan keluarganya sangat peduli akan pendidikan, hingga ketujuh anaknya berhasil memperoleh pendidikan tinggi dengan berbagai macam disiplin ilmu. Selain itu, baik Tolchah maupun Umroh juga mendirikan sekolah yang diperuntukkan bagi masyarakat.

Kondisi kesehatan Tolchah mulai menurun ketika masa penyusunan Disertasi. Meski demikian semangatnya untuk menuntaskan pendidikan doktornya sangat tinggi. Bahkan ketika hari ujian Disertasi berlangsung, beliau harus dikawal oleh beberapa tim medis untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Semangatnya semakin memuncak ketika sang ibu datang dari Malang guna menyaksikan ujian disertasinya. Pada 17 Desember 1969 Tolchah resmi menyandang gelar doktor.

Tolchah Mansoer semenjak lahir sudah menderita penyakit jantung. Beliau meninggal ketika masa puncak keemasan karier intelektualnya. Tepat pada tanggal 20 Oktober 1986 Tolchah Mansoer kembali kepada Sang Kholiq. Jenazah beliau disholatkan di masjid IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan disemayamkan di pemakaman keluarga Pesantren Krapyak.

 

REFERENSI

M. Zakaria dalam www.digilib.uinsby.ac.id (10 Mei 2020)

https://ipnujateng.or.id/mengenal-tolchah-mansoer-pendiri -ipnu/ (10 Mei 2020)