Oleh: Ni’amul Qohar

Penyebaran agama Islam di tanah Jawa tidak terlepas atas perjuangan para mubaligh dari tanah Arab. Sebut saja salah satu mubaligh tersebut yaitu Sayyid Abdurrahman, ayah Sayyid Sulaiman. Sayyid Abdurrahman merupakan putra sulung Sayyid Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Basyaiban. Beliau lahir pada abad 16 M di tanah Tarim, Yaman. Kota yang terkenal sebagai gudang para wali.

Sayyid Abdurrahman melakukan perjalanan dakwahnya menuju pulau Jawa, tepatnya yaitu di Cirebon, Jawa Barat. Setelah lama menetap di sana, beliau menikah dengan putri Sultan Hasanuddin yang bernama Syarifah Khadijah, cucu Sunan Gunung Jati. Atas pernikahan ini Allah SWT mengaruniai tiga putra yang bernama: Sayyid Sulaiman, Sayyid Abdurrahim dan Sayyid Abdul Karim.

Tiga cucu Sunan Gunung Jati ini tumbuh besar ketika situasi Cirebon masih dalam jajahan Kolonial Belanda. Para kiai atau ulama menjadi musuh para penjajah yang sangat sulit untuk dikalahkan. Tak ayal membuat Kolonial Belanda geram yang melakukan berbagai cara untuk menaklukan para ulama. Melihat situasi yang seperti ini, Sayyid Abdurrahman menyuruh putranya yang bernama Sayyid Sulaiman pergi meninggalkan Cirebon. Waktu itu usia Sayyid Sulaiman sudah menginjak dewasa, beliau pergi dari Cirebon lalu tinggal di Krapyak, Pekalongan, Jawa Tengah.

Selang beberapa tahun di Pekalongan beliau akhirnya menikah, lalu dikaruniai empat anak laki-laki yang bernama Hasan, Abdul Wahab, Muhammad Baqir, dan Ali Akbar.  Keturunan Sayyid Sulaiman dari jalur Abdul Wahab banyak yang tinggal di Magelang dan Pekalongan. Dari jalur Muhammad Baqir banyak yang tinggal di Krapyak Pekalongan. Sedangkan dari jalur Ali Akbar lahirlah para ulama yang memangku pesantren Sidogiri, Demangan Bangkalan dan Sidoresmo Surabaya.

Sayyid Sulaiman pernah pergi ke Pasuruan untuk nyantri kepada Mbah Sholeh Semendi di Segoropuro. Mbah Soleh sangat tertarik kepada salah santrinya ini. Sehingga Sayyid Sulaiman diambil menjadi menantunya. Selain itu diriwayatkan pula bahwa Sayyid Sulaiman memiliki istri dari Malang yang dikaruniai putra bernama Hazam.

Dahulu Sayyid Sulaiman membabat daerah Sidogiri atas amanah dari Sunan Giri. Perjuangannya sangat keras dan tekun. Selain menebang pohon-pohon yang ada di daerah Sidogiri sebab masih hutan belantara, beliau turut mengusir para jin yang penghuni daerah Sidogiri. Sebelum perjuangannya ini berhasil dengan sempurna, Allah memiliki rencana tersendiri dengan memanggil Sayyid Sulaiman untuk menghadap kepadaNya. Beliau wafat ketika melakukan perjalanan ke Jombang tepatnya di Mojoagung.

Setelah wafatnya Sayyid Sulaiman tidak ditemukan data yang kuat tentang siapa pejuang selanjutnya yang membabat daerah Sidogiri. Hingga pada masa Kiai Aminullah baru ditemukan catatan sejarah pelanjut perjuangan Sayyid Sulaiman membabat daerah Sidogiri. Terdapat dua versi tentang kapan berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri. Ada yang mengatakan bediri pada tahun 1745 dan ada juga yang mengatakan berdiri pada tahun 1712. Berdasarkan dua data tersebut tahun 1712 menjadi tahun yang paling dekat dengan masa hidup Sayyid Sulaiman. Sedangkan tahun 1745 diperkirakan bersamaan dengan masa hidup Kiai Aminullah.

Kiai Aminullah merupakan seorang santri yang berasal dari Bawean. Beliau menikah dengan Masturah binti Rofi’i bin Umi Kultsum bin Hazam bin Sayyid Sulaiman. Bersama dengan istrinya beliau menetap di Sidogiri. Riwayat lain yang lebih masyhur dari kalangan keluarga Sidogiri berdasarkan catatan silsilahnya yaitu bahwa Kiai Aminullah menikah dengan Nyai Indah binti Sayyid Sulaiman. Jadi menurut riwayat ini Kiai Aminullah posisinya langsung menjadi menantu Sayyid Sulaiman.

 

Allahu’alam bishowab…

Daftar Pustaka

Redaksi Majalah IJTIHAD, “Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri”, Pustaka Sidogiri Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur