Oleh: Santri Pondok Bandungsari

KH. Abdul Karim lahir pada tahun 1918 M. Beliau mempunyai nama kecil Sumadi yang masih keturunan Ki Ageng Selo dari Selo Tawangharjo Grobogan. Beliau pernah belajar pada Kiai Wahab di Wates Kradenan dan menimba ilmu kepada KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang. KH Abdul Karim adalah sahabat Kiai Masyhuri yang sebagai seniornya. Beliau pernah menjadi ketua pondok (lurah) al-Ma’ruf. Beliau menikah dengan Nyai Siti Rodliyah (adik Kiai Masyhuri) binti KH. Ma’ruf. Pernikahan ini membuahkan sebelas keturunan di antaranya yaitu: Nyai Rohmah, Nyai Marfu’ah, Nyai Shofiyah, Nyai Aminah, KH. Abdul Wahid, KHR. Ahmad Kholil Karim, Kiai Abdul Nashir, KH. Ahmad Rifa’i, KH. M. Yusuf Karim, Hj. Sholichaty, dan Kiai Tahajjud Shobirin.

Sekitar tahun 1937 M saat awal berdirinya madrasah, KH. Abdul Karim adalah dewan pelaksana dengan Kiai Masyhuri sebagai Mudir Amm-nya. Setelah Kiai Masyhuri wafat KH. Abdul Karim menjadi sesepuh pesantren al-Ma’ruf, sedangkan Kiai M. Mushlich (menantu K Masyhuri) sebagai pengasuhnya. Pada era 70-an M. Beliau (yang termasuk PNS -pegawai negeri sipil-) menjabat sebagai Rois Syuriah PCNU Grobogan, Kiai M. Mushlich ketua Tanfidziahnya.

Sekitar tahun 1977 M Madrasah Mu’allimin (6thn) diubah nama menjadi Manba’ul Ulum dengan sistem Tsanawy dan Aliyah mengikuti Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri dengan tujuan menyetarakan pendidikan salafiyah dengan SLTP dan SLTA. Sedangkan yang Ibtidaiyah Diniyah tetap dengan nama: Riyadlotus Syubban. Perubahan menjadi MTs & MA membutuhkan penanganan serius karena kurikulum harus sesuai dengan program pendidikan yang dikelola oleh Departemen Agama dengan struktur pengalokasian; 70% mata pelajaran umum dan 30% mata pelajaran agama. Oleh karena itu KH. Abdul Karim menyerahkan jabatan Mudir Amm kepada Kiai Basyariddin. Ternyata perubahan ini sangat menggoncang para santri/ siswa. Banyak yang menghendaki agar dikembalikan pada sistim salafiyah. Setahun kemudian keputusan madrasah mengikuti SKB Tiga Mentri dibatalkan. Namun nama Mu’allimin tetap diganti Manba’ul ‘Ulum sampai saat ini dengan mendapat pengakuan terdaftar dari Departemen Agama tahun 1978 M.

KH. Abdul Karim mampu menjadi pemersatu masyarakat ketika terjadi perbedaan atau perselisihan. Di antara perselisihan yang sering terjadi dan sulit di atasi; ketika ada dua jum’atan dalam satu daerah. Ketika KH. Abdul Karim memberikan penjelasan dan solusi, semua pihak bisa menerima. Tidak hanya masyarakat umum, para santri juga sangat beliau perhatikan. KH. Abdul Karim menekankan agar semua santri selalu mengikuti aturan pondok.

KH. Abdul Karim mengaji Fathul Mu’in setelah ashar, Mulazamah Shorof (Tashrif Padangan & Jombang) setelah maghrib sampai kemudian digantikan oleh Kiai M Mushlich. Di kelas 6 Mu’allimin KH. Abdul Karim juga mengajarkan Fathul Mu’in namun beliau lakukan dengan sistem sorogan. Karena itu para siswa musyawaroh terlebih dahulu sebelum pelajaran dimulai. KH. Abdul Karim mengajar Balaghoh (‘Uqudul Juman) hanya dengan membaca tanpa murodi (memberikan penjelasan) saat itu beliau dawuh “Angger tak woco, suk lak iso dewe”.

KH. Abdul Karim orang yang disiplin dan tegas baik di dalam maupun luar lingkungan pesantren. Setiap jam pelajarannya beliau selalu masuk. Aturan madrasah beliau awasi dengan baik. Salah satu peraturannya yaitu; setiap siswa wajib memakai celana, sepatu, baju masuk dan memakai ikat pinggang. Ketika beliau menemui siswa yang melanggar langsung ditegur walaupun masih di jalan. KH. Abdul Karim sering-sering ngoyaki jama’ah. Sebelum jama’ah dimulai beliau selalu berkeliling dan melempari semua orang yang masih enak-enakan, dengan apa saja yang beliau dapati bahkan dengan pikulan. Akhirnya semua santri langsung bersiap ketika adzan berkumandang. KH. Abdul Karim selalu mengkhatamkan kitab yang dikaji. Beliau pernah mengaji Shohih Bukhori awalnya dengan delapan orang santri, ketika sampai juz tiga hanya tersisa seorang santri, namun beliau tetap istiqomah sampai akhir.

KH. Abdul Karim sosoknya selain keras juga rendah hati. Beliau orang kepercayaan Kiai Masyhuri. Ketika Kiai Masyhuri sedang berhalangan tidak bisa menjadi imam di masjid, beliau menunjuk KH. Abdul Karim sebagai penggantinya, KH Abdul Karim bertanya: “Kenapa tidak kang Kastolani saja?”, Kiai Masyhuri jawab: “Tidak, kamu saja.” KH Abdul Karim bertanya lagi: “Kenapa tidak kang Muslich saja?”, Kiai Masyhuri jawab: “Tidak, kamu saja, tidak boleh yang lain selama aku masih hidup.”

KH. Abdul Karim orang yang wira’i (tidak mau memanfaatkan sesuatu kecuali jelas kehalalannya) dan teliti sampai sempat dijuluki  “Kiai daduk (pakan ternak)” karena dalam suatu khotbah beliau pernah membahas asal-usul daduk yang biasa diambil para tukang ngarit. Faktanya memang banyak orang yang kurang memperdulikan dari mana asal daduk yang mereka dapatkan bahkan sering dengan seenaknya mengambil dari tanaman orang lain. Sebagai solusi beliau berkata: “Angon yo angon, tapi kudu diurus!”.

Ketika membangun madrasah, sumbangan dari masyarakat seperti beras dan sembako beliau perkirakan harganya terlebih dahulu lalu beliau beli agar barang-barangnya jelas dan tidak ada yang tercampur saat dialokasikan. Jangan sampai ada barang yang bukan haknya digunakan atau dimakan keluarga. Ketika mempekerjakan seseorang misalnya tukang panen (ngedos: Jawa) beliau pisahkan rokok sesuai jumlah tukangnya, tidak dijadikan satu supaya tiap tukang bisa mendapatkan haknya masih-masing. Jika dia tidak merokok, rokoknya bisa dibawa pulang untuk diberikan kepada orang lain.

Hubungan KH. Abdul Karim dengan para kiai sangat baik. Banyak kiai besar yang pernah datang ke Bandungsari, di antaranya Kiai Baidlowi Lasem. Pada saat itu masjid Baitussalam lantainya masih geladak dan atapnya belum tinggi. Saat Kiai Baidlowi masuk masjid dari pintu selatan, kepala beliau terbentur bagian atas ambang pintu masjid. Kiai Baidlowi dengan candanya berkata: “Masjid Bandungsari og galak”. Meskipun keadaannya seperti itu masjid selalu penuh dengan jamaah ketika sholat.

Di antara keistimewaan KH. Abdul Karim yaitu ketika mengajar, banyak santri yang kurang bisa mendengar tarkib dan ma’na dari beliau dengan jelas, namun ketika dijelaskan atau setelah selesai ngaji bahkan saat sudah di rumah mereka baru paham bagaimana keterangan KH. Abdul Karim dulu.

Nasehat KH. Abdul Karim sangatlah banyak. Di antara nasehat beliau yang sama dengan Kiai Masyhuri “Nek pengen ngalim kudu ngapalno lan parek wong ‘alim”. Oleh karenanya para santri sangat semangat menghafalkan kitab di antaranya Kholashoh Alfiyyah sampai ada yang tidak sadarkan diri ketika menginjak bab Jama’ Taksir. Pesan beliau lagi “Nek dadi pejabat ojo lali karo pondoke”. “Kue nek wis muleh ojo lali silatur-rohim neng konco-konco yo. Syarate nek silatur-rohim wetengmu kudu warek, kudu gowo duit, nek (seng mbok dolani) doyan rokok kudu gowo rokok. Sebab nek kue wes muleh, seng mbok dolani wonge medit klitak-klitik nyogati kue, isah-isah piring temune kue anggeran (ndadekno loro ati, Pen)”.

Kesedihan menghampiri tanah Bandungsari karena bertepatan pada sore hari Kamis Pon, 8 Safar 1408 H / 22 September 1988 M. KH. Abdul Karim tutup usia dengan meninggalkan berbagai jasa dan teladan yang baik. Pemberangkatan jenazah beliau (bakda jum’atan) disaksikan beberapa masyayikh di antaranya KH. Maimun Zubair Sarang Rembang.