Oleh: Khusnul Khotimah

“Inget yo nak, perempuan itu ibarat pakaian bagi laki-laki, menghangatkan di musim hujan dan meneduhkan disaat kemarau”

(Nyai Masruroh)

Siapa yang tidak mengenal Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari ?, seorang Kiai masyhur yang sangat berpengaruh bagi ummat dan NKRI. Beliau lahir pada 14 Februari 1875 (24 Dzulqaidah 1287 H) dan wafat pada 25 Juli 1947 dimakamkan di Tebuireng, Jombang. KH Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari sebelas bersaudara. Ayah beliau bernama Kiai Asyari, pemimpin pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibu beliau bernama Halimah. KH. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh utama pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia, beliau juga pendiri pesantren Tebuireng dan termasuk dalam Pahlawan Nasional. Hadratus syekh KH. Hasyim Asy’ari memiliki kontribusi besar bagi kemerdekaan Indonesia dan memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap siapapun serta banyak hal-hal baik yang selalu terkenang dalam sejarah.

Di balik kesuksesan seorang laki-laki, selalu ada peran perempuan hebat di belakangnya. Pepatah ini sesuai untuk menggambarkan sosok perempuan hebat yaitu Nyai Masruroh, istri KH. M. Hasyim Asy’ari. Tidak banyak memang data atau dokumen yang menjadi saksi kisah Nyai Masruroh, tapi banyak cerita nyata yang bisa menampilkan sosok perempuan luar biasa seperti beliau, terutama cerita dari keturunan atau dzuriyah, para abdi dalem bahkan masyarakat umum yang pernah bertemu langsung atau mendapati cerita dari saksi yang pernah mengenal beliau, baik secara langsung atau sekedar dari lisan ke lisan. Nyai Masruroh merupakan seorang ulama perempuan sekaligus istri dari KH. M. Hasyim Asy’ari. Hal tersebut bisa menjadi bukti dasar dari figur seorang ulama sekaligus istri Kiai besar yang jelas memiliki peran dan kepribadian yang alim dan luar biasa.

Dalam proses pencarian data yang masih harus dilakukan lebih lanjut terkait beliau, penulis dan team selalu dikejutkan dengan hal-hal yang membuat terharu tentang beliau yang selama ini tidak banyak diketahui lebih dalam. Oleh sebab itu sebelum membaca naskah ini saya selaku penulis dan pengagum beliau, dengan hormat mari kita merundukkan kepala guna mengirim doa kepada Al Mukarrom KH. Muhammad Hasyim Asy’ari beserta seluruh keluarga beliau, termasuk Ibu Nyai Masruroh isteri terakhir KH. Hasyim Asy’ari. Ridallahhibarokatil Al-Fatihah.

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan                         

Nyai Masruroh binti Hasan Muchyi atau kerap disebut Nyai Kapu merupakan anak putri yang terlahir dari pasangan Kiai Hasan Muchyi dengan Ibu Nyai Khotijah. Nyai Masruroh merupakan putri terakhir dari tiga bersaudara, di antaranya adalah Ummi Kulsum, Masfuah, dan yang terakhir adalah Masruroh. Beliau lahir dan berkembang pada keluarga pesantren Salafiyah Kapurejo, Pagu, Kediri yang didirikan oleh ayahanda Kiai Hasan Muchyi atau dikenal juga sebagai Ki Ronowioyo. Nyai Masruroh memiliki latar belakang keluarga yang sangat kental dengan ilmu agama. Lahir dan berkembang di Pesantren Kapurejo membuat keilmuan agama beliau tidak diragukan, bahkan beliau dikenal keluarga dan orang-orang disekitarnya sebagai seorang yang rajin tirakat.

Pendidikan Nyai Masruroh didapatkan dari dalam keluarga Kapurejo, termasuk belajar pada ayah beliau. Nyai Masruroh juga sering membantu mengajar para santri putri di kediaman beliau. Sejak Kiai Hasan Muchyi mendirikan Pesantren Kapurejo, sistem pendidikan pesantren pada masa itu masih sangat sederhana. “Dulu Mbah Hasan Muchyi hanya sekedar mengajari orang-orang desa, ya seperti mengaji biasa” tutur Gus Ibik selaku Pengasuh Pesantren Salafiyah. Keberadaan Pesantren Kapurejo pada awal berdiri memang masih menggunakan sistem yang sederhana, sampai kedatangan KH. Hasyim Asy’ari yang melakukan pengembangan sistem Pesantren Kapurejo.

Bertemunya Nyai Masruroh dengan KH. Hasyim Asy’ari

Sebelum bersama KH. Hasyim Asy’ari, suami pertama Nyai Masruroh adalah seorang Pengasuh Pesantren Jampes Kediri yang bernama Kiai Ihsan. Dalam pernikahan beliau dengan Kiai Ihsan tidak dikaruniai keturunan sehingga furqoh atau bercerai. Nyai Masruroh kemudian dinikahkan dengan Sayyid Shodaqoh dari Bani Dahlan. Dalam pernikahan dengan suami kedua beliau dikaruniai seorang putri bernama Nur Jannah, sayangnya tidak bertahan lama. Beliau furqoh dengan Sayyid Shodaqoh dan putri beliau Nur Jannah dibawa oleh Sayyid Shodaqoh.

Hingga suatu ketika Nyai Masruroh mengalami sakit. Keluarga tidak tega melihat keadaan Nyai Masruroh, hingga Kiai Hasan Muchyi membuat sebuah sayembara. Dalam sayembar tersebut siapa yang bisa membantu Nyai Masruroh untuk sembuh, jika perempuan akan dijadikan saudara dan jika laki-laki akan dijadikan suami untuk Nyai Masruroh. Kabar sayembara tersebut sampai pada KH. Hasyim Asy’ari. Sampai akhirnya KH. Hasyim Asy’ari datang ke Kapurejo dengan menaiki dhokar atau delman pada masa itu. Beliau datang untuk membantu Nyai Masruroh sembuh dan qodarullah Nyai Masruroh akhirnya sembuh.

Pada tahun 1920 KH. Hasyim Asy’ari resmi menikah dengan Nyai Masruroh. Keadaan KH. Hasyim Asy’ari memang sudah menduda sebelum menikahi Nyai Masruroh. Banyak stigma masyarakat yang mengganggap KH. Hasyim Asy’ari berpoligami, padahal itu sangat tidak benar.

Hasyim Asy’ari bertemu dengan isteri pertamanya yaitu Nyai Khodijah putri Kiai Ya’qub Sidoarjo. Setelah menikah beliau bersama sang isteri pergi ke Mekkah, di sana beliau dikaruniai seorang putra bernama Abdullah namun wafat di usia bayi kemudian disusul oleh wafatnya isteri beliau. Kemudian Kiai Hasyim dipaksa untuk kembali ke tanah air dan melanjutkan kegiatannya belajar di Indonesia, setelah itu beliau menikah lagi dengan Nyai Nafiqoh putri dari Kiai Ilyas Pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dalam pernikahan ini dikaruniai putra-putri, diantaranya :

(1)   Hannah

(2)   Khoiriyah

(3)   Aisyah

(4)   Azzah

(5)   Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim

(6)   Abdul Hakim (Abdul Kholik)

(7)   Abdul Karim

(8)   Ubaidillah

(9)   Mashuroh

(10) Muhammad Yusuf

Setelah meninggalnya Nyai Nafiqoh, KH. Hasyim Asy’ari kemudian bertemu dengan Nyai Masruroh putri dari Kiai Hasan Pengasuh Pesantren Kapurejo dalam sebuah sayembara. Jadi, KH. Hasyim Asy’ari jelas tidak melakukan poligami karena beliau menikah lagi setelah isterinya wafat. Dalam pernikahan dengan isteri terakhir KH. Hasyim Asy’ari dikaruniai tiga orang anak, diantaranya

  • Nyai Fatimah
  • Nyai Khodijah
  • Muhammad Ya’qub.

Peran dan keteladanan dari Nyai Masruroh Hasyim Dalam Lingkungan Sosial

Setelah menikah Mbah Hasyim dan Nyai Masruroh sering bolak-balik antara Tebuireng dan Kapurejo. Mengingat ada tanggungjawab Mbah Hasyim/KH. Hasyim Asy’ari untuk merawat pesantren Tebuireng. Di sini Nyai Masruroh mengambil peran sebagi Bu Nyai membantu untuk mengasuh dua pesantren yaitu Pesantren Tebuireng dan Salafiyah Kapurejo. Nyai Masruroh dikenal sebagai sosok Ibu Nyai yang sangat cerdas, dermawan, sabar, dan berjiwa sosial tinggi.

Beliau selalu siap untuk mendukung sang suami dalam berjuang. Beliau juga sangat sigap jika ada masalah-masalah yang perlu dihadapi. Nyai Masruroh sangat dekat dengan para santri, termasuk santri putri. Beliau mengurusi urusan dapur bagi seluruh santri dan selalu memastikan seluruh santrinya tidak ada yang kelaparan. Selain mengajari ilmu agama dan ilmu kehidupan, beliau sering memberi nasihat kepada santri maupun orang-orang di sekitar beliau.

Menurut cerita dari seorang abdi dalem Mbah Hasyim dan Nyai Masruroh di kediaman Kapurejo (Mbah Zumaroh). Pasangan Nyai Masruroh dan KH. Hasyim Asy’ari merupakan pasangan yang sangat luar biasa kebaikannya bagi siapa saja. Dalam sebuah cerita, Bapak sebutan Mbah Zumaroh memanggil KH. Hasyim Asy’ari selalu membawakan permen gula untuk anak-anak di sekitar kediaman beliau di Kapurejo. “Bapak (Mbah Hasyim) nek saking Tebuireng terus mriki niku nitih dokar, lare alit-alit mesti gembruduk marani Bapak soale Bapak mesti bagi-bagi permen damel lare alit-alit siyen. Pokok e ngih, kepireng krenceng dokar nah niku pasti Bapak”. Cerita Mbah Zumaroh. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia “KH. Hasyim Asy’ari kalau dari Tebuireng (Jombang)  ke Kapurejo, anak kecil-kecil selalu menghampiri beliau karena KH. Hasyim selalu memberikan peremen gula untuk anak-anak kecil dulu. Pokoknya kalau dengar bunyi kricing delman itu pasti KH. Hasyim Asy’ari datang ke Kapurejo”. Begitu juga dengan isteri KH. Hasyim Asy’ari yaitu Al Mukaromah Nyai Masruroh yang memiliki kepedulian sangat tinggi. Diceritakan oleh keluarga Kapurejo dan para abdi dalem beliau, Nyai Masruroh selalu membantu siapa saja yang sedang kesusasahan. Beliau sangat sering menyuruh tetangganya yang kurang mampu untuk menggambil bahan makanan di ruang persediaan beliau. Nyai Masruroh tidak segan memanggil tetangganya yang lewat depan kediaman beliau sembari berkata “Njenengan mundhut kebutuhan damel nyekapi kebutuhan ten ngriyo, pun monggo mundhut seperlune ten ndalem”. Artinya “Anda ambil kebutuhan untuk mencukupi kebutuhan dirumah, silahkan ambil seperlunya di dalam rumah saya ya”. Cerita Mbah Zumaroh menirukan Nyai Masruroh.

Tidak hanya itu, Nyai Masruroh sering memberikan makanan dan pakaian bagi siapa saja yang membutuhkan karena beliau selalu tidak tega bahkan pernah menangis melihat tetangganya kelaparan atau kesusahan. Sifat murni beliau yang ada sejak kecil ditambah di sanding oleh seorang KH. Hasyim Asy’ari yang juga dermawan membuat beliau dan sang suami sangat disegani oleh siapapun. Bahkan menurut penuturan Gus Fahmi (Cucu KH. Hasyim Asy’ari dan pengasuh pesantren putri Tebuireng), KH. Hasyim Asy’ari senang memborong dagangan pedagang kecil yang beliau temui. Sungguh contoh sikap mulia dari tokoh ulama yang bisa diteladani oleh generasi bangsa.

Nyai Masruroh juga aktif mengajar santri putri baik di Pesantren Tebuireng maupun di Pesantrennya sendiri yaitu Kapurejo. Beliau sangat dekat dengan semua santri, aura keibuan beliau yang menenangkan selalu membuat para santri luluh dan gampang menerima ilmu atau nasihat dari beliau. Nyai Masruroh sering berpesan agar para santri maupun tetangga beliau untuk tidak putus asa dalam berdoa. Beliau selalu meyakinkan pada siapa saja bahwa Allah itu Maha Baik, Rohman, Rohim untuk semua hambaNya yang mau bersabar dan terus berusaha. Nasihat tersebut merupakan salah satu dari banyaknya nasihat yang sering diceritakan para abdi daem beliau, diantaranya adalah Pak Malik dan Mbah Maroh.

Figur Nyai Masruroh dalam Keluarga dan Masyarakat

Nyai Masruroh dimata KH. Hasyim Asy’ari adalah sosok isteri yang sangat tawadhu kepada suami dan sangat sederhana. Beliau tidak pernah menuntut untuk dibelikan kebaya baru, kesederhanaan beliau bisa dilihat dari cara berpakaian beliau yang tidak terlalu mewah. Jika dalam adegan Film Sang Kiai Nyai Masruroh hanya akan menggunakan kebaya mewah jika pada acara yang pantas. Bahkan kerudung yang diberikan KH. Hasyim Asy’ari selalu beliau simpan rapi dan akan dipakai dalam acara tertentu.

Nyai Masruroh sangat menyayangi KH. Hasyim Asy’ari dan anak-anaknya. Ketika sang suami berada dalam bahaya atau ancaman dari penjajah, beliau selalu terlihat nampak khawatir. Nyai Masruroh selalu memantau keadaan KH. Hasyim Asy’ari jika tidak sedang bersama. Beliau merupakan figur Ibu yang juga luar biasa bagi putra putri beliau. Didikan yang diberikan adalah didikan terbaik seorang Ibu terhadap anak. Terbukti dari putra putri beliau yang berkembang menjadi pribadi yang memiliki potensi karakter masing-masing. Seperti Nyai Siti Khodijah yang merupakan tokoh emansipasi, tokoh ulama perempuan pengasuh pesantren dan juga pernah menjabat sebagai DPR pada masanya.

Peran Nyai Masruroh juga berpengaruh baik pada perkembangan cucu-cucu beliau, yang diantaranya cucu dari Siti Fatimah dan Muhammad Dawam adalah Qurrotul’aini, dari Siti Khodijah dan Muhammad Hadziq dikaruniai cucu diantaranya Muhammad Ishom, Fahmi Amrullah, dan Muhammad Zaki Hadziq. Nyai Masruroh sebagai seorang Mbah Putri atau  nenek bagi para cucu yang sempat mengenal beliau, memiliki kesan tersendiri. Para cucu beliau juga mengikuti jejak kakek-nenek mereka terutama dalam mendalami ilmu agama serta gigih berikhtiar.

Menjadi isteri dari seorang tokoh ulama besar tidaklah hal yang sepele bagi Nyai Masruroh. Beliau selalu berusaha yang terbaik untuk mengabdi pada sang suami. Selain menjadi support system kepada KH. Hasyim Asy’ari dalam menghadapi segala rintangan. Beliau juga sangat gigih dalam berikhtiar, bahkan menurut penjelasan dari cucu beliau (Gus Fahmi) Nyai Masruroh sangat tekun dalam bertirakat seperti puasa dan ibadah sholat yang beliau lakukan, hampir setiap hari Nyai Masruroh berpuasa. Hal tersebut merupakan salah satu upaya atau usaha seorang Nyai Masruroh yang dianugerahkan menjadi isteri dari KH. Hasyim Asy’ari. Usaha semacam tirakat atau ikhtiar yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT dan sebagai penopang sang suami serta agar mendapat barokah yang bisa bermanfaat bagi anak cucu atau keturunan beliau.

Nyai Masruroh sering berpesan kepada para santri beliau, terutama santri putri untuk menjadi isteri yang baik bagi suaminya kelak. Seperti yang diterangkan oleh Gus Ibik selaku Dzuriyah Kiai Hasan Muchyi dan pengasuh Pesantren Salafiyah Kapurejo. Beliau memang sering berpesan kepada santriwati terutama pada masa itu seperti yang ada dalam adegan Film Sang Kiai. Beliau sering berpesan “Inget yo nak, perempuan itu ibarat pakaian bagi laki-laki, menghangatkan di musim hujan dan meneduhkan disaat kemarau” Nasihat ini beliau serap dari QS. Al-Baqarah ayat 187. Yang dimana dalam surah tersebut Allah SWT mengumpamakan ibarat pasangan suami istri adalah sebagai pakaian. Fungsi pakaian bukan hanya untuk melindungi dari panasnya matahari atau dinginnya angin dan hujan, namun juga sebagai identitas diri sesama pasangan, saling menjaga aib, dan saling melengkapi serta mendukung untuk mencapai Keridhloan Ilahi.

Suka duka bersama dilewati oleh KH. Hasyim Asy’ari dan Nyai Masruroh. Pada suatu ketika di tahun 1942 KH. Hasyim Asy’ari ditangkap oleh Tentara Jepang untuk dipaksa menghormati Kaisar Hirohito dan ketaatan pada Amarterasu Omikami atau Dewa Matahari. Pada saat kejadian itu para santri beliau berusaha untuk membebaskan dan membuntuti KH. Hasyim Asy’ari guna memastikan keadaan beliau. Nyai Masruroh yang waktu itu berada di Tebuireng sampai rela mengungsi ke Denanyar sesuai permintaan KH. Hasyim Asy’ari. Sebagai seorang isteri jelas kekhawatiran dan kesedihan Nyai Masruroh diuji saat itu. Namun, beliau tidak berdiam diri. Nyai Masruroh tetap semangat mengajar santri putri dan selalu memohonkan doa untuk sang suami tercinta.

Nyai Masruroh sangat setia menemani KH. Hasyim Asy’ari bagaimanapun keadaannya. Ketika Mbah Hasyim merasa banyak pikiran karena mencari solusi untuk negeri ini, seorang Nyai Masruroh selalu hadir untuk menenangkan, menjadi tempat bercerita yang baik bagi sang suami dan selalu menjadi pendukung pertama sang suami dalam proses berjuangnya. Hingga pada 25 Juli 1947 KH. Muhammad Hasyim Asy’ari wafat, Nyai Masrurohlah yang senantiasa setia merawat beliau dari sakit sampai wafat dan beliau orang pertama yang terlihat sangat terpukul, namun keikhlasannya sangat luas terhadap menghadapnya sang suami tercinta pada Allah SWT.

Nyai Masruroh Hasyim binti Hasan Muchyi tutup usia pada tahun 1979 dalam keadaan sakit diabetes. Beliau dimakamkan di Pemakaman Tebuireng bersama dengan mendiang KH. Hasyim Asy’ari beserta dzuriyah yang lain. Kepergian beliau jelas memberi kesan kesedihan mendalam bagi banyak orang, namun beliau tidak pernah meninggal di hati serta kenangan banyak orang. Bu Nyai Masruroh atau Nyai Kapu merupakan figur atau tokoh ulama Perempuan sekaligus isteri KH. Hasyim Asy’ari yang sangat luar biasa, kebaikan beliau, kesederhanaan, lembutnya tutur kata serta perilaku, dan kepeduliannya yang sangat tinggi merupakan bukti nyata kehadiran beliau dengan beribu energi positif yang beliau sebarkan melalui tutur kata dan perbuatan. Seorang Nyai Masruroh merupakan isteri yang sangat mencintai secara tulus, setia dan selalu berusaha untuk bersama sang suami untuk menciptakan suasanan mawaddah dan warahmah sampai di Syurga. Nama beliau juga disematkan sebagai nama Pesantren Al Masruriah yang berada di Jombang. Pesantren tersebut didirikan oleh putri beliau yaitu Nyai Siti Khodijah, nama Nyai Masruroh disematkan untuk mengenang sosok perempuan luar biasa. Nyai Masruroh Hasyim Binti Hasan Muchyi.

Dari beliau kita banyak belajar hal-hal baik dalam kehidupan. Nama dan kisahnya yang tidak banyak diketahui orang sebenarnya menyimpan berbagai ekspresi jiwa dan energi positif bagi siapa saja yang berusaha mengenal beliau. Naskah biografi ini memang saya rasa masih belum 100 persen sempurna. Akan diadakan penelitian lanjutan tentang Nyai Masruroh. Diharapkan naskah ini bisa memperkenalkan sosok hebat sehingga bisa dijadikan wawasan, serta bisa diserap pembelajaran dan keteladanan beliau sebagai role model Ulama perempuan NU yang memiliki pengaruh besar. Tulisan ini murni didapatkan dari hasil penelitian dengan para dzuriyah, data silsilah dari keluarga Kapurejo dan Tebuireng, serta wawancara dengan para abdi dalem.

Naskah pendek ini saya persembahkan kepada yang terhormat para dzuriyah. Kepada Gus Ibik selaku pengasuh pesantren salafiyah Kediri, Bu Tutut dan Pak Shofwan, Almarhum Gus Ishom, Gus Fahmi, Gus Zaki selaku cucu beliau yang sudah memberi izin serta membantu kami mengenal lebih dalam Nyai Masruroh. Teruntuk Almarhumah Ibu saya dan keluarga saya yang selalu menjadi motivasi dalam berproses. Kepada yang terhormat para abdi dalem beserta santri KH. Hasyim Asy’ari dan Nyai Masruroh yaitu Pak Malik dan Mbah Zumaroh yang berkenan menceritakan memori nyata tentang beliau. Saya ucapkan terimakasih juga kepada Dosen saya Pak Arif Subekti, Mbak Ais, Mbak Bibah, Mbak Nurhasannah, dan juga Alfina Maulida yang sudah membantu serta menemani proses penelitian ini. Semoga bermanfaat untuk banyak orang dan bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menyerap energi baik dari Beliau. Mari berdoa untuk Para Ulama kita. Al-Fatihah.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Buku Silsilah Mbah KH. Hasan Muchyi. Kediri: Pesantren Kapurejo Pagu

Burhanuddin Jajat. 2002. Ulama Perempuan Indonesia. Jakarta: Gramedia

Hadzik Ishom. Mengenal K.H. Hasyim Asy’ari dan Pondok Pesantren Tebuireng. Jombang: Pustaka Tebuireng.

Huda Syamsul. 2014. Guru Sejati Hasyim Asr’ari. Jombang: Pustaka Inspira

Mukani. 2015. Biografi dan Nasihat Hadrotussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.                    Jombang: Pustaka Tebuireng.

Dokumen dan wawancara dengan :

Gus Hamdan Ibik (Dzuriyah dan Pengasuh Pesantren Salafiyah, Kapurejo, Pagu, Kediri

Ibu Qurrotul’aini dan Pak Shofwan Hadi (Cucu KH. Hasyim Asy’ari dan Nyai Masruroh)

Gus Fami (Cucu KH. Hasyim Asy’ari dan Nyai Masruroh dan Pengasuh Pesantren Putri Tebuireng)

Mbah Zumaroh (Santriwati dan Abdi Dalem Nyai Masruroh)

Pak Malik (Santri KH. Hasyim Asy’ari dan Abdi Dalem beliau).