Oleh: Admin

Sayiddah Aisyah R.A merupakan salah satu istri Nabi Muhammad SAW yang sangat beliau cintai. Ayahnya bernama Abu Bakar Ash-Shiddiq sedangkan ibunya bernama Ummi Ruman. Beliau juga memiliki kakak yang teguh dalam memegang sunah yaitu Abdurrahman, dikisahkan bahwa Abdurrahman menolak baiat kepada Yazid putra Muawiyah untuk menjadi khalifah, dengan berkata “Apakah engkau akan menjadi Heraclius ? satu kaisar yang mati akan digantikan keturunannya? Demi Allah aku tidak akan melaksanakan baiat untuk Yazid.”

Selain memiliki kakak lelaki, Sayiddah Aisyah R.A juga memiliki kakak perempuan yang tidak kalah tangguhnya. Namanya Asma’, seorang wanita yang begitu sabar atas kekejaman Al-Hajjaj, seorang gubernur yang haus darah. Dikisahkan anak laki-laki Asma bernama Abdullah bin Zubair yang berusaha bertahan atas penekanan para pejabat Bani Umayyah, beliau sempat merasakan kecemasan karena diancam mau dibunuh oleh Al-Hajjaj.

Asma’ sebagai ibunya dengan lantang mengucapkan “Wahai anakku, sesungguhnya seekor kambing tidak lagi merasakan sesuatu pun manakala lehernya disembelih, pisau tidak lagi berhaya baginya. Jika engkau berada dalam kebenaran temuilah Bani Umayyah dengan memohon rahmat Allah. Sebaliknya jika engkau berada dalam kebatilan sungguh buruk yang akan membinasakan engkau dan sahabat-sahabatmu.”

Sayyidah Aisyah ditumbuh dewasa di dalam lingkungan keluarga yang sangat taat kepada Allah dan RasulNya.  Sehingga membuat Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus terhadap Sayyidah Aisyah ketika masih kecil. Pernah suatu ketika beliau Rasulullah SAW berpesan terhadap Ummi Ruman agar Sayyidah Aisyah dirawat dan dijaga dengan baik. Sayyidah Aisyah tumbuh menjadi gadis yang cantik, cerdas, ceria, pandai berbahasa, bersyair, dan lain sebagainya.

Menikah dengan Rasulullah SAW

Ketika Siti Khadijah meninggal dunia, Rasulullah SAW sangatlah sedih. Melihat kesedihan baginda Nabi, tak seorang pun dari para sahabat berani memberikan solusi atas permasalahan yang dialaminya ini. Hingga kemudian ada seorang wanita bernama Haulah binti Hakim As-Salmiyah yang memohon diri untuk datang ke rumah Rasulullah SAW. Haulah menilai bahwa kesedihan Rasulullah SAW bisa agak berkurang tatkala memiliki pendamping hidup. Menjadi penguat dan pendukung dalam perjuangannya berdakwah.

Haulah datang menawarkan dua wanita untuk dinikahi Rasulullah SAW, yaitu seorang gadis yang bernama Aisyah binti Abu Bakar dan seorang janda bernama Saudah bin Zam’ah. Pilihan Nabi Muhammad  SAW jatuh kepada Siti Aisyah. Beliau meminta bantuan Haulah untuk meminang Aisyah. Sebelum terjadi peristiwa pinangan Rasulullah SAW terhadap Siti Aisyah ini, terlebih dahulu Abu Bakar memiliki janji dengan Mut’am bin Adie untuk menikahkan anak lelakinya dengan Siti Aisyah. Abu Bakar harus menyelesaikan permasalahnya dengan Mut’am bin Adie terlebih dahulu sebelum menerima pinangan Rasulullah SAW. Al-hasil setelah Abu Bakar menemui Mut’am bin Adie ternyata mereka sangat keberatan jika harus pindah agama ketika anaknya menikah dengan Siti Aisyah. Perjodohan ini akhirnya tidak terlaksana.

Rasulullah SAW pun Siti Aisyah pun akhirnya menikah yang berlangsung pada bulan Syawal tahun 2 H, waktu itu usia Siti Aisyah baru sembilan tahun. Maharnya 500 dirham. Menurut Aisyah pernikahan dilaksanakan pada bulan Syawal memiliki keberkahan tersendiri. Itulah yang membuatnya menyuruh keluraga dan teman-temannya untuk mengawinkan putra-putrinya di bulan Syawal.