16 Pembaca

Oleh: Santri Kalong

 

Sebelum Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Peradaban dunia dikuasai oleh dua bangsa yang amat gagah, yaitu Persia dan Romawi, kemudian menyusul bangsa adidaya berikutnya, yaitu India dan Yunani. Waktu itu bangsa Persia mengalami gejolak agama dan kemerosotan falsafah kehidupan. Para pembesarnya menganut agama Majusi (Zuradisy) yang memiliki falsafah kehidupan diperbolehkan mengawini anak perempuannya, adik perempuannya, saudara perempuannya, bahkan ibu kandungnya sendiri. Seperti contoh yang terjadi pada abad kelima masehi, sang pembesar Persia bernama Empayar Yazdajrid mengawini anak perempuanya. Bukan hanya itu, banyak penyimpangan kemanusiaan lainnya yang dilakukan oleh pembesar Persia pada zaman tersebut.

Menurut Al-Imam al-Syahrustani di dalam karyanya yang berjudul Al-Milal wa al-Nihal, menyebutkan bahwa di Persia terdapat ajaran yang beranama Mazdakia, yaitu mengahalalkan setiap wanita, harta benda, atau kepunyaan lainnya yang bersifat pribadi menjadi kepunyaan bersama (umum). Sedangkan bangsa Romawi telah mengalami semangat penjajahan dan bergelut dalam konflik agama. Satu sisi berpihak pada agama Romawi, dan satu sisinya lagi berpihak pada agama Nasrani. Bangsa Romawi bergantung penuh dengan kekuatan militernya, yang digunakan untuk menjajah bangsa lain dalam rangka menyebarkan agama Kristen. Bangsa Persia dan Romawi mengalami kondisi yang sama, yaitu kemorosotan moral, kehilangan jati diri bangsa yang hanya dikuasai oleh hawa nafsunya belaka. Hidup dalam kemewahan serta memeras rakyat jelata. Kenaikan pajak yang sangat tinggi sehinga membuat rakyat sangat menderita.

Sedangkan Yunani sendiri menjadi bangsa yang tenggelam dalam mitos-mitos verbal yang tidak memberikan dampat manfaat sedikit pun bagi mereka. Demikian pula dengan India, pada abad keenam masehi telah mengalami kemerosotan moral maupun kehidupan sosialnya. Mereka mulai melupakan ajaran para leluhurnya yang suci itu.

Pada intinya empat bangsa adidaya tersebut sedang mengalami kemorosotan peradaban. Mereka lebih mengutamakan nilai metrialistik, tanpa memperdulikan nilai-nilai moral kebenaran yang dibawa oleh para leluhurnya. Lebih mengutamakan nilai sepiritual sebagai bungkus suci dalam melakukan tindakan yang melanggar nilai luhur kemanusiaan.

Sementara di Jazirah Arab berlangsung kehidupan tenang yang jauh dari gunjangan seperti yang terjadi pada bangsa adidaya. Mereka tidak memiliki kemewahan seperti bangsa Persia, tidak memiliki kekuatan militer seperti bangsa Romawi, tidak memiliki kemegahan folosofis yang menjerat pada mitos dan khufarat seperti bangsa Yunani, dan tidak seperti bangsa India yang mengalami kemorosotan kepercayaan nilai luhur dari para pendahulunya.

Bangsa Arab seperti halnya bahan baku yang belum diolah.  Di sana masih menampilkan fitrah kemanusiaan seperti sikap kesetiaan, penolong, dermawan, menjunjung tinggi harga diri, kesucian dan merawat adat kebudayaan. Hanya saja mereka tidak memiliki pengatahuan dalam membawa firah kemanusiaan itu ke jalan kebaikan. Seperti contoh membunuh anak perempuan dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta benda dengan dalih kedermawanan, dan melakukan peperangan di antara kabilah dengan dalih menjunjung tinggi harga diri.

Secara sekilas mereka masih memegang erat nilai luhur dari para pendahulunya. Hanya dalam mengarahkannya untuk menuju kebaikan masih belum bisa. Mereka tidak memiliki pengetahuan dalam membawa nilai luhur ini agar menjadi baik. Gambaran seperti ini terekam dalam Al-Qur’an, Surah al-Baqarah ayat 198, yang berbunci “Dan sesungguhnya kamu benar-benar termasuk oang yang sesat.

Hal ini menjadi tanda bahwa bangsa Arab memiliki sifat kesesatan yang murni. Sehingga dapat kita bedakan dengan bangsa adidaya di atas yang mengalamai kemerosotan sebab adanya ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Mereka terjerumus dalam kerusakan dengan penuh kesadaran, perencanaan dan pemikiran. Sedangkan bangsa Arab, tidak seperti itu. Mereka hanya saja tidak memiliki pengetahuan dalam membawa kesucian ajarannya menuju kebaikan.

Menurut Ustadz Muhammad Mubarak, Jazirah Arab berada di antara dua peradaban. Peradaban Persia dan Romawi yang lebih mengutamakan materilistik, yang memposisikan sangat rendah kehormatan manusia, dan peradaban sepritual yang penuh khayalan, seperti yang terjadi di India, Cina dan sekitarnya.

Maka dari itu, jika sudah diketahui kondisi Jaziarah Arab dan sekitarnya yang seperti keterangan di atas, maka dengan mudah dapat diambil hikmahnya kenapa Jaziarah Arab dijadikan tempat kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW dan menjadi tempat pertama kali turunya agama Islam. Karena Nabi Muhammad SAW akan memberikan pengetahuan dalam mengarahkan nilai luhur tersebut ke jalan kebenaran atau kebaikan.

Sejalan dengan ini Nabi Muhammad SAW dipilih sebagai utusan Allah menjadi seorang ummi, yang tidak bisa menulis dan membaca. Hikmah dari qodo’ dan qodar Allah ini, agar manusia di Jaziarah Arab tidak ragu dengan kenabiannya, dan tidak ragu dengan ajaran yang dibawanya. Menjadi seorang ummi tentu saja tidak mungkin membuat firman sendiri, semua atas bimbingan Allah SWT. Singkat kata inilah kekuasaan Allah SWT dalam memilih Jazirah Arab, dan menunjukan pula kekuasaanNya bahwa agama Islam benar datang dan diridhoi oeh Allah SWT.

 

Wallahu’alambishowab…

 

Sumber Rujukan

Al-Buthy, Muhammad Sa’id Ramadhan, “Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW”, Jakarta, Rabbani Press, 1999

Al-Mubarakfuriyy, Syaikh Safy al-Rahman, “Ar-Rahiq al-Makhtum, Sirah Nabawiyah Sejarah Lengkap Kehidupan Nabi Muhammad SAW”, Jakarta, Qisthi Press, 2014.