18 Pembaca

Oleh: Amirul Ulum

Ketika mendengar Kesultanan Mataram hendak diekspansi ke dalam wilayah Turky Ottoman, maka Sultan Agung mengajak kakak iparnya (Syaikh Jangkung/ sebagian redaksi yang diajak adalah Sunan Kalijaga) untuk mendatangi Sultan Ottoman. Setelah terjadi pertemuan yang mengharuskan adu keilmuan akhirnya Sultan Turky mengakui keilmuan keduanya. Karena alasan kelebihan ini, maka Sultan Agung dianggap seperti saudara tua.

Setelah dari Turky Ottoman, Sultan Agung bersama dengan Sunan Kalijaga/ Syaikh Jangkung mengunjungi Haramain untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Melihat keagungan Haramain, Sultan Agung mempunyai keinginan jika meninggal nanti supaya dimakamkan di Haramain bersama para nabi dan para ulama, namun permintaan tersebut ditolak oleh Mufti Hijaz.

Sunan Kalijaga tidak kuasa melihat kesedihan Sultan Agung. Akhirnya ia mengambil segenggam tanah dari Haramain yang dilemparkan (melalui karomahnya) hingga sampai ke Nusantara. Tanah tersebut adalah tanah suci, yang berkesinambungan dengan tanah suci Haramain. Sunan Kalijaga meminta agar Sultan Agung mengejar tanah tersebut, dimana tanah tersebut berhenti maka disitulah bumi suci yang menjadi tempat pemakamannya nanti.

Namun apa daya. Ketika tanah tersebut jatuh ke Giriloyo, ternyata Sultan Cirebon V (paman Sultan Agung) sudah menunggui jatuhnya tanah tersebut dan ia juga ingin dimakamkan di tempat jatuhnya tanah Haramain itu. Akhirnya Sultan Agung mengalah.

Untuk menghibur kesedihan Sultan Agung, akhirnya Sunan Kalijaga menunjukkan bumi yang berkahnya tidak jauh berbeda dengan Giriloyo, yaitu Makam Imogiri, yang menjadi makam raja-raja Mataram sekarang, seperti Sultan Agung dan beberapa keturunannya.

Meskipun Sultan Agung tidak dapat dimakamkam di Haramain, namun beliau sangat mencintai Haramain, buktinya ia mempunyai tanah wakaf di sana yang diperuntukkan bagi para jamaah dan thalabah Nusantara saat mengaji kepada ulama Haramain di Masjidil Haram. Berkah kecintaannya pada Haramain ini, maka tidak mengherankan jika ada keturunannya yang menjadi pengajar di Masjidil Haram, yaitu Syaikh Baqir al-Jogjawi dan Syaikh Yasin al-Fadani.

Yogyakarta, 21 Oktober 2021