/>
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Beli Buku

Sultan Mahmud al-Minangkabawi (Mbah Jejeruk)

Oleh : Amirul Ulum

“Adat basandi syara, syara basandi kitabullah.

(Pepatah Muslim Minangkabau)

Hubungan Islam di Jawa dan Minangkabau (Sumatra Barat) terjalin akrab semenjak zaman Walisanga (abad 14-16 M). Ketika Sunan Giri dan Sunan Bonang merampungkan dirasahnya dari Pesantren Ampel Gading (asuhan Sunan Ampel), Pesantren Taman Sari di Aceh (asuhan  Maulana Ishaq), dan Haramain, kemudian keduanya kembali ke kampung halamannya. Sunan Giri mendirikan padepokan di Giri Kedathon Gresik, sedangkan Sunan Bonang diperintahkan ayahnya untuk mendirikan pesantren di Bonang-Binangun, Lasem.

Saat Sunan Giri sudah mengabdikan diri menolong agama Allah dengan mendirikan Pesantren Giri Kedathon, banyak thalabah yang beristifadah kepadanya. Bukan hanya berasal dari masyarakat setempat, namun sampai luar pulau seperti Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara, di antara muridnya yang menjadi ulama besar adalah Datuk ri Bandang bersama dengan kedua saudaranya, Datuk ri Ditiro dan Datuk ri Patimang. Ketiga ulama ini berasal dari Minangkabau. Merekalah yang menyebarkan Islam di wilayah Sumatra Barat sampai Sulawesi.[1]

Sunan Bonang tidak jauh beda dengan Sunan Giri. Selain keduanya adalah sama-sama anggota Walisanga yang dituakan pasca wafatnya Sunan Ampel, murid-muridnya juga tidak hanya berasal dari masyarakat setempat. Nama Sunan Bonang masyhur melalui jaringan keilmuan yang dibangunnya. Ia mempunyai murid yang berasal dari Minangkabau sebagaimana Sunan Giri. Hanya saja murid Sunan Bonang ini merupakan seorang Raja Minangkabau. Ketika ia sudah bertemu dengan Sunan Bonang dan mengambah (belajar) samudra keilmuan yang dimilikinya, maka ia sudah tidak lagi terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia. Ia meninggalkan singgasanya. Tahtanya diberikan kepada keluarganya yang berada di Sumatra Barat. Ia ingin mengabdikan diri kepada Sunan Bonang hingga akhir hayatnya. Sosok tersebut adalah Sultan Mahmud al-Minangkabawi.

Kisahnya bermula, waktu ayahanda Sultan Mahmud al-Minangkabawi meninggal dunia. Sebelum meninggal, sang ayah memberikan wasiat kepada al-Minangkabawi untuk mempelajari isi sebuah kitab yang diberikannya. Ternyata, saat kitab tersebut dibaca dan ingin diamalkan isi yang terkandung di dalamnya, ia mengalami kesulitan untuk membacanya,  sehingga hal ini berimbas ia tidak dapat memahami apa yang terkandung dalam kitab yang diamanahkan ayahandanya tersebut.

Beli Buku

Karena merasa penasaran dengan isi yang terkandung di dalam kitab tersebut,  Sultan Mahmud al-Minangkabawi meminta pendapat penasehat kesultanan untuk mengatasi masalahnya. Ia mendapatkan nasehat, orang yang dapat membaca dan memahami isi yang terkandung dalam kitab tersebut adalah ulama Haramain, sebab di sana berkumpul beberapa alim ulama dari belahan dunia Islam yang ilmunya ditimba banyak thalabah dari berbagai kawasan. Dengan penuh harapan, al-Minangkabawi melaksanakan saran penasehatnya untuk mencari guru di Haramain supaya berkenan mengajari isi kitab tersebut.

Ketika sampai di Haramain, Sultan Mahmud al-Minangkabawi  menemui beberapa ulama di sana untuk dimintai tolong supaya berkenan mengajari isi yang terkandung dalam kitab peninggalan ayahandanya. Ternyata, ulama yang ditemuinya tidak ada yang sanggup untuk menguraikan ganjalan yang ada di benak fikirannya. Hanya saja ada salah satu ulama Haramain yang memberikan masukan bahwa ulama yang sanggup untuk membaca dan menjelaskan isi kitab tersebut bernama Syaikh Makhdum Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Bonang, yang berasal dari Bonang-Binangun, Lasem.

Mendengar nasehat tersebut, Sultan Mahmud al-Minangkabawi bergegas untuk menemui Syaikh Makhdum Ibrahim. Ia ditemani oleh abdinya berangkat menuju pelabuhan Bonang-Binangun. Alangkah sedihnya al-Minangkabawi, sebab kapal yang ditumpanginya diterjang ombak besar, sehingga barang-barang berharganya, termasuk kitab wasiat dari ayahandanya raib.  Mereka terdampar di laut Bonang.

Di tengah kesedihan Sultan Mahmud al-Minangkabawi, sang abdi menasehatinya bahwa meskipun kitab tersebut hilang, ia merasa yakin bahwa ulama yang sedang dicarinya ini bukan sembarangn ulama, sehingga sangat dimungkinkan bahwa sang ulama tersebut sudah mengetahui isi yang terkandung dalam kitab yang raib. Keduanya bergegas untuk mencari kediaman Syaikh Makhdum Ibrahim.

Ketika sudah sampai di kediaman Sunan Bonang, Sultan Mahmud al-Minangkabawi merasa ragu dengan sosok ulama yang dicarinya selama ini. Ia merasa enggan untuk masuk ke dalam rumahnya. Hal ini disebabkan kediaman Sunan Bonang sangat sederhana, tidak sesuai dengan kebesaran namanya. Oleh abdinya, al-Minangkabawi dinasehati bahwa yang dicari adalah orangnya, bukan megahnya rumah dan gemerlapnya harta. Sang sultan pun seketika insaf dengan sikapnya tersebut. Allah pun menunjukkan jalan baginya.

Ketika Sultan Mahmud al-Minangkabawi dipersilahkan masuk di kediaman Syaikh Makhdum Ibrahim, ia merasa tenang.  Ternyata kesejukan rumah tidak harus digantungkan dengan mahalnya perabotan yang ada di dalamnya, namun bisa disebabkan siapa yang menghuninya. Jika sebuah rumah dihuni oleh orang alim yang gemar dalam menjalankan ibadah kepada Allah, maka rumah tersebut akan mengeluarkan cahaya dan mendatangkan kesejukan.

Sultan Mahmud al-Minangkabawi mengutarakan hajatnya yang hendak berguru kepada Sunan Bonang atas wasiat ayahandanya yang menyuruh untuk mempelajari dan mengamalkan isi kitab yang diberikan kepadanya, namun raib diterjang ombak.

Tidak lama usai mendengarkan cerita dari Sultan Mahmud al-Minangkabawi, atas izin Allah, dengan karomah yang diberikan kepada  Sunan Bonang, kitab milik al-Minangkabawi dapat kembali kepadanya. Peristiwa ini membuat al-Minangkabawi semakin yakin bahwa Sunan Bonang adalah guru yang dicarinya selama ini.

Beli Buku

Setelah mendengar wejangan keilmuan dari Sunan Bonang, Sultan Mahmud al-Minangkabawi merasa bahwa amal yang selama ini dijalankannya belum ada apa-apanya. Ia ingin lebih fokus untuk belajar kepada Sunan Bonang dan mendalami isi kitab yang diwasiatkan kepadanya. Ia ingin meninggalkan singgasana kerajaan Minangkabau. Tahta ia berikan kepada adiknya. Iapun memerintahkan kepada abdinya kembali ke Minangkabau untuk menjemput istri dan anaknya supaya ikut hijrah ke Lasem guna mengabdikan diri sebagai pelayan agama di Lasem. Ia terbilang salah satu murid Sunan Bonang yang menonjol yang meneruskan perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam di Lasem.

Menurut sebuah sumber bahwa Sultan Mahmud al-Minangkabawi masih keturunan Sunan Giri yang diangkat menjadi raja di Minangkabau. Keluarganya di Minangkabau banyak yang dimakamkan di Desa Sumpur, Kudus, Sumbar. Di makam ini terdapat pula Pesarean Sultan Ibadat yang masih satu nasab dengan Tuanku Imam Bonjol.

Ketika sudah hijrah di Lasem, Sultan Mahmud al-Minangkabawi dikenal dengan nama Mbah Jejeruk. Ia mempunyai tiga putra, yaitu Sunan Senongko, Mbah Brayut Loh Gading, dan Mbah Brawut Sriombo.  Keturunan al-Minangkabawi ini banyak menjadi ulama sebagaimana keturunan Sayyid Syambu. Terkadang kedua trah ini menjalin hubungan kekeluargaan. Di antara keturunan al-Minangkabawi yang mempunyai kiprah penting dalam dunia keislaman adalah, Kiai Ma’shum Ahmad (keluarga PP. Al-Hidayat), Syaikh Masduqi Lasem (keluarga PP. Al-Islah), Kiai Masykuri Lasem, dan lain-lain. []

 

 

NB : Tulisan ini dikutip dari Buku Kebangkitan Ulama Rembang : Sumbangsih untuk Nusantara & Dunia Islam karya Amirul Ulum

[1] Amirul Ulum, Sunan Bonang., hal. 146-149.

Share:
Beli Buku
Avatar photo

Ulama Nusantara Center

Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *