Oleh : Amirul Ulum*

Ketika Pangeran Dipanegara mengumandangkan Perang Sabil, maka banyak kiai-santri yang ikut serta dalam mengangkat senjata, termasuk kiai Sarang, yaitu Kiai Saman dan Kiai Lanah. Ketika panglima tertinggi pasukan ini ditangkap dengan siasat liciknya kompeni, maka pasukan Dipanegara banyak yang melarikan diri dan mengalihkan perjuangannya yang asalnya dengan jalur fisik (adu senjata), dialihkan dengan jalur pendidikan dakwah al-Islamiyah, seperti dengan mendirikan Pesantren Sarang untuk mengkader generasi mudanya supaya kelak terbebas dari belenggu penjajah. Mengalihkan perjuangan dari jalur fisik ke jalur pendidikan bukan berarti, kiai Sarang takut melawan penjajah, namun mereka ingin mempersiapkan generasi yang handal, memiliki ilmu yang luas, sehingga di kemudian hari bangsa Indonesia dapat memperoleh kemerdekaannya secara utuh, sebab lamanya penjajah menginjak-nginjak bumi Nusantara disebabkan bangsa Indonesia masih minim yang berpendidikan, terlebih tarbiyah al-Islamiyah.

Ketika lembaga dakwah al-Islamiyah sudah banyak yang berdiri, para kiai tak henti-hentinya melafalkan doa supaya penjajah segera terusir dari bumi Nusantara. Salah satu cucu Kiai Saman ibn Yaman, yaitu Kiai Abdusyyakur meriwayatkan dalam sebuah syair akan kemerdekaan bangsa Indonesia, dengan turusirkan bangsa Jepang dari bumi Nusantara. Syair itu dibuat sebelum terjadinya Perang Dunia II, yang mengakibatkan jatuhnya Jepang. Jepang kalah dalam Perang Dunia II melawan Sekutu.

Kekalahan Jepang ini berdampak ia harus menyerah kepada Sekutu ABCD (Amerika, British, China, Dutch) tanpa syarat pada 15 Agustus 1945 M. Tidak ada pilihan lain bagi Jepang kecuali harus menyerah sebab ia sudah lumpuh total. Dikarenakan, kota induk Jepang, yaitu Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Sekutu pada 6 dan 10 Agustus 1945 M. Jantung perekonomian dan persenjataan Jepang hancur lebur berkeping-keping. Jepang kalang kabut, tidak berdaya. Ia yang asalnya menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, akhirnya tidak jadi, sebab kelumpuhannya dari dalam maupun luar. Kejadian ini terdengar sampai kepada umat Islam di Nusantara, yang membuat mereka tergugah ingin merebut kemerdekaan dengan tangannya sendiri, bukan atas pemberian bangsa lain. Allah pun mengabulkan keinginan bangsa Indonesia. Karena peran besar umat Islam dari merebut kemerdekaan ini, maka tidak berlebihan jika dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Tahun 1945, disebutkan bahwa kemerekaan bangsa Indonesia ini merupakan rahmat dari Allah. Bunyinya, “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaannya.”

Syair ramalan akan kemerdekaan bangsa Indonesia sering dibacakan oleh Kiai Maimoen Zubair dalam sebuah pengajiannya. Ia meriwayatkan syair tersebut dari ayahnya, Kiai Zubair Dahlan yang merupakan sahabat akrab dari Kiai Abul Fadhol Senori, yang tidak lain adalah putra dari Kiai Abdusyyakur. Syair tersebut adalah sebagai berikut :

أرخ اليفا في غشسا * صفر فكل بالواحد
بقتالهم وسيوفهم * ولججهم وتعاند
وفي رجب ترى عجبا * وفي الشهر الذي بعده
وفي رمضان همهمة * وهد بعده هدة
وفي شوال يشول القوم * ويسكن في ذوي القعدة
وفيها يخرج الهادي * إمام الحق لا بعده

“Tarikhkanlah bahwa Jepang akan menjinakkan Nusantara pada tahun ghisy-syisâ (kalau dihitung dengan standar Abajadun atau Hisâbul Jummal (jummal calculation) maka jumlahnya adalah 1361 H yang bertepatan dengan tahun 1942 M), mengosongkan dari penjajah yang lain (Belanda). Ia sebagai kolonial yang menyensarakan bangsa Indonesia. Silih berganti, peperangan, adu senjata dan perihnya mengarungi samudera. Ketika bulan Rajab (1365) (bertepatan dengan Juni 1945) telah terjadi sebuah keajaiban (Jepang mulai lumpuh ketika dalam Perang Dunia II), kemudian semakin lumpuh pada bulan Sya’ban (Juli 1945, yang puncak kelumpuhannya pada 6 dan 9 Agustus 1945 sebab kedua kota pusat Jepang, yaitu Hirosima dan Nagasaki telah dijatuhi bom atom oleh Sekutu. Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945). Kemudian pada Bulan Ramadhan (17 Agustus 1945) datanglah masa gembira-ria (proklamasi) bagi bangsa Indonesia. Dan pada bulan Syawal (September 1945), penderitaan Nusantara semakin membaik (karena sudah merdeka). Posisi Indonesia semakin tenang dengan kemerdekaannya pada Dzulqa’dah (Oktober 1945) (meskipun di bulan ini telah terjadi Agresi Militer Belanda I yang kemudian para kiai Nahdlatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk mengusir Belanda yang membonceng Sekutu yang ingin menjajah kembali ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia). Di bulan inilah Allah menampilkan sosok pemimpin yang dapat mengayomi masyrakatnya (Soekarno), seorang pemimpin sejati yang tidak ada duanya.”

Penulis pernah menanyakan perihal syair tersebut kepada Kiai Maimoen Zubair (2018 M), beliau memberikan sebuah keterangan bahwa syair tersebut berasal dari leluhur Pesantren Sarang, dalam hal ini adalah Kiai Saman ibn Yaman. Beliau juga sering menisbatkan syair ini kepada Kiai Abdussyakur al-Swedangi dan Kiai Syuaib ibn Abdurrozak. Hal ini tidaklah bertentangan sebab kedua ulama ini masih keturunan Kiai Saman ibn Yaman. Kiai Abdussyakur ibn Muhsin ibn Saman ibn Yaman dan Kiai Syuaib ibn Nyai Syarbiah binti Saman ibn Yaman.

Yogyakarta, 13 April 2020
*Santri Mbah Moen Sarang & Khadim UNC (Ulama Nusantara Center)
NB : Tentang sejarah syair kemerdekaan ini, sudah dikupas panjang lebar di buku “KH. Zubair Dahlan : Kontribusi Kiai Sarang untuk Nusantara & Dunia Islam”