Oleh: Ulfatul Azizah

Syekh Ikhsan Dahlan Al Jampesi atau biasa dikenal dengan Syekh Ikhsan merupakan tokoh ulama terkemuka yang berasal dari Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatam Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Syekh Ikhsan lahir pada tahun 1901 M, ketika masih kecil beliau diberi nama “Bakri”. Beliau merupakan putra kedua dari pasangan K.H Dahlan dan Nyai Artimah. Pernikahan ini tidak berlangsung lama, saat beliau berusia 5 tahun kedua orang tuanya resmi bercerai. Bakri akhirnya diambil asuh oleh neneknya yaitu Nyai Isti’anah dan ayahnya sendiri yaitu K.H Dahlan.

Bakri dididik dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Beliau merupakan seorang yang pandai dengan mempunyai kecerdasan dan daya ingat yang sangat menakjubkan. Selain Bakri mempunyai kecerdasan yang luar biasa, beliau juga gemar membaca buku, majalah, koran, hingga kitab-kitab yang berlandaskan agama. Saat menginjak remaja, beliau mulai menggeluti bidang seni dan sastra. Beliau mempunyai hobi menonton pertunjukan wayang kulit. Karena sering menonton pertunjukan wayang, tidak heran jika belia paham akan karakter dari tokoh-tokoh pewayangan dan cerita yang terkait dengan pewayangan.

Pada waktu kecil Bakri juga mempunyai tradisi melakukan judi, yang membuat keluh kesah keluarganya terutama neneknya (Nyai Istianah). Akan tetapi Bakri melakukan judi bukan karena ingin mengikuti hawa nafusnya. Bakri melakukan judi untuk membuat para pemain judi bisa kapok dan akhirnya bisa taubat kembali kepada Allah.[1]

Bakri sewaktu kecil hingga dewasa mendapatkan pendidikan dari keluarganya sendiri dan melalui lembaga pesantren. Beberapa pesantren yang pernah beliau singgahi yaitu: (1) Pondok Pesantren Bendo Pare, Kediri dalam asuhan  K.H Khozin (Paman Bakri sendiri). (2) Pondok Pesantren Jamseran Solo. (3) Pondok Pesantren dalam asuhan K.H Dahlan Semarang,(4) Pondok Pesantren Mangkang Semarang. (5) Pondok Pesantren Punduh Magelang dalam asuhan K.H Ma’shum. (6) Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk. (7) Pondok Pesantren Bangkalan Madura yang diasuh oleh K.H Kholil Bangkalan. Dalam proses mencari ilmu di pesantren beliau tidak pernah singgah  dengan waktu yang lama dikarenakan tidak betah tinggal di pesantren.

Seiring dengan berjalannya waktu ayahnya (K.H Dahlan) meminta Bakri untuk pulang ke Jampes, Kediri guna membantu ayahnya mengajar di pesantren, yaitu Pesantren Jampes. Karena K.H Dahlan merasa ilmu yang didapatkan anaknya selama mondok sudah cukup. Pada tahun 1926 M, Bakri memutuskan untuk menjalankan rukun islam yang ke lima yaitu menunaikan ibadah haji, sejak itu namanya berganti dengan K.H Ikhsan. Selang 2 tahun tepatnya pada tahun 1928 ayahnya K.H Dahlan menghembuskan nafas terakhir. Setelah sepeninggalan ayahnya, Pesantren Jampes dipegang oleh K.H Kholil/ biasa dipanggil Muharrar, yaitu adik dari K.H dahlan.[2]

Setelah kewafatan ayahnya (K.H Dahlan), selang tidak terlalu lama Syekh Ikhsan memutuskan untuk menikah dengan wanita asal Desa Sumberejo, Poncokusumo, Malang. Namun pernikahan ini tidak berlangsung lama dan akhirnya beliau resmi berpisah. Syekh Ikhsan menikah hingga 5 kali, akan tetapi pernikahannya gagal terus hingga pernikahan yang terakhir dengan Surati (Nyai Zaenab) puteri dari H. Abdurrahman, yang merupakan murid dari almarhum K.H Dahlan. Nyai Zaenab ini merupkan isteri terakhir yang menjadi pendamping hidup K.H Ikhsan untuk selamanya.

Syekh Ikhsan ini merupakan orang yang rendah diri, sabar, dan ikhlas. Dibuktikan dengan ketika beliau nyantri di Pondok Pesantren Jamseran, Solo tidak memperlihatkan identitas yang sebenarnya. Beliau hanya memperlihatkan identitasnya sebagai Bakri bin Abu Bakar alamat Desa Putih. Selain di Desa Jamsaren, Solo, beliau juga pernah bersikap sedemikian rupa waktu nyantri di Pondok Pesantren Punduh Magelang, dalam asuhan K.H Ma’shum. Waktu menjadi santri di Magelang ini, Syekh Ikhsan di perbudak atau dibuat pesuruh oleh santri lain khususnya oleh seniornya. Akan tetapi, beliau berusaha bersikap sabar dan ikhlas. Sampai-sampai hal ini terdengar oleh Kiai Ma’shum dan akhirnya Kiai Ma’sum menceritakan yang sebenarnya bahwa Bakri ini merupakan putra K.H Dahlan Jampes. Setelah identitasnya terbongkar beliau memutuskan untuk keluar dari pondok pesantren tersebut.

Pada saat proses mencari ilmu beliau tidak pernah singgah dengan waktu yang lama, misalnya saat mondok di Bangkalan, Madura di bawah asuhan K.H Kholil, beliau mempelajari ilmu nahwu lebih tepatnya Alfiyyah Ibnu Malik dengan waktu dua bulan. Setelah menyelesaikan alfiyyah beliau langsung bergegas untuk boyong. Di Pesantren Jamseran, Solo, Syekh Ikhsan singgah hanya 1 bulan. Dan di pesantren K.H Dahlan Semarang hanya 20 hari untuk belajar ilmu astronomi. Memang waktu yang ditempuh untuk mencari ilmu dari pondok ke pondok relative singkat akan tetapi beliau mampu mempelajarinya dengan baik dan sempurna.

Pada tahun 1932 M Syekh Ikhsan mendapat amanah dari K.H Kholil (paman K.H Ikhsan adik dari K.H Dahlan) untuk memimpin Pondok Pesantren Jampes Kediri, setelah K.H Kholil menjabat selama 4 tahun. Setelah Pondok Pesantren dipegang oleh Syekh Ikhsan banyak kemajuan yang bisa dilihat dari segi kuantitas dan kualitasnya.

Dari segi kuantitas jumlah santri dari tahun ke tahun mengalami penambahan hingga 1.000 santri, sehingga Pondok Pesantren Jampes mengalami perluasan wilayah hingga 1,5 Hektar. Dari segi kualitas, pada tahun 1942 M, K.H Ikhsan mendirikan Madrasah Mafatihul Huda atau biasa disebut dengan (MMH) sejak berdirinya madrasah ini pembelajaran yang ada di Pondok Pesantren Jampes Kediri semakin terkonsep rapi dan mempunyai sistematika yang baik dalam proses pembelajarannya. Salah satunya dengan menerapkan pembelajaran klasikal mulai dari kelas sifir, ula, sampai wustho.

Kegiatan sehari-hari Syekh Ikhsan adalah membaca kitab, menulis kitab, mengajar santri untuk bisa mengaji, shalat jamaah, shalat malam yang tidak pernah beliau tinggalkan. Selain itu, Syekh Ikhsan juga berkiprah di bidang sosial dan kesehatan. Di bidang sosial beliau dianggap tokoh yang sangat luhur budinya terhadap masyarakat yang tinggal di daerah Jampes Kediri. Beliau selalu menerima tamu siapa saja yang tidak mengenal kasta. Di bidang kesehatan beliau bisa mengobati orang sakit dengan diberikan karamah dari Allah s.w.t.

Pondok Pesantren Jampes Kediri ini juga mempunyai sejarah tersendiri, konon pada tahun 1945 Pondok ini menjadi transit para pejuang Indonesia untuk bisa menyerang Negara Belanda. Di pesantren ini para pejuang Indonesia meminta doa restu kepada Syekh Ihksan. Dalam hal ini Syekh ihksan turut andil dalam memperjuangkan Negara Indonesia dengan mengirim santri-satrinya untuk ikut membantu bertempur di medan perang.

Syekh Ikhsan wafat pada hari senin tanggal 25 dzulhijjah 1371 H/ 16 september 1952, pada usia 51 tahun. Berikut merupakan karya-karya yang pernah ditorehkan oleh Syekh Ikhsan Jampes Kediri.

Karya Syekh Ikhsan yang bisa dikenang masyarakat sampai saat ini yaitu kitab Siraj At Thalibin yang merupakan syarah dari kitab Minhaj al abiding karya Al Ghazali. Kitab ini berisi tentang ilmu tasawuf. Kitab karangan Syekh Ihksan ini banyak digunakan dikalangan Pondok Pesantren salafi.

Selain kitab Siraj ath thalibin karya-karya yang pernah ditorehkan oleh Syekh Ikhsan diantaranya adalah:

  1. Tashrih al-ibarat yang merupakan syarah dari kitab Natijat al-miqat karya K.H. Ahmad Dahlan Semarang. Kitab ini berisi tentang ilmu falak atau astronomi.
  2. Manahij al imdad, kitab ini berisi tentang tiga pokok ajaran islam yaitu, keimanan, hukum syariat dan tasawuf/akhlak. Kitab ini merupakan syarah dari kitab irsyad al-ibad karya syekh Zainudin Al Malibari
  3. Iesyad al-ikhwan fi bayan hukmi syurb al qahwah wa ad-dukhan, kitab ini membicarakan tentang hukum minum kopi dan merokok. Kitab ini merupakan syarah dari kitab Tadzkirah al ikhwan fi bayani al qahwah wa ad dukhan karya K.H Ahmad Dahlan Semarang.

 

Sumber Rujuan

[1] Moch Arifin, Penafsiran AlQuran KH. IHSAN JAMPES Studi Intertektualitas Dala Kitab Siraj Al-Talibin dalam Jurnal AL ITQAN, (Vol.1, No. 2, Juli-Desember 2015), hal. 65

[2] Ibid., hal. 66