Oleh: Ni’amul Qohar

Surat wasiat yang ditulis oleh terorisme bom bunuh diri di Makasar pada akhir bulan Maret lalu, berisi tentang rasa kebenciannya terhadap pemerintah. Mereka menganggap pemerintah Indonesia saat ini adalah thoghut yang telah meninggalkan ajaran Islam. Segala sistem yang berada di dalam pemerintahan, seperti pemilu, demokrasi, pancasila, UUD 1945, telah dianggap sebagai ajaran yang sesat: kafir. Mereka juga sangat anti terhadap segala hal yang berbau modernisme, yaitu suatu kebiasaan yang sudah terlebih dahulu dipratikkan oleh orang barat, seperti menggunakan kartu kredit, ATM, transaksi di bank dan lain sebagainya.

Isi surat wasiat tersebut mengidentifikasikan bahwa umat manusia zaman sekarang berada pada titik kemaksiatan yang sangat parah. Ajaran Islam yang murni sudah tidak lagi menjadi pedoman hidup bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Selaras dengan hal tersebut, mereka para terorisme bertujuan mengembalikan umat manusia ke jalur ajaran agama Islam yang benar sesuai pemahamannya. Memilih jalan tersebut membuatnya merasa terasingkan, yaitu menjadi golongan (al-ghuroba) di tengah kondisi masyarakat Islam yang mengalami kemerosotan aqidah. Landasan mereka memilih penganut ajaran Islam yang terasingkan (al-ghuroba) berdasarkan salah satu hadist yang berbunyi :

 بدأ الاسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدا فطوبى لغرباء فقيل والذين يحيون الغرباء قال الذين يصلحون ما أفسده الناس من سنتي ما أمتوه من سنتي

Artinya : “Islam datang dengan asing dan akan kembali terasing sebagaimana permulaannya. Beruntunglah bagi orang-orang yang asing, dan Rasulullah ditanya siapa orang-orang asing itu ya Rasulullah, lalu beliau menjawab dia adalah orang yang memperbaiki sunnah-sunnahku yang dirusak manusia dan orang-orang yang menghidupkan sunnahku yang ditinggalkan oleh manusia.”

Lantas apakah bisa dibenarkan melakukan bom bunuh diri merupakan cara yang tepat untuk memperbaiki sunah dan menghidupkan sunah Nabi ?, Bukankah itu justru akan merusak citra agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad sebagai rahmat seluruh alam ?

Melakukan bom bunuh diri merupakan kerusakan sebuah norma di tengah kerukunan antar umat beragama. Hadist di atas secara sosio-kultural muncul karena Islam waktu itu sangat asing bagi masyarakat Mekkah. Agama yang dibawa nabi Muhammad SAW ini bertabrakan dengan pemahaman masyarakat Mekkah sebagai penyembah berhala. Bagi Masyarakat Mekkah, Tuhan itu sangatlah banyak guna menyelesaikan permasalahan kehidupan yang sangat komples. Ketika agama Islam datang dengan membawa konsep bahwa Tuhan itu Esa (satu), membuat masyarakat Mekkah sulit untuk menerimanya, sehingga asinglah agama Islam waktu itu.

Pada redaksi hadist tersebut juga disebutkan bahwa kelak agama Islam akan terasingkan kembali. Sehingga beruntunglah bagi orang-orang asing yang masih menganut ajaran Islam. Lalu Rasulullah ditanya siapa orang-orang asing itu. Beliau menjawab dia adalah orang yang memperbaiki sunnah-sunnahku yang dirusak manusia dan orang-orang yang menghidupkan sunnahku yang ditinggalkan oleh manusia.

Memperbaiki sunnah sangat tidaklah tepat jika ditempuh dengan cara melakukan bom bunuh diri. Menyelamatkan sunnah di zaman perkembangan teknologi yang semakin cepat ini bisa dengan cara mengaji kepada para ulama. Ketika umat Islam mulai tergiurkan oleh gemerlapnya pernak-pernik kehidupan dunia. Mengaji kepada ulama menjadi pilihan yang sangat asing bagi mereka. Sehingga dapat dikatakan bahwa yang memilih jalan seperti ini bisa disebut sebagai al-ghuroba.

Di sana akan ditemukan berbagai pedoman untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi perkembangan zaman. Sangatlah diperlukan bagi umat Islam untuk senantiasa memegang teguh apa yang sudah diajarkan para ulama terdahulu. Mengaji menjadi cara yang sangat tepat untuk memperbaiki sunnah. Bisa dikatakan pula dengan mengaji kepada para ulama dapat menghidupkan kembali sunnah Nabi di tengah kondisi zaman yang seperti saat ini.

Wallahu’alam Bishowab