Oleh: M. Iskandar

Riwayat Keturunan

Tuan Guru KH. Ahmad Zuhdiannoor (Guru Zuhdi) lahir di Alabio pada Kamis, 24 Dzulhijjah 1391 H/ 10 Februari 1972 M, beliau adalah putra dari KH. Muhammad bin Jafri dengan Ny. Zahidah yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah setelah KH. Tsani.

Muhammad bin Jafri menjadi sahabat sekaligus murid Al’alim Al’allamah Al ‘Arif Billah Maulana Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang masyhur dengan nama Abah Guru Sekumpul Martapura dan juga murid dari Al’alim Al’allamah KH. Anang Sya’rani Arif yakni pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Diriwayatkan bahwa dulu Abah Guru Sekumpul pernah satu kelambu dengan KH. Muhammad bin Jafri.

Pendidikan

Kedalaman ilmu Guru Zuhdi tidak beliau dapatkan dari pendidikan formal. Karena pendidikan formal beliau hanya sampai lulusan SD saja. Akan tetapi waktu itu beliau nyantri di Pondok Pesantren Al-Falah Landasan Ulin selama kurang lebih dua bulan, lantas berhenti karena sakit. Kemudian beliau belajar banyak tentang agama kepada sang kakek di Alabio Kabupaten HSU, yang merupakan ulama ternama di Kalimantan Selatan. Sang kakek inilah yang paling berpengaruh dalam kehidupan Guru Zuhdi. Setelah kakeknya meninggal beliau dididik oleh ayahandanya sendiri. Beliau juga berguru kepada KH. Abdussyukur Teluk Tiram Banjarmasin.

Setelah KH. Abdussyukur meninggal dunia, Guru Zuhdi diserahkan oleh ayahandanya langsung kepada Abah Guru Sekumpul. Kata-kata pertama yang disampaikan Abah Guru Sekumpul kepada Guru Muhammad bin Jafri (Ayah Guru Zuhdi) dalam bahasa Banjar adalah “Muhammad, ikam handak tahu lah anak ikam itu kenanya ‘alim pada ikam”, dalam bahasa Indonesianya: “Muhammad kamu mau tahu tidak, bahwa anak kamu nantinya lebih ‘alim dari kamu“. Ilmu yang dimiliki Guru Zuhdi sungguh luas. Sebagai ulama ternama, Guru Zuhdi menguasai ilmu fikih, tashrif, tauhid, tasawuf, nahwu dan tajwid serta beragam keilmuan lainnya.

Sebagai Penerus Tuan Guru Sekumpul

Ahmad Zuhdiannoor merupakan ulama nyentrik dan kharismatik yang sangat disegani dan dihormati oleh semua kalangan. Pengajiannya selalu penuh dengan para jama’ah. Guru Zuhdi merupakan salah seorang ulama Banjar yang sangat tawadhu, wara’ dan qana’ah. Dalam setiap pengajian rutin di Masjid Jami Sungai Jingah, Kota Banjarmasin, beliau sering menyebut dan memuliakan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) Martapura, Kalimantan Selatan.

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa pengaruh Abah Guru Sekumpul terhadap kehidupan Guru Zuhdi sangatlah kental sekali. Awal mula Guru Zuhdi membuka majlis, jama’ahnya masih sangat sedikit, tidak sebanyak seperti sekarang ini. Pengajian kitab yang beliau bacakan yaitu dari catatan tangan majlis Abah Guru Sekumpul di Komplek Ar Raudhah Martapura. Karena itulah para jama’ah yang hadir di pengajiannya banyak yang merasa rindunya kepada Abah Guru Sekumpul terobati.

Selain itu tentang bagaimana cara beliau bermajlis, menyampaikan isi kajian, gaya bicara serta penjelasan beliau sama seperti Abah Guru Sekumpul. Cara beliau berpakaian yang lengkap dengan sorban melilit di kepala sama persis dengan penampilan Abah Guru Sekumpul. Beliau disebut-sebut sebagai penerus Abah Guru Sekumpul. Walaupun demikian banyak yang tidak berani menyamakan derajat pangkat serta kedudukannya dengan derajat Abah Guru Sekumpul.

Suatu ketika sekitar tanggal 10 Februari 2012 M yang bertepatan dengan genap usia 40 tahunnya, waktu Habib Abdurrahman yang merupakan keponakan Habib Umar berkunjung ke rumah Guru Zuhdi, “Ustadz ana kada (tidak) kenal laman (sama) ente, supaya ente tahu kalo yang menyuruh ana ke sini adalah orang yang di photo ini” kata Habib Abdurrahman sambil menunjuk photo Abah Guru Sekumpul.

Guru Zuhdi pernah bepesan dalam bahasa Banjar : “Pas ikam (kamu) di Majelis ku, karamkan (tenggelamkan) perasaan ikam (kamu), kalau ikam (kamu) ada di Majelis Abah Guru Sekumpul, dirasakan kalau membacakan kitab itu Abah Guru Sekumpul lain aku, Aku pun jar sidin mengaramkan perasaan ku kalo yg membacakan kitab adalah Abah Guru Sekumpul lain aku“. Wallahu ‘Alamu.

Sifat Beliau yang Begitu Dermawan

Dalam satu kisah diceritakan, suatu saat di majelis Guru Zuhdi tahun 2002 M di rumahnya H. Alwi di Jl. Sulawesi Banjarmasin, Guru Zuhdi bekata : “Kalau jama’ah handak berangkat ke pengajian Sekumpul, tidak memiliki biaya, ambil biayanya denganku”. Hal ini terbukti ketika waktu pengajian Sekumpul, tedapat ada jamaah se-taksi Martapura dengannya, di antara yang ada di taksi itu kenal dan menegur beliau, begitu tiba di Sekumpul, semua jamaah yang ada di dalam taksi dibayari oleh Guru Zuhdi.

Pesan Abah Guru Zuhdi

Ada beberapa kalam hikmah yang disampaikan Guru Zuhdi :

  • Masalah boleh datang dalam kehidupan kita tapi pandanglah selalu kebaikan Allah S.W.T, jangan meniadakan kebaikan Allah S.W.T, walaupun hidup susah tapi di mulut masih terucap alhamdulillah.
  • Barang siapa bisa melihat kisah Allah S.W.T di dunia, maka bisa melihat zat Allah S.W.T di akhirat. Barang siapa tidak bisa melihat kisah Allah S.W.T di dunia maka tidak bisa melihat dan buta dari melihat zat Allah S.W.T di akhirat.
  • Orang meminta dunia bukan untuk dunia tapi untuk ibadat, karena ibadat menjadikan orang jadi mulia, minta panjangkan umur bukan untuk dunia tapi untuk ibadat.
  • Bukan mati yang harus ditakuti tapi pengertian saat menghadapi mati, bahwa mati ini ridho Allah S.W.T maka akan mudah saat menghadapi mati.
  • Jangan putus asa, Allah S.W.T akan selalu mengampuni dosa hamba-Nya.
  • Orang putus asa adalah orang yang gagal dalam hidup, orang yang terus berjuang adalah orang yang berhasil walaupun belum terlihat keberhasilannya.
  • Selalu sangka baiklah kepada Allah S.W.T. Obat penawar untuk selalu menerima apapun dari Allah S.W.T dengan selalu khusnudzon ( sangka baik) kepada Allah S.W.T.
  • Apabila dapat rasa tidak punya kebaikan, maka selalu memandang kebaikan Allah S.W.T maka itulah rasa yang benar. Dan saat memandang keadilan Allah S.W.T yang kita harapkan hanyalah rahmat Allah S.W.T, tidak memandang pada amal ibadat dan kebaikan diri, hanya selalu mengharap rahmat Allah S.W.T maka itulah rasa yang benar.
  • Orang yang selalu berkhusnuzon/ bersangka baik maka akan meninggal dalam keadaan husnul khotimah.
  • Hidup jangan mencari pujian dan jangan merasa pantas dipuji. Apabila dihina jangan merasa hinaan itu tidak pantas buat kita, tapi hinaan itu pantas buat kita kerena kita penuh dengan kekurangan.
  • Selalu belajar mengerti, belajar berkhusnuzan, kita mampu memaafkan orang kerena kita punya pengertian, seluas pengertian seluas itu pintu maaf, seluas pengertian seluas itu dalamnya perasaan.
  • Bila kita memandang akan diri maka pandanglah kekurangan kita, pandanglah dosa-dosa kita. Dan saat kita melakukan kebaikan, memandang kebaikan pada diri maka pandanglah ini Fadlun Minallah atau semua anugerah Allah S.W.T.
  • Orang yang asik memandang alam semesta maka terdinding dari Allah S.W.T dan hanya meyakini akan Allah S.W.T, tapi orang yang asik memandang kisah Allah S.W.T di dalam alam semesta maka tidak terdinding dari Allah S.W.T dan melihat Allah S.W.T melihat kisah Allah S.W.T melihat cerita Allah S.W.T, orang yang masih terdinding tidak bisa melihat (kisah) Allah S.W.T tapi meyakini akan Allah S.W.T.
  • Orang yang menemani kita dan tahu kekurangan kita belum tentu masih mau berteman dengan kita, tapi Allah S.W.T tidak. Allah S.W.T tetap menemani kita, begitu pun akhlaknya Rasulullah S.A.W sebagai mazharnya sifat Allah S.W.T.
  • Berharap kepada Allah S.W.T mati dalam perlawanan nafsu walau tidak berhasil tapi ada usaha.
  • Masuk rumah sakit bukan untuk sehat tapi untuk mencari ridho Allah S.W.T. Sehingga masuk rumah sakit agar Allah S.W.T senang kerena menjunjung perintah Allah S.W.T, sehingga saat tidak sembuh tidaklah sakit hati. Dan saat meninggal, maka meninggal dalam keadaan tidak berdosa. Dan meninggal dalam ridho Allah S.W.T, maka orang seperti ini diberi Allah S.W.T kesempatan selalu memandang anugerah Allah S.W.T.

Guru Zuhdi Bertemu Nabi Khidhir A.S

Kisah ini diceritakan oleh Alfaqir (Anak Angkat Abah Tuan Guru Zuhdi). Kisah Abah Haji (Guru Zuhdi) yang disaksikan langsung oleh Alfaqir dengan kedua mata kepala tepat di depan rumah beliau. Pada saat Alfaqir mau menuju rumah beliau, di jalan sebelum masjid Jami’ Sungai Jingah Banjarmasin, tiba-tiba ada seorang kakek yang bertanya kepada Alfaqir, kata kakek itu, “Di mana rumah H. Zuhdi ?”. Lalu Alfaqir menjawab, “Kakek mau ke rumah beliau ya ?, saya anterin kek kebetulan saya mau ke rumah beliau juga”. Kemudian kakek itu mau ikut sama Alfaqir berbonceng naik kendaraan. Setelah sampai di depan rumah, Tuan Guru Zuhdi/ Abah Haji ternyata sudah tahu kedatangan kakek ini.

Kakek ini disambut gembira oleh Abah Haji. Lalu beliau berdua masuk ke dalam rumah, sementara Alfaqir menunggu di depan saja, karena ada keperluan lain, sedangkan kakek tadi diajak Abah Haji ke kamar beliau. Sekitar 30 menit baru Abah Haji keluar, kemudian Alfaqir tanya kepada Abah Haji, “Bah (sebutan ayah), siapa kakek itu dan orang mana beliau ?”. Abah Haji senyum aja belum ada jawaban. Hampir 1 jam ngobrol dengan Abah Haji. Sebelum pamit pulang, Alfaqir bertanya lagi tentang kakek itu, siapa dan orang mana. Abah Haji senyum lagi tapi akhirnya beliau menjawab, “Kakek itu adalah Balya bin Malkan (Nabi Khidir A.S)”. “Kamu gak tau siapa kakek itu tapi kakek itu tau siapa kamu karena udah nganterin kakek itu ke sini” ujar Abah Haji. “Alhamdulillah” jawab Alfaqir.

Memang pakaian kakek itu biasa aja. Pakai sarung warna putih baju kaos putih pendek, pakai peci hitam dan bawa sekantong plastik yang isinya Alfaqir tidak tau. Beliau juga pakai sendal yang sedikit agak rusak, tapi kedatangannya disambut gembira oleh Abah Haji karena beliau Kasyaf.

Sesungguhnya Nabi Khidir A.S adalah gurunya para waliyullah. Apabila Nabi Khidir A.S mendatangi orang sholeh itu tanda akan menjadi wali. Ketika Nabi Khaidir A.S mendatangi seorang Wali maka itu menandakan Wali tersebut mendapatkan pangkat kewalian yang lebih tinggi. Karena salah satu tanda kewalian akan didatangi oleh Nabi Khidir A.S.

Beliau Pulang Ke Rahmatullah

Tepatnya pada Sabtu 02 Mei 2020 M ± pukul 06:43 WIB di RS Medistra Jakarata, beliau Al’alim Al’allamah Al-Fadhil Tuan Guru KH. Ahmad Zuhdiannoor kerap disapa Guru Zuhdi menghembuskan nafas terakhir berpulang ke Rahmatullah. Tanah Banjar kehilangan salah satu ulama yang ‘alim, wira’i, dermawan dan kharismatik. Banjarmasin menangis langitpun ikut menangis.