Oleh: Rifki Yusak, (Santri Fathul Huda)

Salah satu dari sekian ribu santri Kiai Muslih Mranggen (w.1981 M) yang berhasil menjadi seorang ulama besar, adalah Kiai Ma’shum Mahfudhi dari Karanggawang. Beliau lahir pada 15 Februari 1929 M dan wafat pada 29 Agustus 2005 M. Kiai Ma’shum sendiri adalah salah satu alumni Pesantren Futuhiyyah yang berhasil mendirikan pesantren, nama pesantren beliau adalah Fathul Huda yang beralamat di Dusun Karanggawang Sidorejo Sayung Demak. Selain itu juga, beliau diberi kepercayaan gurunya, Kiai Muslih untuk menjadi seorang Mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN).

Seperti halnya gurunya, Kiai Muslih yang meninggalkan banyak karangan kitab, Kiai Ma’shum juga mengikuti jejak murabi ruhinanya, setidaknya ada satu risalah yang Kiai Ma’shum tulis. Risalah ini berbentuk nadham berbahasa arab yang menggunakan bahar rajaz, yang menjelaskan ilmu nahwu (gramatika arab). Risalah ini ditulis di Karanggawang dan selesai pada hari Ahad tanggal 2 Jumadil Awwal 1380 H, yang bertepatan pada tahun 1960 M.

Risalah ini terdiri atas 15 halaman yang berisikan 177 nadham berbahasa Arab. Pada mukadimahnya, Kiai Ma’shum mengawali dengan basmalah, hamdalah dan shalawat serta salam kepada baginda Nabi, keluarga dan sahabat, serta meminta pertolongan kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menyelesaikan risalah ini. Selanjutnya Kiai Ma’shum memberi nama risalahnya dengan nama, “Tuhfatul al-Lubab” yang berarti “Hidangan bagi orang pintar” yang terangkum dalam empat nadham pertama.

Setelah itu, barulah beliau memulai memaparkan bab per bab dalam ilmu nahwu, yang dimulai dari Bab al-Kalam, Bab al-I’rab, Bab Alamat al-Raf’i, Bab Alamat al-Nashbi, Bab Alamat al-Khofdhi hingga sampai kepada Bab al-Idhafah dengan menggunakan susunan baik nan bersastra. Hingga jumlah keseluruhan Bab pada risalah ini adalah 33 Bab ditambah 1 Fasal.

Keunikan Tuhfatul al-Lubab ini berisikan bait-bait yang serat akan makna, dari kosa kata bait-baitnya hampir serupa dengan kitab al-Imrithi. Hal ini memang bertujuan bertabarukkan dengan kitab al-Imrithi karangan Syaikh Syarafuddin Yahya al-Imrithi (w.890 H). Selain itu juga, Kiai Ma’shum berniat agar risalah yang beliau tulis dapat menjembatani para santri agar lebih mudah menghafal dan memahami kitab al-Imrithi. Risalah ini diajarkan kepada para santri kelas enam Awwaliyyah di pondok pesantren Fathul Huda, baik pusat maupun cabang.

Dalam risalah ini, selain berisikan penjelasan ilmu nahwu, Kiai Ma’shum juga menorehkan pemikiran dan nasihatnya pada beberapa contoh pembahasan. Semisal dalam salah satu bait pada Bab al-Maf’ul Bih, Kiai Ma’shum memberikan contoh: “Akrim al-ladzi Tala” jika diartikan secara harfiah adalah “Muliakanlah orang yang belajar” dalam artian, Kiai Ma’shum berpesan agar para santri menghormati orang yang berilmu, yakni para ulama. Selanjutnya, pada Bab al-Maf’ul al-Ladzi Lam Yusamma Fa’iluhu, Kiai Ma’shum menuturkan bahwa “Yarfa’ al-ilmu biraf’il al-alim” yang artinya “Ilmu akan hilang bersama dengan meninggalnya seorang ulama” hal ini sebagaimana arti secara harfiah Nadham ke 72.

Hemat penulis, selain dua pesan di muka masih ada pesan-pesan Kiai Ma’shum yang tersurat pada nadham risalah Tuhfatul al-Lubab ini. Di antaranya Kiai Ma’shum mengingatkan bahayanya syirik atau menyekutukan Allah dengan selainNya. Beliau menegaskan dalam contoh pada Bab Badal “Man yusrik ya’qub yadhulu niiran lam yanal fiha al-tsawab” yang artinya “Orang yang menyukutan Allah akan mendapatkan siksa, dimasukkan ke dalam neraka dan tidak akan diberi ampunan”. Kemudian pada Bab Kaana wa akhawatuha, Kiai Ma’shum menyampaikan “Kun Shabiran la takun mughadhiban” yang artinya “Jadilah pribadi yang sabar. Jangan menjadi pribadi yang pemarah” dan terakhir pada Bab al-Dharaf, beliau menyetir sebuah ungkapan “Qumtu hiina al-laili” yang artinya “Aku berqiyamul lail sepanjang malam”. Melalui kalimat ini, Kiai Ma’shum mendorong dan menghimbau agar seorang muslim selalu menghidupkan malam.

Dalam karyanya, Kiai Ma’shum ini, selain serat akan penjelasan ilmu nahwu, juga mengandung mutiara-mutiara hikmah. Hal ini, sebagaimana yang sering dijumpai pada setiap karangan ulama-ulama salaf, semisal karangan Imam Malik (w.672 H) yakni al-Fiyah Ibnu Malik, yang serat akan penjelasannya pada ilmu nahwu dan sharaf, juga serat akan mutiara himah yang terpendam.

Setelah menjelaskan ilmu nahwu secara rinci sampai Bab Idhafah, Kiai Ma’shum mengakhiri risalahnya dengan hamdalah, rasa syukur yang tiada tara dan shalawat serta salam teruntuk Kanjeng Nabi, keluarga dan para sahabatnya. Dengan harapan risalahnya dapat bermanfaat dan kelak menjadi kabar gembira. Amin.