Oleh: Gus Zaki Abigeva
Kisah ini kurang lebih terjadi di tahun 65-an, dimana bangsa Indonesia masih diuji dengan gerakan pemberontakan dan pergolakan besar PKI. Namun seperti cerita yang kami dengar, di saat semua warga Lasem termasuk para kiai mengungsi, Mbah Baidhowi bin Abdul Aziz tetap tenang berdiam di rumah. Menurut penuturan salah satu putranya, anak-anak Mbah Baidhowi disembunyikan di bawah musholla (berbentuk) panggung seperti bunker yang dibuat untuk tempat bersembunyi. Sedangkan ada sebagian santri yang berjaga-jaga di sekitar rumah dan pondok.
Seperti yang disampaikan Kiai Jamaluddin Jombang, saat awal mondok di tahun 1965 transportasi dari Jombang ke Lasem sangatlah mengerikan. Di samping jalanannya yang hancur dan rusak juga dikarenakan kondisi keamanan yang tidak kondusif sebab banyaknya penjagaan. Butuh 2 hari untuk sampai ke Lasem. Santri dahulu memang luar biasa, pergi nyantri taruhannya adalah nyawa. Jadi sangat miris jika mendengar ada santri sekarang ini yang tak krasan hanya karena di pondok serba dibatasi atau tak betah karena fasilitas yang kurang memadai.
Pada satu saat Mbah Baidhowi ingin memastikan siapa yang berjaga, beliau bertanya: “๐๐ฐ๐ฑ๐ฐ ๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐ซ๐ฐ๐จ๐ฐ? (๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐ซ๐ข๐จ๐ข?)”
Lalu Kiai Jamal menjawab: “๐๐ถ๐ญ๐ฐ ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ, ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ญ”
Dengan tak terduga kemudian Mbah Baidhowi memerintah: “๐๐ถ๐ณ๐ถ ๐ข๐ฆ, ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ ๐ข๐ฆ.. (๐๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข..)”.
Mungkin maksudnya tak perlu dijaga. Entah karena kasihan atau memang sudah merasa akan ada insiden sehingga Kiai Baidhowi meminta Kiai Jamal istirahat agar tidak ikut jauh terlibat. Namun tiba-tiba datang 7 orang antek PKI yang menemui Mbah Baidhowi. Salah satunya bernama Mukrim, seorang antek PKI yang konon dulu pernah ngaji di kiai-kiai Lasem termasuk Mbah Baidhowi namun sayangnya berubah menjadi begundal komunis. 6 orang lainnya berjaga di luar rumah, kemudian Mukrim masuk hendak mendekati Mbah Baidhowi. Sebelum mengutarakan maksud, Mbah Baidhowi dari jauh sudah menghardik Mukrim dengan keras: “๐๐ฐ๐ธ๐ฆ ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฑ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐ฆ ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐บ๐ฐ? ๐๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฑ ๐ฎ๐ฐ๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ต๐ฆ๐ฏ๐ช? ๐๐ข๐ต๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ฏ๐ฐ.. (๐๐ฐ๐ธ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐บ๐ข? ๐๐ข๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ? ๐๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ด๐ข๐ซ๐ข..)” Gemuruh kalimat ini beberapa kali sempat diucap berulang-ulang.
Serentak membikin nyali Mukrim dan teman-temannya tersebut ciut nyali. Bahkan tangan Mukrim yang menyembunyikan senjata dan siap mengarahkan ke Mbah Baidhowi sempat bergetar kencang karena merasa ketakutan dan ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ณ duluan. Akal licik mereka ternyata sudah diketahui sebelum mereka bicara apa-apa kepada Mbah Baidhowi. Lalu saking takutnya ketujuh antek-antek PKI tersebut akhirnya lari tunggang-langgang keluar kawasan pondok yang kebetulan disaksikan langsung oleh Kiai Jamaluddin Ahmad.
Dan pelajaran yang relevan yang bisa dipetik adalah, bahwa riyadhoh yang dilakukan orang-orang sholeh lewat wirid, dzikir dan bacaan-bacaan thoyyibah akan mengasah kepekaan bathin orang tersebut dan mampu menyingkap apapun yang tersembunyi ataupun yang disembunyikan oleh orang lain. Dan itulah yang dirasakan Kiai Jamal saat melihat dan menyaksikan Mbah Baidhowi bukan hanya pada kejadian di atas saja tapi juga beberapa kejadian lainnya.
๐๐ข๐ฉ๐ถ๐ญ ๐ง๐ข๐ต๐ช๐ฉ๐ข๐ฉ….
(Ilustrasi gambar: ๐๐ฃ๐ข๐ฉ ๐๐ข๐ช๐ฅ๐ฉ๐ฐ๐ธ๐ช ๐ฑ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ช๐ณ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฐ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ ๐๐ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ฅ๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐ณ๐ช๐ด๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ณ๐ถ๐ด ๐๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐๐บ๐ถ๐ณ๐ช๐ข๐ฉ ๐๐ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ฃ๐ข๐ฉ ๐๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฌ๐ช๐ข๐ช ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข)








