Oleh: Amirul Ulum
Nama Syaikh Abdurrauf as-Singkeli tidaklah asing bagi kita semua. Beliau adalah murid kesayangan Syaikh Ahmad al-Qusyasyi. Beliau dibaiat al-Qusyayi untuk menjadi musryid tarekat Syathariyah, yang nanti darinya, sanad Syathariyah berkembang ke berbagai wilayah Nusantara melalui beberapa muridnya, di antaranya adalah Syaikh Muhyi Pamijahan dan Syaikh Burhanudin Ulakan.
Selain Syaikh Abdurrauf as-Singkeli, murid Syaikh Ahmad al-Qusyayi yang menyebarkan Islam di Nusantara adalah Syaikh Abdullah Arif (Nagari Tapakis), yang dikenal dengan Syaikh Air Sirah/ Syaikh Madinah. Suatu ketika, datanglah seorang bernama Kanun (Nagari Sintuak (=Sintuak Lubuk Alung) yang hendak berguru kepada Syaikh Abdullah Arif. Kedatangan Kanun tersebut disambut gembira oleh Syaikh Abdullah Arif.
Kanun belajar dengan penuh ketekunan, sehingga prestasinya mengungguli teman-temannya yang lain. Sang guru kagum dengan kecerdasan Kanun, sehingga beliau diberi gelar Pakih Sempurno (sering dipanggil Fakih Pono).
Kebersamaan Syaikh Abdullah Arif dengan Fakih Pono tidaklah lama. Allah berkehendak lain. Syaikh Abdullah Arif kembali ke Rahmatullah padahal baru secuil ilmu yang diserap oleh Fakih Pono. Sebelum meninggal, Syaikh Abdullah Arif sempat memberikan wasiat agar Fakih Pono melanjutkan dan menyempurnakan belajarnya kepada Syaikh Abdurrauf as-Singkeli.
Dengan penuh ketaatan Fakih Pono menjalankan perintah Syaikh Abdullah Arif. Dari Nagari Tapakis beliau berangkat menuju Aceh. Di tengah perjalanan, beliau bertemu empat orang, yang kemudian diajak bersama-sama untuk berguru kepada Syaikh Abdurrauf as-Singkeli. Saat bertemu dengan Fakih Pono, as-Singkeli teringat pesan gurunya, Syaikh Ahmad al-Qusyayi, “Nanti setelah engkau tiba di Aceh, akan datang lima orang dari Minangkabau. Dari kelima orang itu, satu diantaranya yang diberi kitab, artinya akan dijadikan khalifah. Tandanya orang itu tengkak perjalanannya, yaitu tinggi kakinya sebelah. Itulah menunjukkan tinggi martabatnya, tinggi yang telah dilebihkan Allah. Berilah nama dia Burhanudin.”
Fakih Pono, kemudian hari dikenal dengan nama Syaikh Burhanudin Ulakan. Nama pemberian Syaikh Abdurrauf as-Singkeli atas amanah Syaikh Ahmad al-Qusyasyi. Nama Syaikh Burhanudin Ulakan ini sangatlah masyhur di Nusantara, terlebih bagi orang Minangkabau. Beliau sangat dimuliakan.
Pemberian nama seorang guru kepada muridnya, tidak hanya terjadi kepada Syaikh Burhanudin Ulakan, seperti halnya yang terjadi kepada Kiai Zubair yang dahulunya bernama Anwar kemudian saat belajar di Haramain, terlebih kepada Syaikh Hasan al-Yamani, beliau diberi nama Zubair (Jubair), kemudian hari dikenal dengan nama Kiai Zubair Dahlan.
Ketika Kiai Zubair Dahlan sudah berumah tangga, menikah dengan Nyai Mahmudah. Saat sang istri sedang hamil tua, Kiai Zubair Dahlan mimpi bertemu dengan seorang nenek-nenek yang memberikan pesan, “Wahai Zubair, jika kamu diberi rezeki anak laki-laki, maka namakan dia Maimoen.” Amanah ini dilaksanakan Kiai Zubair Dahlan sebagaimana mestinya. Anak pertamanya diberi nama Maimoen, yang kemudian hari dikenal dengan Kiai Maimoen Zubair.
Kiai Maimoen Zubair pernah memberikan nama kepada salah satu santrinya. Ketika hendak menikah, al-faqir (Amirul Ulum) sowan kepada beliau, meminta restu. Beliau dawuhan, “Nanti namamu ganti menjadi Bahrul Ulum.”
Yogyakarta, 24 Maret 2022








