Oleh: M. Sholahuddin
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١)
Al-Qur’an memulainya dengan mengkisahkan sebagian sahabat yang kurang puas akan pembagian harta rampasan dalam Perang Badar. Allah SWT lantas menjelaskan bahwa pada harta rampasan itu adalah hak preogatif mutlak Allah dan rasul-Nya. Karena ghanimah ini notabennya hanyalah sebagai bonus sedangkan imbalan jihad mereka yang sebenarnya adalah yang akan diterimanya kelak di akhirat. Jadi tidaklah layak sebagai seorang mukmin meributkan hal semacam ini yang akan merusak bingkai keharmonisan mereka.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٢) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (٤)
Kemudian Allah SWT menyebutkan sifat-sifat yang mestinya dimiliki oleh orang yang beriman, yaitu;
- Hatinya bergidik takut ketika mendengar nama Allah, karena rasa makrifatnya akan keagungan Allah SWT. Orang yang punya sifat seperti ini tidak akan berani apalagi menentang apa-apa yang telah menyangkut nama Allah, termasuk masalah ghanimah
- Ketika dibacakan Al-Qur’an maka imannya senantiasa bertambah dan memasrahkan semuanya pada putusan Allah SWT. Jadi apapun hukum yang dibawakan oleh Al-Qur’an ia akan segera mengimani dan menerimanya tanpa protes.
- Dan pastinya mau melaksanakan sholat dan membayar zakat.
Inilah kriteria orang yang benar-benar beriman secara dhohir dan batin. Dan mereka ini dijanjikan oleh Allah SWT akan mendapat derajat tinggi dan pengampunan dari Allah SWT. Dan tentunya akan mendapat rizqi yang hakiki yaitu kenikmatan hidup yang sempurna di surga.
كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ (٥) يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَ مَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ (٦)
Dalam ayat ini Allah SWT menyebut bahwa sikap protes mereka akan persoalan ghanimah tak ayal sama saja ketika mereka yang pada mulanya juga berat hati untuk berangkat berperang. Namun karena ketaatan mereka kepada Rasulullah SAW, mereka akhirnya memutuskan untuk maju berperang dan berbuah kemenangan.
Pada awalnya para sahabat berkeinginan untuk menghadang rombongan dagang orang-orang kafir Makkah yang dikawal oleh Abu Sufyan. Karena dilihat secara matematik akan lebih menguntungkan jika dibanding harus berperang dengan pasukan musyrikin yang tentunya secara teori mustahil untuk dikalahkan. Karena jumlah mereka jauh lebih banyak dibanding pasukan muslim pada waktu itu. Namun Rasulullah SAW malah mengintruksikan untuk pergi berperang. Tentunya hal ini berakibat ada sebagian sahabat yang sempat memperotes keputusan beliau. Walaupun pada akhirnya kesemuanya taat dan menerima keputusan Rasulullah SAW.
Di sini Allah SWT ingin mengingatkan kepada umat muslim bahwasanya pada setiap putusan Rasulullah SAW yang mungkin mereka tidak menyukainya itu sejatinya mengandung hikmah besar bagi mereka. Seperti perang badar dan mestinya juga pada pembagian harta rampasannya dan pada masalah-masalah lain setelahnya. Dan dalam memberi peringatan Allah SWT menggunakan metode tamtsil (memberikan contoh), ini terbilang lebih efektif karena akan mudah dicerna oleh akal manusia.
Perlu diingat bahwa polemik harta ghanimah ini tidaklah berlangsung lama karena para shahabat sesaat setelah diturunkanya ayat ini langsung mengimaninnya dan tidak melakukan protes sedikitpun.
Wallahu A’lam.








