/>
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Beli Buku

Mengenang Jejak Sang Maha Guru: Syaikh Tholhah bin Tholabuddin Cirebon

Oleh: Alifa A. M

Mendengar nama Syaikh Tholhah mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Syaikh Tholhah merupakan putra dari Syaikh Tholabuddin, seorang tokoh ulama yang berasal dari Cirebon. Beliau juga masih memiliki garis keturunan dengan Sunan Gunung Jati, satu-satunya walisongo yang ada di Jawa Barat. Syaikh Tholhah juga merupakan tokoh yang mengembangkan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di wilayah Cirebon dan sebagian Jawa Barat. Sanad thoriqoh ini bersambung langsung dengan Syaikh Ahmad Khatib Sambas, yang mana beliau adalah guru dari Syaikh Tholhah, Syaikh Abdul Karim Albantani dan Syaikh Kholil Bangkalan Madura.

Salah satu cucu Syaikh Tholhah pernah menuangkan cerita tentang perjalanan Syaikh Tholhah dalam menuntut ilmu di Makkah. Pada waktu itu beliau pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian dilanjutkan dengan menimba ilmu di sana. Beliau ketika menuju Makkah dengan menggunakan kapal, karena pada masa itu dari Indonesia ke Makkah masih menggunakan jalur laut. Beliau juga satu kapal dengan Syaikh Abdul Jalil Wanantaro Sumber Cirebon, Mbah Kiai Kriyan Buntet, Syaikh Abdul Jamil dan para kiai Pondok Pesantren Buntet lainnya. Ketika di perjalanan kapal yang beliau naiki mengalami masalah (terpecah & tenggelam), kemudian ada seekor ikan (ikan cucut) yang mendekati kapal tersebut. Dan akhirnya Syaikh Abdul Jalil, Mbah yai Kriyan, Syaikh Abdul Jamil dan sebagian kiai Buntet menaiki ikan tersebut untuk melanjutkan perjalanannya menuju Makkah. Sedangkan sebagian kiai lainnya menaiki kapal kolonial Inggris. Namun Syaikh Tholhah tidak ikut menaiki ikan dan kapal kolonial Inggris, beliau melanjutkan perjalanannya dengan menaiki papan dari pecahan-pecahan kapal.

Setelah melanjutkan perjalanannya, ternyata papan tersebut menepi di Singapura. Ketika di Singapura, beliau bertemu dengan kakek-kakek yang tidak tau asalnya dari mana karena kakek-kakek itu muncul dengan tiba-tiba. Kakek itu bertanya mengenai asal dan tujuan Syaikh Tholhah, kemudian Syaikh Tholhah pun menjawab bahwa beliau berasal dari Cirebon dan bertujuan pergi ke Makkah. Akhirnya kakek-kakek tersebut memberikan satu amalan kepada Syaikh Tholhah, dan disuruh untuk membacanya. Kakek-kakek tadi memberi arahan kepada Syaikh Tholhah untuk jalan lurus di atas laut dengan terus membaca amalan yang telah ia berikan. Setelah berjalan lurus di atas laut dengan membaca amalan tadi, akhirnya Syaikh Tholhah pun sampai di Jeddah Arab Saudi.

Setelah sampai di Arab beliau melanjutkan perjalanannya untuk menunaikan ibadah haji dan dilanjutkan menetap di sana untuk menimba ilmu. Ketika menimba ilmu di Makkah beliau bertemu dengan Syaikh Abdul Karim Albantani, Syaikh Nawawi Albantani, Syaikh Ismail Lombok dan Syaikh Kholil Bangkalan Madura, yang mana beliau-beliau merupakan murid senior dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Saat menimba ilmu di Makkah di antara murid-murid Syaikh Ahmad Khatib Sambas mengadakan musyawarah dalam memecahkan suatu masalah (kalau bahasa pesantren nya itu Lajnah Batsul Masa’il) kemudian terjadi perdebatan antara Syaikh Tholhah dan Syaikh Kholil Bangkalan. Keduanya saling melempar alasan dengan ibarot dari berbagai kitab, sampai pada titik dimana Syaikh Kholil menyerah karena tidak bisa mengalahkan Syaikh Tholhah.

Setelah itu Syaikh Kholil berkata kepada Syaikh Tholhah, “Tholhah, sekarang aku menyerah, aku ini sudah lama disini sedangkan engkau masih baru tapi tidak bisa dikalahkan olehku”. Kemudian Syaikh Kholil bertanya apa alasan Syaikh Tholhah tidak bisa dikalahkan, ” Apa yang membuatmu bisa seperti itu Tholhah? “. Syaikh Tholhah pun menjawab “Aku ini bermimpi memakan keris satu peti besar sampai habis”. Seketika itu Syaikh Kholil langsung memeluk Syaikh Tholhah dengan berkata “Engkau itu sama dengan ku, berarti engkau saudaraku karena aku juga bermimpi meminum air laut sampai habis”. Seperti itulah cerita tentang karomah dari Syaikh Tholhah bin Tholabuddin.

Setelah pulang dari Makkah beliau mengembangkan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di daerah Cirebon dan sekitarnya. Setelah beliau wafat, kemursyidan TQN diberikan kepada ahli bait beliau dan murid beliau. Salah satu ahli bait beliau yang melanjutkan TQN yaitu KH. R. Zainal Abidin dan murid beliau yaitu Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) Suryalaya Tasikmalaya. Selain Syaikh Tholhah yang mengembangkan TQN yaitu Syaikh Ismail Lombok dan Syaikh Abdul Karim Albantani. Begitulah sepenggal cerita tentang jejak Syekh Tholhah bin Tholabuddin Cirebon.

Beli Buku

Tujuan saya menulis ini untuk mengenang jejak Syaikh Tholhah bin Tholabuddin, karena pada hari sabtu, 04 Juli 2022 bertepatan dengan haul beliau yang ke 115. Lahul Faatihah…Semoga kita semua mendapatkan barokahnya… Aamiin

Share:
Beli Buku
Avatar photo

Ulama Nusantara Center

Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *