Oleh: Amirul Ulum
Indonesia pernah menorehkan tinta emas dalam mewarnai khazanah keilmuan, sehingga prestasinya diakui dunia Islam, yaitu masa-masa di mana banyak thalabah Nusantara yang memainkan peranan penting di Haramain, seperti halnya Syaikh Mahfudz al-Termasi (w. 1920), ulama dari Termas yang menjadi pengajar di Masjidil Haram, yang mempunyai karya dalam berbagai disiplin ilmu, seperti Kifâyatul-Mustafîd Limâ ‘alâ Minal-Asânid Lis-Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah al-Termasi, al-Minhâh al-Khairiyyah fi Arbaîna Hadîstan min Ahâdisti al-Khairi al-Bariyyah, dan Minhâj al-Dawi al-Nadzar Syarh al-Fiyah li al-Suyûti, Unyat al-Thalâbah fi Qirâ’at al-Asyriyyah”, al-Badr al-Munîr fi Qirâ’at al-Imam Ibnu Kastir, Tanwir al-Shadr fi Qirâ’at al-Imam Abi ‘Amr, Tamim al-Manâfi’ fi Qirâ’at Imam an-Nâfi’, dan al-Fawâidh al-Tamâsiyyah fi Asânid al-Qirâ’at al-‘Asyriyyah, Mauhibah dzi al-Fadhl Hasyîyah ‘alâ Syar al-Muqaddimati al-Hadhrâmiyyati Muqaddimati Bafadhal Watakmilatu al-Minhâj al-Qawîm, Nail al-Ma’mûl bi al-Hasyiyah Ghâyati al-Wushûl fi Ilmi al-Ushûl, Hasyîyah Takmilah al-Minhâj al-Qawîm ila al-Farâidh, al-Siyâqah al-Mardhiyah fi Asâmi Kutub al-Shabûna al-Syafi’iyyah, dan Is’af al-Mathâli’ bi Syarh Badr al-Lâmi’ Nadhmi al-Jam’u al-Jawâmi’.
Karena kealiman yang terpancar dalam diri Syaikh Mahfudz al-Termasi, maka halaqah keilmuannya tidak hanya dikitari oleh thalabah dari bangsanya sendiri, namun lebih dari pada itu, di antara ulama non Nusantara yang menjadi santrinya adalah Syaikh Umar Hamdan al-Mahrusi (Muhadditsu al-Haramain), Syaikh Ahmad ibn Abdullah al-Syami al-Makki (pengajar di Masjidil Haram), Syaikh Habibullah al-Syinqithi (pengajar di Masjidil Haram), Syaikh Sa’dullah al-Maimani (Mufti Bombay, India).
Untuk ulama Nusantara yang pernah mengitari halaqah keilmuan Syaikh Mahfudz al-Termasi di Masjidil Haram di antaranya adalah Syaikh Ali al-Banjari (pengajar di Masjidil Haram), Syaikh Baqir al-Jogjawi (pengajar di Masjidil Haram), Syaikh Abdul Muhid al-Sidoarjoi (pengajar di Masjidil Haram), Syaikh Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri (pengajar di Masjidil haram), Raden Sulaiman al-Sumedangi (pengajar di Masjidil Haram), Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), dan Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).
Ada beberapa faktor yang membuat Syaikh Mahfudz al-Termasi menjadi sosok yang sangat alim, diantaranya adalah keberkahan doa leluhurnya (salah satunya adalah Syaikhah Khadijah al-Termasi), ketekunannya dalam belajar, sifat zuhud dan wirai, dan keberkahan doa yang dipanjatkan, salah satunya adalah doa untuk dapat menguasai berbagai disiplin ilmu. Doa ini pernah diijazahkan kepada santrinya, Kiai Hasyim Asy’ari, doanya adalah sebagai berikut :
اللَّهُمَّ سَخِّرْ لَنَا الْكُتُبَ كُلَّهَا
“Ya Allah, tundukkanlah kepada kami seluruh kitab”
Doa al-termasi tersebut, sebagaimana cerita Kiai Qayyum Manshur al-Lasemi pernah diijazahkan Kiai Hasyim Asy’ari kepada Kiai Manshur kemudian diijazahkan kepada Kiai Qoyyum, lalu diijazahkan kepada para santri yang hadir saat acara haul Kiai Maimoen Zubair yang ketiga (30 Juni 2022), saat ia mengisi mauidzah al-hasanah dalam acara haul tersebut.
Yogyakarta, 5 Juli 2022
Amirul Ulum
(khadim Ulama Nusantara Center)








