Mbah Moen Sarang sangat memuliakan Haramain, Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawarah. Beliau pernah dawuhan usahakan sebelum menikah bisa menunaikan ibadah haji atau umroh (bagi yang mampu). InsyaAllah akan membawa keberkahan tersendiri. Perbanyaklah doa dan amal kebaikan di sana, semoga kelak hidup bahagia di dunia maupun akhirat.
Karena saking cintanya Mbah Moen dengan Haramain, beliau pernah berdoa semoga sesering mungkin dapat mengunjungi Haramain. Allah pun mengabulkan doa tersebut. Beliau sering mengunjungi Haramain untuk menunaikan ibadah haji maupun umroh lebih. Menurut catatan yang saya dapat, lebih dari 40 kali, beliau menjadi tamu Allah di Haramain.
Karena saking cintanya Mbah Moen kepada Haramain, beliau ingin wafat di sana, dan bersanding dengan orang2 yang beliau cintai, terlebih Khadijah Al Kubro. Allah pun mengabulkan hajat tersebut, beliau wafat di sana pada hari Selasa tanggal 5 Dzulhijjah 1440 H/ 6 Agustus 2019 M.
Ketika saya sowan, Mbah Moen sering mengisahkan sejarah ulama Nusantara di Haramain seperti Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudz al-Termasi, Syaikh Muhaimin al-Lasemi dan Syaikh Yasin al-Fadani. Beliau sangat antusias sekali jika mendengar kebesaran ulama Nusantara di Haramain. Sampai beliau perna mengatakan, “Ulum Iki kok iso-iso wae nulis ulama-ulama gede neng Makkah.” Saya jawab, “Barokahe jenengan, Mbah.” Beliau pun terdiam dengan jawaban tersebut sembari menundukkan pandangan. Sungguh beliau sangat tawaduk sekali jika mendengarkan kisah kebesaran Ulama Nusantara di Haramain.
Suatu ketika saya hampir setengah tahun tidak sowan Mbah Moen karena kesibukan di Yogyakarta. Biasanya saya sering sowan di Sarang, maksimal dua bulan saya usahakan sowan jika tidak ada uzur, terkadang pernah sampai di Yogyakarta kemudian ditimbali beliau, akhirnya sayapun langsung balik kanan, untuk sowan, sam’an wathoatan kepada Dawuh Guru. Ternyata memang benar, ada hal penting yang ingin disampaikan beliau (tidak saya kupas di tulisan ini).
Karena hampir enam bulan tidak sowan, dan ketika sowan saya langsung didawuhi Mbah Moen, “Kuwe Iki tak arep2 kok lagi teko.” Saya hanya menunduk sembari berkata, “Injih Mbah.” Beliau dawuhan kepada saya untuk menulis sebuah tulisan yang langsung didikte beliau dan sayapun didawuhi untuk menulis sebuah buku yang mana bahannya adalah dari beliau semua. Saya hanya bisa menjawab, “Injih, Mbah.”
Buku saya kerjakan sesuai dengan kemampuan saya. Saya memang agak lambat mengerjakan itu karena memang sulit, disamping itu dalam firasat saya, InsyaAllah buku ini kalau dikerjakan lambat, nanti supaya umur Mbah Moen panjang dan masih memantaunya hingga selesai. Di sela-sela mengerjakan buku dari Mbah Moen, saya menyempatkan menulis buku KH. Baidlowi al-Lasemi yang rencananya mau saya buat kado ultah Mbah Moen pada 28 Oktober 2019 M.
Sekitar 7 hari sebelum Mbah Moen berangkat haji untuk yang terakhir kalinya, saya sempat sowan bersama anak dan istriku dengan tujuan memintakan tahnik dan barokah doa. Beliau pun mentahnik dan mendoakan anak saya, Muhammad Yasin. Namun pandangannya agak berbeda, seolah beliau ingin mengucapkan, ”Inilah pertemuan terakhirku dengan kamu, Lum.” Saya kepikiran terus dengan pandangan tersebut, sampai di Jogja, saya membuang jauh2 perasaan tersebut.
Ternyata benar. Perasan itu. Ketika mendengar berita kemangkatan Mbah Moen, saya berusaha mengatakan bahwa berita itu bohong, sampai adanya kepastian dari keluarga. Waktu mendengar kabar tersebut, saya sedang menulis buku Kiai Baidlowi al-Lasemi, baru dapat dua bab.
Kabar duka itu mengunjang diriku. Saya tak tahu siapakah yang akan menyemangatiku dalam dunia literasi. Karena selama ini Mbah Moen adalah satu2nya kiai yang paling terdepan dalam menyemangatiku di dunia literasi, bukan hanya masalah berbagi ilmunya, namun beliau juga sempat memberikan biaya untuk riset. Padahal sebelumnya, saya pernah ditolak seseorang ketika hendak wawancarainya dan masalah lain-lain, entah apa alasannya saya tidak tahu. Namun ketika ke Mbah Moen, beliau sangat antusias, bahkan saking senengnya punya santri bisa menulis beliau pernah mencium buku karya kami, yaitu buku Sunan Bonang dan Kiai Zubair Dahlan.
Ketika saya takziah ke Sarang, saya sowan ke Abah Najih, meminta izin untuk menulis buku yang berkenaan dengan Mbah Moen, termasuk meneruskan amanah Mbah Moen. Beliau memberi restu dan izin. Dengan izin Allah, akhirnya buku pertama, dapat selesai sebelum acara 40 hari beliau. Sebelum buku pertama ini selesai, Saya mimpi berjumpa Mbah Moen. Saya bersama adik2 sekandung Mbah Moen dari Ibu Nyai Mahmudah (Gus Hasyim, Gus Makmur, Neng Mardiyah dan Neng Zahro) sedang memegang nisan Mbah Zubair di Pemakaman Simpek. Mbah Moen datang dan dawuhan, “Ulum, kuwe nek ora kuwat ziarah neng Ma’la, cukup ziarah neng makom Ibuku.” Saya sangat sedih dengan mimpi ini, seandainya benar-benar terjadi tidak bisa ziarah ke Mbah Moen di pusara Ma’la. Saya terus berdoa semoga bisa ziarah ke sana.
Setelah buku pertama selesai, saya melanjutkan ke buku yang kedua, tentang Mbah Moen yang saya rencanakan untuk 100 Hari Mbah Moen. Sungguh Allah telah menguji diriku dengan ujian yang begitu besar. Pada bulan Oktober 2019, saya bersama anak dan istri mengalami kecelakaan. Istriku luka parah. Otot besar kakinya terluka sehingga membutuhkan waktu berbulan-bulan dan kesabaran yang lama.
Saya tetap berusaha menyelesaikan buku itu meskipun sembari merawat anak dan istriku. Alhamdulillah buku itu dapat selesai, namun tidak sesuai target 100 hari acara Mbah Moen. Di buku kedua ini, saya bermimpi, Mbah Moen datang dan mengoreksi sendiri bukunya, membolak balik dari awal hingga selesai. Saya sampaikan mimpi itu kepada salah satu putra Mbah Moen, Abah Najih. Beliau dawuhan, “Itu tandanya abah sudah ridha dengan buku tersebut.”
Buku kedua selesai, istriku masih sakit parah. Belum bisa jalan sendiri. Kalau ke kamar mandi harus dibopong. Anak juga nangis terus karena sakit akibat kecelakaan tersebut. Saya hanya bisa pasrah kepada Allah. Dalam kepasrahan itu saya tetap mempunyai niat untuk merampung buku Mbah Moen yang ketiga. Yang mana ini adalah buku amanah Mbah Moen ketika masih hidup.
Di tengah kesedihan itu, Mbah Moen hadir dalam mimpi, beliau sedang iktikaf di dekat Ka’bah, Masjidil Haram. Beliau mengatakan, “Ulum ke sini.”
Saya terbangun dalam mimpi. Ya Allah Mbah Moen memanggilku dari Masjidil Haram. Ya Allah apakah saya mampu kesana, padahal butuh biaya yang sangat banyak. Saya masih ditimpa musibah istri dan anak masih sakit dan biaya berobatnya sangat banyak sekali.
Saya teringat dawuh Mbah Moen, “Gusti Allah iku nek wes karep, mengko Kabeh digampangno.” Benar dawuhnya Mbah Moen itu. Entah siapa yang memberi tahu, salah seorang kiaiku melalui utusannya menemuiku dengan mambawa amplop yang lumayan besar. Saya sebenarnya tidak mau menerima itu, karena merasa tidak pantas, namun beliau mengatakan itu untuk membantu berobat istri dan anakmu. Akhirnya sayapun menerimanya. Dengan uang tersebut Alhamdulillah biaya berobat sudah mulai ringan.
Untuk masalah panggilan Mbah Moen supaya saya ke Makkah, saya hanya bisa berusaha semampunya. Namun barokah doa semuanya dimudahkan Allah, sehingga saya pun dapat mendaftar umroh bareng Himma untuk gelombang pertama.
Saat mendaftar, istriku masih sakit. Belum bisa jalan normal. Masih menggunakan kruk (egrang) yang selalu kami tuntun setiap mau ke kamar mandi. Suatu ketika, istriku sempat berdoa dan wasilah kepada Mbah Moen. “Mbah Moen, mas Ulum ape neng Mekah, mugi jenengan doakan kulo enggal waras.” Keajaiban pun terjadi. Seolah Mbah Moen hadir (meskipun dalam mimpi) memegang kaki istriku itu, dan alhamdulilah tidak lama kemudian beliau bisa jalan (hal ini tidak menafikan ikhtiar berobat) meskipun masih tertatih.
Saat mau berangkat ke Makkah, istriku dan anakku dapat mengantarkanku ke tempat pemberangkatan jamaah umroh Himma di Pati di kediaman rumah Pak Yasin Pati. Turut dalam umroh Himma ini, putra pertama dan ragilnya Mbah Moen, yaitu Kiai Abdullah Ubab dan Kiai Muhammad Idror. Juga ada Gus Baha, Kiai Yasir Bulu Manis, dll.
Alhamdulilah, dalam perjalanan umroh ini, saya bisa merampungkan tulisan atau buku Mbah Moen ketiga di Masjidil Haram sesuai isyarat Mbah Moen. Buku itu kami selesaikan menjelang Subuh (12 Desember 2019) atas berkah dan doa dari Mbah Moen. Semoga bermanfaat. Amin ya rabbal alamin.
Yogyakarta, 8 April 2020 M
Amirul Ulum
(Santri Mbah Moen & Khadim Ulama Nusantara Center (UNC))
NB : Untuk kisah-kisah selama di Haramain, insyaAllah akan kami kupas di buku Syaikh Baqir al-Jukjawi : Mutiara Yogyakarta di Haramain.








