/>
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Beli Buku

Dua Tokoh Perdamaian Indonesia

Indonesia mempunyai dua tokoh perdamaian, menyelamatkan bangsa dari perpecahan. Pertama H. Yusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden RI) dan KH. Maimoen Zubair.

Ketika pemberontakan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menjamur berpuluh-puluh tahun, hampir saja Aceh terlepas dari pangkuan ibu pertiwi NKRI. Namun melalui tangan lembutnya H. Yusuf Kalla yang di waktu itu menjadi Wakil Presiden Susilo Bambang Yudoyono mampu mendamaikan GAM tanpa menggunakan senjata. Beliau mengutus Prof. Hamid Awaluddin sebagai perwakilan Indonesia. Disepakatilah Perjanjian Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Alhamdulillah berkah MoU Helsinki ini, Aceh kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Aceh adalah kota serambi Makkah yang digadang-gadang Kiai Maimoen Zubair, kelak ajaran Islam akan berkembang pesat di sana.

Ketika masa jabatan SBY berakhir, digantikan oleh Jokowi, seolah bangsa Indonesia terpecah menjadi dua kelompok, yaitu cebong dan kampret/ kadrun. Cebong disematkan pada pendukung Jokowi, sedangkan kadrun/ kampret pada pendukung Prabowo.

Jokowi memenangkan pemilu dua periode (2014 dan 2019). Mulanya Prabowo enggan ikut bergabung pada masa periode pertama, namun pada periode kedua, berkah lobi Kiai Maimoen Zubair, kedua tokoh tersebuh mau bersatu. Prabowo yang asalnya menjadi rival Jokowi dengan senang hati bersedia masuk di kabinet Jokowi. Beliau diberi amanah menjadi Menhan.

Kiai Maimoen Zubair selalu mendoakan, agar kedua kelompok ini bersatu. Allah pun mengabulkan doanya. Allah memberikan kesempatan kepada Prabowo untuk memimpin bangsa Indonesia, menjadi Presiden RI.

Semoga Indonesia dijaga Allah dari perpecahan, mulai Sabang sampai Merauke. Semoga Allah menempatkan almagfurlahu Kiai Maimoen Zubair di surga-Nya. Semoga Allah memanjangkan umur H. Yusuf Kalla untuk kemanfaatan bangsa dan negara. Amiin ya Rabbal alamin.

Beli Buku

 

Yogyakarta, 14 September 2025

Amirul Ulum, Santri Mbah Moen Sarang

Share:
Beli Buku
Avatar photo

Ulama Nusantara Center

Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *