“Kaprahe Sayyid Jowo (Walisanga dan dzuriyahnya) iku Jawani (Kebanyakan Walisanga dan dzuriyahnya itu bisa berbaur dengan masyarakat Jawa.” [KH. Maimoen Zubair]
Menurut Mbah Moen bahwa Walisanga itu bisa hidup berbaur dengan masyarakat lokal. Demi sebuah dakwah mereka rela menanggalkan gelar sayyidnya, diganti dengan Raden (atau yang lain semisal sunan) semisal Raden Rahmatullah, Sunan Bonang dan Sunan Giri. Hal ini dilakukan supaya tidak ada sekat antara mereka dan medan dakwahnya.
Mereka berbaur. Menciptakan gending, gamelan, dan ikut serta membangun irigasi dan lain lain dari amal sosial. Masyarakat merasa nyaman dan simpati terhadap Sayyid Jowo, sehingga membuat mereka masuk Islam berbondong bondong.
Buahnya, karena jasa walisanga yang sangat melekat, namanya senantiasa terukir, dikenang sepanjang masa. Seandainya tidak ada Walisanga mungkin Islam di Jawa dan Nusantara tidak akan sebesar ini.
Yogyakarta, 14 September 2025
Amirul Ulum








