Suatu ketika kami bersama Syaikh Daniel al Muhajir (musnid dari United Kingdom) sowan di ndalem beliau, KH. Thoifur Mawardi. Waktu itu ada acara Perkumpulan Alumni Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki di kediaman beliau. Ramai sekali. Banyak ulama dan habaib dari berbagai penjuru yang hadir.
Saya bersama Syaikh Daniel sowan (sungkeman) satu persatu kepada masyayikh sepuh.. Syaikh Daniel meminta ijazah sanad kepada mereka yang hadir, namun tidak ada yang berani memberikan ijazah, karena merasa belum pantas. Ada yang mengatakan yang pantas memberikan ijazah adalah Syaikh Maimoen Zubair. Kebetulan Syaikh Maimoen tidak hadir pada waktu itu…
Semua terdiam. Setelah beberapa saat kemudian, KH. Thoifur Mawardi yang memberikan ijazah tersebut. Seingatku hanya beliau yang memberikan ijazah dari sekian banyak ulama yang hadir… Karena semua yang hadir merasa tidak pantas, dan yang paling pantas adalah KH. Thoifur Mawardi…
Sekian banyak ulama, yang ditunjuk hanya Mbah Maimoen dan KH. Thoifur…Ini bukan sekedar pengakuan biasa, tapi lebih dari pada itu..
Mbah Moen dan KH. Thoifur merupakan dua ulama yang sangat kokoh dalam memegang syariat. Sama sama murid abuya Sayyid Muhammad al-Maliki. Sama-sama wafat di bulan Agustus. Sama Sama wafat di Hari Selasa yang diiringi hujan, karena para penduduk langit ikut berbela sungkawa.
Selamat jalan kiai. Dawuh Mbah Moen, jika ada ulama wafat di hari selasa maka, dia adalah ulama sungguhan. Jika wafat di hari jumat, maka dia merupakan waliyullah…
Kagem KH. Thoifur Mawardi alfatehah
Yogyakarta, Selasa 19 Agustus 2025
Amirul Ulum








