Oleh: Kamim Tohari
Dalam beragama khususnya di Islam tak asing lagi dengan istilah taubat dan hijrah. Keduanya ialah jalan hidup muslim yang harus ditempuh untuk transformasi diri lebih baik dari sebelumnya. Tapi perlu dipahami, keduanya sangat jauh berbeda. Saya tidak akan membahas taubat dalam tulisan ini. Saya ingin membongkar makna hijrah yang sesungguhnya. Sebab istilah hijrah dalam beberapa waktu terakhir ini semakin populer. Apalagi di kalangan para publik figur. Banyak dari publik figur ini ramai-ramai berhijrah. Lalu apakah salah dengan hijrah?. Tentunya tidak ada yang salah. Hanya saja sedikit mengalami peyorasi.
Hijrah dalam Islam belakangan ini hanyalah sebuah formalistik-fomalistik belaka. Selain formalistik, hijrah juga menjadi sebuah trend. Fenomena yang muncul kepermukaan ialah mereka yang hijrah ‘merasa’ lebih baik daripada yang tidak atau belum berhijrah. Kita harus ingat, kalau cara beragama kita cenderung formalistik dan melupakan substansi, maka beragama kita akan kering tanpa makna ‘nir makna’. Sehingga yang terjadi akan ada pemutlakan pendapat atau pemutlakan paham. Yang akhirnya menganggap pendapatnya paling benar dan mempersetankan pendapat yang lain.
Formalistik ini banyak sekali bentuknya. Salah satunya tentang istilah. Ya benar, istilah-istilah Arab seolah masuk tanpa sedikit pun dibendung maupun disortir. Sampai-sampai istilah-istilah khas Jawa semakin tersisihkan. Sekarang banyak masjid yang memakai sebutan ikhwan dan akhwat untuk membedakan gender. Lalu ‘dulur’ dalam Bahasa Jawa menjadi antum. Padahal dulu para Wali Songo dalam mendakwahkan Islam tidak banyak memakai kosa kata Arab. Meskipun kita semua tahu ilmu gramatikal Arabnya tidak perlu diragukan lagi. Dari sini kita paham bahwa ilmu itu yang terpenting adalah ‘lakunya’ bukan ‘gayanya’ saja. Jadi teringat kata Gus Dur, “Kita mengambil Islamnya, bukan Arabnya.” Alangkah baiknya kita tetap melestarikan istilah-istilah khas Indonesia atau Jawa di berbagai tempat. Misal istilah Jawa ‘langgar’ harus tetap dilestarikan.
Dalam belajar Islam kita tidak boleh terlalu ‘nggaya’ dengan sedikit-sedikit bilang bukan mahram, ukhti, dan sederet istilah gurun lainnya. Bahkan kadang-kadang saya jumpai perkataan ’bukan muhrim’. Padahal antara mahram dan muhrim sangat jauh berbeda artinya. Jangan sampai kehilangan ciri khas kita sendiri. Harus selalu ingat bahwa kita dilahirkan di bumi Indonesia. Jangan sampai kita menjadi agamis tapi tak nasionalis. Idealnya, agamis yang nasionalis dan nasionalis yang agamis.
Selain hijrah istilah, juga ramai hijrah pakaian. Label yang satu ini begitu kuat pengaruhnya. Kebanyakan masyarakat awam menilai hijrah itu ya dari pakaian. Sebelum memakai hijab, gamis, jubah, dan kaos kaki disebut muslim liberal tak sesuai syariat Islam. Kemudian setelah berhijrah dengan memakai kerudung, gamis, jubah, sorban dan bercadar dengan brand tertentu lalu bersorak sorai karena tujuannya telah tercapai. Padahal kerudung, gamis, jubah dan sorban bukanlah tolok ukur keimanan seseorang. Inilah bahayanya bila ‘hijrah’ hanya dipakai sebagai simbol agama. Sehingga tidak akan pernah sampai ke puncak esensi hijrah itu sendiri.
Menjadi orang baik dan benar itu tidak bisa instan. Ingat, seinstan-instannya mie instan tetap butuh dimasak terlebih dahulu. Kita harus pandai membaca diri dan realitas. Tidak perlu ikut-ikutan dan tidak perlu buru-buru. Jalani saja apa yang menurutmu baik, tanyakan pada hati sendiri. Seperti kata Kalis Mardiasih dalam bukunya “Jangan Hijrah Jauh-Jauh Nanti Tersesat”, ‘Mulailah mendengar dari dalam, semua ada di sana’. Dalam Tasawuf pun makna hijrah itu ke dalam bukan ke luar. Jadi, mari terus belajar, ngaji, diskusi dan perbanyak membaca. Nah, itu berarti yang dihijrahi dalamnya bukan luarnya saja.








