/>
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Beli Buku

Perjuangan KH. Mahfudz Shiddiq Dari NU Untuk Bangsa Indonesia (1907-1944)

Oleh: Robiihul Imam Fiddaroini

Prolog

Keluarga Bani Shiddiq memiliki nama dan kesan tersendiri di kalangan Nahdlatul Ulama maupun umat Islam di Indonesia. Bani Shiddiq merupakan keluarga ulama dan cendekiawan muslim di Indonesia. Salah satunya tokoh ulama yang fenomenal dengan perjuangannya di organisasi Nahdlatul Ulama yaitu KH. Mahfudz Shiddiq. Dalam perjalanan sejarahnya, Nahdlatul Ulama (NU) memberikan nilai perjuangan yang besar bagi bangsa, agama dan negara. Tidak hanya berjuang dalam bidang fisik, sosial, ekonomi dan politik. Namun juga yang tidak kalah pentingnya perjuangan NU dalam tegaknya ‘Izul Islam Wal Muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin) yang menjadi dambaannya.

Dalam pendahuluan di atas, menarik untuk mengetahui bagaimana sosok KH. Mahfudz Shiddiq membangun Organisasi Nahdlatul Ulama dalam masa penjajahan Belanda dan Jepang dari sektor strategi perjuangan, ekonomi kerakyatan dan gerakan kepemudaan yang diintegrasikan dengan manajemen modern.

Biografi KH. Mahfudz Shiddiq

KH. Mahfudz Shiddiq dilahirkan pada hari Kamis Pon, 27 Rabiul Awal 1325 H (10 Mei 1907) di Pesantren Gebang, Jember, sebagai putra sulung KH. Muhammad Shiddiq dengan Hj. Siti Maryam. Garis keturunannya ke-atas memang dari kalangan ulama dan bangsawan Jawa, yaitu sampai kepada Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) Raja Pajang. Pertama kali Kiai Mahfudz Shiddiq mendapat pendidikan agama dari ayahnya sendiri yang sekaligus pengasuhnya. Sejak kecil tampak sekali kecerdasannya dan memiliki bakat kepemimpinan yang bagus. Setelah menginjak remaja, ia dikirim ayahnya untuk mengaji di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Corak pemikiran Kiai Mahfudz Shiddiq selain dipengaruhi oleh ayahandanya, juga dipengaruhi oleh gurunya, KH. Hasyim Asy’ari. Melalui didikannya, Kiai Mahfudz Shiddiq tumbuh menjadi ulama dan pemimpin yang sangat berpengaruh.[1]

Dalam membimbing Kiai Mahfudz, ayahnya menggunakan cara bandongan/ weton. Yaitu kiai membacakan dan menerangkan kitab pada santrinya sedangkan para santri memperhatikan kitabnya sendiri (sambil membuat catatan-catatan dengan menerjemahkan arti maupun keterangan sang kiai). Kiai Mahfudz kecil pada umumnya sama seperti anak kecil lainnya yang menyukai bermain sepak bola bersama para santri dan anak-anak di sekitar lapangan Talangsari. Selain itu, Kiai Mahfudz kecil sering berdebat dan berdiskusi dengan teman-teman santri tentang isi kitab kuning yang diajarkan ayahnya.

Beli Buku

Ia sejak kecil sudah nampak keistimewaan akan jadi wong gedhe (orang besar). Tanda-tanda itu ada sejak ia masih dalam kandungan ibunya, suatu malam Kiai Shiddiq bermimpi punya macan yang ditempatkan di puncak gunung. Macan itu terikat lehernya oleh seutas tali yang ditambatkan pada sebatang pohon besar. Lalu mimpi itu ditafsiri oleh Kiai Abdul Adzim, Bangsalsari, Jember sebagai berikut: “Insya Allah Kiai akan memiliki putra yang bakal menjadi ulama besar di Indonesia ini, tetapi sayang usianya pendek”.[2]

Menuntut Ilmu ke Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan Syaikh Maliki

Semakin bertambah umur Kiai Mahfudz, maka semakin kelihatan juga perkembangannya sebagai orang besar. Sang ayah, Kiai Shiddiq menitipkan putranya untuk mondok kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Mahfudz pergi menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 1922 M atau saat ia masih berusia 15 tahun. Kiai Hasyim Asy’ari melihat potensi yang besar pada Kiai Mahfudz Shiddiq muda sehingga ia memberikan perhatian khusus kepadanya. Kiai Hasyim sangat mengetahui banyaknya potensi yang dimiliki oleh Kiai Mahfudz. Sebelum ia mondok di Pesantren Tebuireng, ketika Kiai Hasyim Asy’ari bersilaturahim kepada Kiai Shiddiq, seringkali Kiai Mahfudz kecil dipanggil ayahnya untuk menemani dan menghormati Kiai Hasyim Asy’ari.[3]

Di tangan Kiai Hasyim ini lah, sosok Kiai Mahfudz semakain tampak kecerdasan, kepandaian dan ketajamannya dalam berpikir. Selama mondok di Tebuireng, Kiai Mahfudz terus mengembangkan diri dengan belajar kepada Kiai Hasyim Asy’ari yang alim alamah. Selain belajar kitab kuning, ia sering berdebat dengan para santri tentang ajaran Islam, ketauhidan dan nasionalisme. Ketika Kiai Mahfudz mengaji di Tebuireng, ia bersahabat baik dengan Kiai Wahid Hasyim, putra Kiai Hasyim yang usianya lebih muda darinya yaitu sekitar tujuh tahun. Ternyata kedua orang sahabat ini memang dikader oleh Kiai Hasyim sebagai calon pemimpin umat. Khususnya pemimpin Nahdlatul Ulama di masa mendatang. Upaya ini berhasil dengan baik. Kedua-duanya menjadi tokoh NU pada masanya. Sebagai ketua umum NU, dengan pembaharuan-pembaharuan yang berhasil mereka laksanakan.

Setelah dirasa cukup mondok di Pesantren Tebuireng, Kiai Mahfudz melanjutkan mencari ilmu ke Makkah. Wawasan berfikir serta berakhul karimah semakin berkembang pesat saat berada di Makkah, Kiai Mahfudz bersahabat dengan Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri, untuk menimba ilmu pada ulama-ulama sunni Makkah. Mereka berguru kepada ulama seperti Syaikh Maliki, Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, Syaikh Yamani dan lain-lain. [4]

Di Makkah, Kiai Mahfudz terkenal sebagai santri yang gemar berdebat. Ia pandai dalam ilmu mantiq (ilmu filsafat logika) sehingga dengan kaidah-kaidah mantiq, Kiai Mahfud mampu menguraikan masalah-masalah yang pelik secara mudah dipahami orang lain. Semangat nasionalisme juga tumbuh dan terpacu ketika ia mengetahui gerakan-gerakan kemerdekaan dari sahabat-sahabatnya dari negara lain seprti: Mesir, India dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Maka tidak heran ketika sudah di tanah air, Kiai Mahfudz aktif dalam pergerakan nasional NU  yang menuntut kemerdekaan atas pemerintahan kolonial Belanda.[5]

Kembali ke Tanah Air Indonesia

Kiai Mahfudz kembali ke Indonesia sekitar tahun 1928. Ia langsung aktif dalam pendirian cabang-cabang Nahdlatul Ulama (NU) di daerahnya setelah dua tahun sebelumnya (1926) NU berdiri. Banyak gagasan dan ide baru yang dimunculkan olehnya. Ia sering melakukan diskusi di Masjid Pondok Talangsari dan Masjid Jami’ al-Amin Jember, bersama para kiai dan tokoh muda Jember. Pemikiran dan sikapnya yang maju serta bersifat terbuka kepada semua golongan, inilah yang menyebabkan Kiai Mahfudz bisa berinteraksi dengan strata sosial yang ada di masyarakat Jember khususnya. Sifat terbuka seperti inilah yang sangat sulit ditemui di kalangan pesantren. Begitupun keterbukaannya dalam memilih pasangan hidup. [6]

Beli Buku

Pernikahan Kiai Mahfudz Shiddiq

Kiai mahfudz memilih sendiri sang permaisuri untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. Awalnya ia sering melihat sang calon permaisuri ini mengaji di Masjid Jami’ al-Amin Jember, ketika ia berdiskusi dengan para kiai dan tokoh muda lainnya. Kemudian ia sering bertanya kepada salah satu kiai yang menjadi teman diskusinya yaitu: Kiai Abdurrahim, Talangsari. Dari sini lah Kiai Mahfudz tahu, kalau sang permaisuri itu bernama Siti Sarah putri Haji Anang Acil dan Hj. Siti Rahmah dari Kutai Kartanegara yang tinggal di daerah kauman (sekitar Jami’ al-Amin Jember). Dari Kiai Abdurrahim ini lah Kiai Mahfudz mengetahui bahwa Hj. Siti Rahmah (ibunda Siti Sarah) adalah seorang putri Raja Kutai Kartanegara.

Selanjutnya Kiai Mahfudz meminta kepada Kiai Abdurrahim agar membicarakan keinginanya untuk meminang Siti Sarah kepada sang ayah, Kiai Shiddiq. Lalu sang ayah melakukan salat istikharah malam harinya. Keesokan harinya, Kiai Shiddiq kemudian menyetujui pilihan sang putra. Suatu sikap keterbukaan yang luar biasa ditunjukkan oleh Kiai Shiddiq. Akhirnya Kiai Mahfudz menikah pada tahun 1929 dengan Nyai Hj. Siti Sarah. Dari pernikahan ini dikaruniai 8 anak yaitu: Hj. Suroyo Mahfudz Shiddiq, Zubaidah Mahfudz Shiddiq, KH. Saiful Bari Mahfudz Shiddiq, KH. Nuril Bari Mahfud Shiddiq, HJ. Siti Zubaidah Mahfudz Shiddiq, Amir Faisol Mahfud Shiddiq, KH. Amir Faisol Mahfudz Shiddiq dan KH. Muhammad Shiddiq.

Pada tahun 1930 M, kejadian yang sangat membuat Kiai Mahfudz berduka adalah saat ibudanya wafat, yaitu Nyai Maryam yang meninggal dalam perjalanan pulang ketika melaksanakan ibadah haji dengan transportasi kapal laut. Empat tahun kemudian sang ayah KH. Muhammad Shiddiq tepatnya pada tanggal 2 Ramadhan 1533 H (9 Desember 1934 M) menghadap Allah SWT. Di tengah berjuang membesarkan organisasi NU ia sangat berduka dan berusaha untuk tetap tegar menata masa keluarga dan adik-adiknya yang sudah yatim piatu. Salah satunya Kiai Mahfudz mengasuh adik bungsunya yaitu Kiai Ahmad Shiddiq yang sedang berumur 8 tahun.[7]

Mendapat Amanah Memimpin Nahdlatul Ulama

KH. Mahfudz Shiddiq awalnya terpilih sebagai presiden (ketua) Tanfidziyah HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama) sekarang menjadi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pada kongres NU ke-12 di Malang, tahun 1937. Kemudian berturut-turut ia terpilih lagi menduduki jabatan yang sama pada kongres ke-13 di Menes, Pandeglang (1938), kongres ke-14 di Magelang (1939), dan kongres ke-15 di Surabaya (1940). Kongres (sekarang berubah menjadi muktamar) merupakan institusi tertinggi dari organisasi berlambang jagat dan tali itu.

KH. Mahfudz Shiddiq sendiri pada mulanya menolak jabatan sebagai ketua Tanfidziyah HBNO. Ia sering menolak, meskipun berkali-kali dalam sidang menetapkannya sebagai calon ketua. Karena Kiai Mahfudz beranggapan bahwa banyak kiai yang lebih berpengalaman dan berpengatahuan luas tentang NU dibandingkan dirinya. Kiai Hasyim merupakan satu-satunya tokoh yang mampu meluluhkan hati Kiai Mahfudz Shiddiq agar bersedia menerima amanat itu. Sebagai santri, tentu saja tidak bisa berkutik lagi menghadapi permintaan sang guru. Akhirnya, amanat kongres tersebut diterima Kiai Mahfudz meskipun dengan berat hati.

Selang beberapa waktu, Kiai Hasyim silaturahim di kediaman ayahnya yaitu Kiai Shiddiq. Tujuan Kiai Hasyim yaitu meminta izin kepada Kiai Shiddiq agar anaknya (Kiai Mahfudz) menerima amanat muktamar dan memimpin organisasi NU. Karena yang meminta Kiai Hasyim, maka Kiai Shiddiq kemudian izin untuk melakukan salat istikharah. Selesai salat istikharah, Kiai Shiddiq menemui Kiai Hasyim dan menyampaikan bahwa putranya diserahkan penuh kepada Kiai Hasyim. Karena sudah mendapatkan izin dari ayahnya, Kiai Mahfudz dan Kiai Hasyim kembali ke area kongres di Malang. Pada akhirnya, Kiai Mahfudz menjadi ketua PBNU atas perintah Kiai Hasyim dan mendapatkan izin dari ayahnya.

Beli Buku

Membangun Manajemen Organisasi di Nahdlatul Ulama

Setelah terpilihnya sebagai presiden Tanfidziyah HBNO (ketua umum PBNU), ia ngantor di jalan Sasak No. 23 Surabaya secara teratur setiap hari. Setiap pagi ia berangkat dari rumahnya di kawasan Ampel Maghfur NO. 2 Surbaya ke kantor HBNO dengan pakaian resmi: berjas dan berdasi. Sebelumnya, ia sudah terlibat dalam merintis pembentukan orgaisasi pemuda di lingkungan NU yaitu ANO (Ansor Nahdlatul Ulama). Ia menetapkan dasar-dasar organisasi yang kuat dan sistem komunikasi yang baik dan profesional sebagai organisator. Dengan menjalankan manajemen inilah, Kiai Mahfudz menjalankan organisasi dengan elegan.

Kemudian ia juga merintis gerakan Mu’awanah, suatu gerakan tolong-menolong, gerakan ini diselenggarakan dalam rangka mewujudkan dan menopang gerakan mabadi’ khaira ummat (lepas landas menuju tergalangnya umat pilihan). Ia menggalang program ekonomi di dalam NU yaitu al-Mua’wanah alias ekonomi gotong royong, suatu koperasi berdasarkan ekonomi masyarakat. Program ekonomi kerakyatan inilah yang diberikan kesemua daerah yang berbasis NU. Melalui Syirkah Mu’awanah, warga NU dapat terbantu untuk pemenuhan sembako dan sandang.

Kiai Mahfudz Shiddiq, di samping sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, juga sebagai ulama pengasuh pesantren di pesantren yang didirikan ayahnya, yang kemudian bernama Pesantren ASTRA (Ash Shiddiqi Putera) dan ASTRI (Ash Shiddiqi Puteri). Nama Ash Shiddiqi ini diambil dari nama pendirinya, KH. Muhammad Shiddiq.[8]

Dipenjara Oleh Tentara Jepang

Sebagai seorang ulama besar yang menjadi ketua umum NU kala itu, tentu saja ia merupakan tokoh pilihan. Ia mempunyai nyali yang besar menghadapi siapa pun, tentu saja dilengkapi dengan kesabaran, ketabahan hati serta wawasan yang luas. Pada masa penjajah Jepang, banyak ulama yang ditangkap dan dijebloskan di penjara. Kiai Hasyim tidak luput dari penangkapan dan penahanan Jepang selama lima bulan dengan tuduhan merongrong pemerintahan Jepang di Indonesia. Kiai Mahfudz berusaha membela guru dan pemimpinnya, tetapi masih baru akan bergerak, ia diciduk juga oleh Kenpetai (Polisi Militer Jepang) dan dijebloskan ke dalam penjara juga. Siksaan demi siksaan dirasakan oleh ulama muda ini selama di dalam penjara Dai Nippo. Betapa kejinya tentara Jepang dalam menyiksa rakyat Indonesia yang dipandang sebagai pembangkang, belum lagi kerja paksa demi pemerintahan Jepang yang dikenal dengan Romusha.

Setelah ditahan beberapa bulan, akhirnya Kiai Hasyim dibebaskan melalui upaya luar biasa dari tokoh-tokoh NU. Kepemimpinan Nahdlatul Ulama untuk sementara waktu sejak Kiai Mahfudz masuk tahanan Jepang, dipegang oleh Kiai Nahrawi Thahir dibantu Muhammad Dahlan dan Kiai Muhammad Ilyas.[9]

Wafatnya Kiai Mahfudz Shiddiq

Beli Buku

Setelah Kiai Mahfudz dilepaskan dari penjara, kondisi kesehatannya semakin buruk dan sakit-sakitan akibat beratnya siksaan di dalam tahanan. Akhirnaya ia wafat dalam usia yang cukup muda yaitu 37 tahun di kediaman (pesantrennya) di Jember pada tanggal 5 Muharram 1363 H, bertepatan dengan 1 Januari 1944 M. Ia meninggalkan istri dan enam anak yang kemudian menjadi penerus perjuangannya.[10]

Epilog

Kiai Mahfudz Shiddiq dibilang sebagai ulama yang berusia tidak panjang, tidak sampai melampaui umur 40 tahun. Meskipun umur ulama asal Jember ini cukup pendek, wafat di kala usianya masih tergolong muda, tetapi pengaruhnya sangat besar di kalangan umat Islam. Kebesaran Nahdlatul Ulama tidak terlepas dari peran dan pengaruh ulama ini, sehingga organisasi Islam yang terkenal tradisional ini terus berkembang hingga saat ini sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara.

 

Referensi

[1] Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Gelegar Media Indonesia, Jakarta, 2009, hlm 470.

[2] Mohammad  Khusnu Milad, Modernisasi Manajemen Organisasi NU: Kajian Atas Pemikiran KH. Nahfudz Shiddiq, Proceedings Ancoms, Surabaya, 2017, hlm 629.

[3] Mohammad  Khusnu Milad, Modernisasi Manajemen Organisasi NU: Kajian Atas Pemikiran KH. Nahfudz Shiddiq, Proceedings Ancoms, Surabaya, 2017, hlm 629-630.

Beli Buku

[4] Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Gelegar Media Indonesia, Jakarta, 2009, hlm 470.

[5] Mohammad  Khusnu Milad, Modernisasi Manajemen Organisasi NU: Kajian Atas Pemikiran KH. Nahfudz Shiddiq, Proceedings Ancoms, Surabaya, 2017, hlm 630.

[6] Mohammad  Khusnu Milad, Modernisasi Manajemen Organisasi NU: Kajian Atas Pemikiran KH. Nahfudz Shiddiq, Proceedings Ancoms, Surabaya, 2017, hlm 630-631.

[7] Mohammad  Khusnu Milad, Modernisasi Manajemen Organisasi NU: Kajian Atas Pemikiran KH. Nahfudz Shiddiq, Proceedings Ancoms, Surabaya, 2017, hlm 631-632.

[8] Mohammad  Khusnu Milad, Modernisasi Manajemen Organisasi NU: Kajian Atas Pemikiran KH. Nahfudz Shiddiq, Proceedings Ancoms, Surabaya, 2017, hlm 625-626.

[9] Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Gelegar Media Indonesia, Jakarta, 2009, hlm 475.

[10] Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Gelegar Media Indonesia, Jakarta, 2009, hlm 475-76.

Beli Buku
Share:
Beli Buku
Avatar photo

Ulama Nusantara Center

Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *