Oleh: Aisyah Nursyamsi
Siapa yang tidak mengenal Hamka? Selain sebagai penulis novel bertajuk roman yang cukup populer yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk atau Di Bawah Lindungan Kakbah, Hamka adalah ulama besar sepanjang masa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Lahir di Nagari Sungai Batang, Sumatera Barat tanggal 17 Februari pada tahun 1908, Hamka menjadi ulama fenomenal dengan tafsir Al-Alzhar dan pemikiran tasawuf modernnya. Namanya disematkan untuk universitas dan dicantumkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Ulama yang bernama asli Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah menempuh perjalanan pasang surut dalam menempa ilmu agama. Mengawali dengan pendidikan agama di Thawalib, Padang Panjang hingga merantau ke Jawa, Hamka pun kembali ke kampung halaman demi memajukan sekolah Muhammadiyah namun ditolak karena kurangnya pengetahuan dalam berbahasa Arab. Bukannya menyerah, semangatnya terpelecut hingga pergi ke Mekah.
Sekembalinya dari Mekkah, Hamka memulai karir menjadi wartawan dan guru di Deli, Medan. Dari sana, Hamka mengumpulkan tekad untuk meneruskan cita-cita orangtua untuk menjadi ulama dan sastrawan. Usaha tidak membohongi hasil, begitulah kira-kira kalimat yang sesuai bagi Hamka yang kerap dipanggil Buya itu.
Pada tahun 1969, Buya Hamka pernah diundang untuk menjadi pengisi ceramah di Taman Ismail Marzuki oleh Dewan Kesenian Jakarta. Dalam diskusi tersebut, Buya Hamka sempat ditanya akan hal yang mengganjal di berbagai kalangan, yang mengetahui dengan jelas atas perseteruan Pram dengan Buya Hamka.
Bagaimana sikap beliau terhadap Pramoedya yang dulu pernah mengahancurkan nama baiknya beberapa tahun yang lalu, dirubik Bintang Timur, dan Lentera. Yang pada akhirnya hal ini terus berlanjur hingga mengangkat Buya Hamka ke kursi pesakitan, penjara. Hal ini terjadi karena tuduhan dari Pramoedya bersama yang lain kepada Buya Hamka, mengenai perencanaan pembunuhan Presiden Soekarno, bersama Menteri Agama. Hingga menyebabkan ia masuk tahanan selam 28 bulan tanpa ada proses hukum dan pengadilan.
Bagaimana Buya Hamka menyikapinya? Beliau menjawab dengan tenang, bahwa beliau sudah memaafkan kepada semua orang yang terkait. Beliau tidak mempermasalahakan hal ini. Bahkan beliau menerima semua perlakuan dari mereka yang telah berbuat kejahatan kepadanya. Bagi Hamka, semua yang terjadi merupakan masa lalu yang tidak memiliki peran penting untuk diulang.
Buya Hamka memiliki karakter untuk menghindari konflik sekecil apa pun. Orangtua yang memiliki kharismatik ini berusaha untuk tetap bisa menjaga hubungan baik antar sesama. Tidak pernah sedikit pun Buya Hamka menolak, atau pun melakukan sesuatu sampai merenggangkan suatu hubungan. Hanya satu kali beliau pernah menolak undangan dari Menteri Agama, yang isi undangannya adalah agar Buya Hamka pergi ke istana untuk menyambut Paus Johanes yang saat itu sedang berkunjung ke Indonesia.
Tidak hanya Menteri Agama, beberapa petinggi dari HMI, juga telah membujuk Buya hamka untuk menghadiri undangan tersebut. Tujuannya adalah untuk beramah-tamah kepada Paus Johanes atas kunjungannya ke Indonesia, di istana. Tegas beliau menolak dan mengatakan, bagaimana bisa dia bersilahturahmi dengan orang yang berusaha keras ingin menghancurkan Islam. Buya Hamka memang terkenal dengan ketegasannya dalam memilih dan memilah mana yang pantas, dan mana pula yang tidak bisa dipantaskan.
Agama Islam memang mengajarkan tentang tolerir, tapi tidak jika itu menyangkut kepada urusan agama, aidah dan tauhid. Sedangkan saling ta’awun bahkan kita memang dianjurkan saling tolong menolong walaupun berbeda keyakinan. Boleh, asal tolong menolong dalam kebaikkan, bukan untuk melakukan hal-hal buruk. Ketegasan dari Buya Hamka bisa dilihat dari masa kepemimpinannya ketika beliau pernah diamanahkan menajdi Ketua Majelis Ulama Islam (MUI) pada tahun 1975 sampai tahun 1979.
Pada akhir masa pemerintahannya, Indonesia tengah diramaikan tentang benar atau salahnya mengucapkan selamat natal kepada kaum non muslim. Sebagian besar dari orang berpendapat jika sah-sah saja jika seorang muslim mengucapkan selamat natal kepada non muslim, asal tidak mengikuti kegiatan yang terjadi selama malam natal.
Tapi ada pula yang berpendapat jika mengucapkan selamat natal merupakan perbuatan yang salah karena sudah melewati sikap tolerir kita sebagai umat muslim. Mereka beranggapan jika mengucapkan selamat natal, maka sama saja dengan merayakan hari natal. Karena kita mengakui keberadaan hari natal.
Dengan kata lain, jika kita mengakui keberadaan malam natal, berarti kita juga mengakui dengan kehadiran Isa al-Masih sebagai Yesus, atau anak tuhan. Maka Buya Hamka merupakan golongan dari orang yang kedua. Karena terus didesak untuk memberikan keputusan, dan menyetujui jika mengucapkan selamat natal bukanlah kesalahan yang harus diambil pusing, Buya Hamka yang terkenal tidak menginginkan terciptanya sebuah konflik, mengambil langkah yang cukup berani. Yaitu melepaskan jabatannya sebagai Ketua MUI.
Sebelumnya Buya Hamka juga sempat mengeluarkan fatwa haram, bagi kaum muslim yang mengucapkan selamat natal kepada kaum non muslim. Pemerintah merasa keberatan dengan keluarnya fatwa tersebut. Tapi berbeda dengan tanggapan dari beberapa tokoh-tokoh agama, mereka memberikan appresiasi yang positif mengenai keputusan yang telah diambil oleh Buya Hamka itu sendiri.
Dalam masalah akidah dan tauhid, Buya Hamka merupakan tipikal orang yang tidak bisa diajak berkompromi. Tapi jika dengan masalah-masalah lain, Buya Hamka masih bisa bersikap toleran. Sekitar tahun 1964-1966, kembali mengingatkan kita kepada pemenjaraan Buya Hamka atas perintah yang turun dari Presiden Soekarno. Tanpa bukti, prosedur hukum dan proses pengadilan.
Buya Hamka dituduh telah melakukan perencanaan pembunuhan pada Presiden, dan itu melanggar Undang-Undang Pempres No.11, yang tidak hanya itu. Penerbitan buku hasil karangan Buya Hamka pun dilarang untuk terbit. Selama dua puluh delapan bulan atau sama dengan dua tahun empat bulan beliau mendekam di dalam bui tanpa ditemukan kesalahan apa pun yang menjerat laki-laki ini. Buya Hamka baru bebas ketika rezim Soekarno runtuh dan digantikan oleh Orde Baru yang digantikan oleh Soeharto.
Maka bisa dilihat dari jauh bagimana hubungan Buya Hamka dengan Soekarno. Tapi di luar dugaan, pada tanggal 16 Juni 1970, Buya Hamka dihubungi oleh Mayjen Soeryo. Yang intinya, Mayjen Soeryo mengirimkan pesan terakhir dari Soekarno kepada keluarganya dan dipenuhi oleh Pesiden Soeharto. Untuk itulah Soeharto mengutus Soreyo.
Isi pesannya adala ‘Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.’ Buya Hamka lalu melaksanakan amanat terakhir itu dengan ringan hati. Sempat beberapa rekan dari Buya Hamka yang kurang menyukai tindakan yang telah dilakukan olehnya. Kenapa harus melakukan itu sedangkan sikap Soekarno sangat jauh dari mencerminkan dari kata baik kepada Buya Hamka.
Bahkan beberapa rekan Buya Hamka juga mengingatkan jika karena Soekarno pula Buya Hamka bisa masuk ke dalam bui. Tapi dengan lemah lembut, Buya Hamka menjawab jika semua orang wajib untuk menyelenggarakan jenazah, dan jelas itu merupakan kewajiban dari setiap muslim. Buya Hamka juga mengatakan jika masuk penjara merupakan suatu nikmat luarbiasa yang telah diberikan dari Allah kepadanya. Dengan dia dimasukkan ke dalam penjara, Buya Hamka bisa menyelesaikan tafsir Al-quran 30 juz, Tafsir Al-azhar.
Buya Hamka juga mengingatkan jika Soekarno punya dua jasa besar kepada umat Islam. Soekarno telah membangun Masjid Baitul Rahim dan Masjid Istiqlal. Buya hamka juga punya sejarah dengan Mr. Moh. Yamin. Pada tahun 1955-1957, Buya Hamka yang merupakan seorang anggota Kontituante dari fraksi Partai Masyumi, menyampaikan usulan dalam sidang Dasar Negara Republik Indonesia. Ada dua pilihan sebagai dasar negara Indonesia yaitu UUD’45 dengan dasar Negara Pancasila, atau UUD’45 dengan dasar negara berdasarkan Islam.
Hal ini menyebabkan terbelah menjadi dua front yang sama-sama kuat. Yang jelas Buya Hamka mengeluarkan sebuah pidato yang intinya mendukung terbentuknya negara Islam di Indonesia. Moh. Yamin yang berasal dari partai fraksi PNI merasa sangat berang dan pada akhirnya menerbitkan rasa benci tersendiri bagi Moh. Yamin, hingga tepatnya pada tahun 1962 Moh. Yamin jatuh sakit dan dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Dasar (RSPAD).
Melalui Chaerul shaleh, Buya Hamka mendapatkan pesan dari Moh. Yamin untuk menjenguk dirinya di rumah sakit. Hingga beliau wafat, Buya Hamka selalu menemani beliau. Maka dari sana bisa kita lihat betapa besarnya hati dari seorang Buya Hamka. Buya Hamka yang merupakan sastrawan, politikus dan sebagai ulama besar ini sangat terkenal sampai di hormati di seluruh Asia hingga Timur Tengah. Buya Hamka juga telah memberikan banyak sumbangsih kepada negara.
Buya Hamka yang memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini, telah membangun kesadaran umat Islam dan bernegara. Maka pada tahun 2011 beliau mendapatkan pengharagaan sebagai Pahlawan Nasional. Tak hanya dengan tulisan, dari cerita sebelumnya telah ditangkap betapa Buya Hamka memiliki akhlak yang sangat mulia, salah satunya orang yang terbuka untuk memaafkan semua orang yang telah menyakitinya.
Pada sekitar dekade 70-an Hamka juga mengingatkan kepada umat Islam terhadap al-Ghawul Fikri (Penjajahan alam pikiran). Sekularisme lah yang menyebabkan manusia dihancurkan oleh pemikiran mereka sendiri. Atau lebih tepatnya penjajahan pikiran itu tadi. Beliau menutup mata di Jakarta pada 24 Juli 1981.








