/>
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Beli Buku

Dimensi Pemikiran Mbah Moen

Oplus_131072
Table of contents: [Hide] [Show]

     

    Syaikh Maimoen Zubair adalah sosok yang menjadi teladan, bukan hanya bagi santri Al-Anwar, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Banyak ide dan gagasan beliau yang brilian dalam berbagai dimensi atau ruang lingkup yang mampu memberikan solusi atau jawaban atas persoalan yang timbul pada waktu itu, baik urusan kenegaraan hingga urusan rakyat, seperti meminta suwuk dan penentuan tanggal hari pernikahan.

    Mbah Moen menguasai berbagai dimensi keilmuan dengan sangat baik. Karena itu, beliau dapat dilihat dari beberapa sisi. Dari sisi keulamaan, beliau adalah sosok alim allamah.  Bukti nyatanya adalah banyak santri beliau yang kemudian melahirkan generasi santri alim. Dari sisi politik, jasa beliau sangat besar, termasuk dalam urusan penentuan pemimpin negara. Hal ini pernah beliau bicarakan. Contohnya saat Pilpres era Jokowi. Penetapan Pak JK sebagai calon wakil presiden memiliki peran penting dari beliau. Mbah Moen pernah berpesan kepada saya, “Wi, aku gelem dongakno kowe nek wakilmu JK.” Akhirnya, di tengah banyaknya isu nama calon wakil, yang terpilih adalah Pak JK. Hal serupa juga terjadi pada pencalonan Mbah Ma’ruf Amin.

    Berbagai ide dan gagasan Mbah Moen perlu segera diselamatkan. Jika tidak dikemas dan dibukukan, dikhawatirkan gagasan-gagasan tersebut akan hilang ditelan waktu. Salah satunya adalah konsep beliau tentang Jawa dan padi.

    Hamka menyebutkan dalam bukunya Tuanku Rao: Antara Khayal dan Fakta bahwa penyebaran Islam di Nusantara dan Melayu itu sudah disinggung dalam Al-Qur’an, yaitu:

    إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

    “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas yang campurannya adalah air kafur.” (QS. Al-Insan: 5)

    Kapur barus yang terbaik berasal dari wilayah Barus, Aceh. Dari daerah inilah lahir seorang ulama besar yang menjadi guru dari para guru, yaitu Syekh Abdur Rauf as-Singkili.

    Beli Buku

    Mbah Moen menyampaikan bahwa kebesaran Islam di Nusantara pun telah disinggung dalam Al-Qur’an. Jika Sumatra dikenal dengan kapur barusnya, maka Jawa dikenal dengan padinya. Karena itu, sebagian sejarawan menyebut Jawa sebagai Jazirah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

    وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ…

    “Sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati para petani…” QS. Al-Fath: 29

    Mengapa Mbah Moen mengibaratkan Islam di Nusantara seperti padi? Sebab sebagian besar ulama besar dari Jawa berasal dari keluarga petani. Padi, ketika ditanam dan dipupuk, tidak langsung tumbuh. Ia justru mendahulukan anaknya. Pupuk itu diserap untuk membesarkan anaknya hingga dewasa. Begitu pula para petani yang memondokkan anaknya. Setelah dewasa dan menjadi ulama, kehadiran mereka membuat orang tuanya bahagian dan membuat orang-orang kafir gentar.

    Mbah Moen juga pernah menjelaskan bahwa kata Jawa bermakna pintar. Jauh sebelum Islam datang, peradaban Jawa telah maju dengan bahasa Sanskertanya. Karena itu tidak mengherankan apabila banyak ulama di Nusantara dan Asia Tenggara menisbatkan diri sebagai al-Jawi. Dalam buku Pembendaharaan Lama karya Hamka disebutkan bahwa Sultan Malik az-Zahir dari Samudra Pasai juga disebut Sultan Jawah. Sejumlah ulama besar lain pun menggunakan nisbat al-Jawi, di antaranya Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi, Syekh Ismail al-Fathani al-Jawi, Syekh Daud al-Fathani al-Jawi, dan Syekh Khatib Sambas al-Jawi.

    Karena pengaruh Jawa dalam dunia keilmuan Islam, menurut Mbah Moen bahasa Jawa Pegon dibagi menjadi dua. Pertama, Jawi al-Mrikiyyah, yaitu bahasa Jawa Kesultanan Mataram, kromo alus atau bahasa Jawa secara luas. Kedua, Jawi al-Marikiyyah, yaitu bahasa Melayu. Kata mriki bermakna “ke sinilah”.

    Demikian secercah pemikiran Mbah Moen tentang Jawa. Sebenarnya masih banyak yang harus dikupas tentang Jawa versi Mbah Moen. Namun, karena keterbatasan waktu, al-faqir mencukupkan diri. Semoga lain kesempatan bisa disambung

     

    Yogyakarta, 14 Sept. 2026

    Beli Buku

    Amirul Ulum

    Share:
    Beli Buku
    Avatar photo

    Ulama Nusantara Center

    Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *