/>
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Beli Buku

Biografi KH. Khumaidi Umar

Oleh: Syamsul Ma’arif

Suatu siang, selepas mengajar di MTs NU 07 al-Hidayah Kendal lelaki yang berusia 60 tahun itu langsung menuju Kaliwungu untuk menghadiri undangan walimatul ursh di ndalem KH. Baduhun Badawi, pengasuh pondok-pesntren Miftahul Huda Kaliwungu, Kendal. Dengan masih mengenakan setelan seragam baju dan celana Ma’arif, lengkap dengan peci hitam dan sepatunya. Seragam yang sama persis ia gunakan saat mengajar.

Laki-laki itu perawakannya kecil, pembawaannya kalem, tutur katanya halus namun benar-benar membekas, senyumnya ringan, dan tatapannya tajam tapi meneduhkan. Beliau duduk seperti umumnya tamu undangan yang lain. Di kursi-kursi yang telah disediakan oleh tuan rumah.

Belum selesai acara, KH. Dimyati Rois pengasuh pondok pesantren al-Fadlu wal Fadhilah Kaliwungu, seorang ulama besar yang menjadi salah satu anggota sembilan Ahwa dan mustasyar PBNU pamit undur diri. Sepanjang perjalanan menuju kendaraan, banyak tamu undangan yang berebut menyalami dengan mengecup tangan mbah Dim, sapaan akrab beliau, sebagaimana tradisi di lingkungan NU. Apalagi seorang kyai sepuh yang sangat dihormati dan disegani yang pengaruhnya sampai kemana-mana. Laki-laki itu juga hendak menyalami mbah Dim seperti tamu undangan lainnya, namun cepat-cepat mbah Dim yang menyalami dan mencium tangannya setelah mengetahui keberadaannya, kemudian mengecup pipi kanan-kirinya sebagaimana ketika dua orang ulama saling bertemu.

Lelaki itu adalah KH. Khumaidi Umar. Lahir di desa Wonosari, kecamatan Patebon, kabupaten Kendal pada Ahad 05 Juni 1949 bertepatan 08 Sya’ban 1368 H. Anak ketiga dari pasangan Kiai Umar dan Nyai Sofiyah. Khumaidi merupakan sebuah nama yang melekat semenjak kecil yang diberikan oleh Kiai Umar sebagai bentuk tabarukan kepada gurunya, Kiai Khumaidi Tingkir, Salatiga.

Masa Kecil dan Pendidikan

Kiai Khumaidi tumbuh di dalam keluarga yang taat beragama dan lekat dengan tradisi pesantren. Ayahnya, Kiai Umar merupakan putra Kiai Faqih Sukolilan, Patebon, Kendal. Kiai Faqih adalah murid langsung KH. Ibrahim Brumbung Mranggen, penerus Thariqah Syaikh Abul Karim Banten. Dilihat dari silsilah keilmuan keluarga, keluarga KH. Khumaidi memiliki kecenderungan terhadap thariqat, khususnya Thariqat Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

Beli Buku

Kiai Umar adalah Kiai kampung bersahaja yang memberi pengajaran keagamaan bagi masyarakat di desa Wonosari dan sekitarnya, baik anak-anak, dewasa, atau orang tua. Pendidikan ala pesantren yang mengedepankan penguasaan disiplin ilmu-ilmu agama sudah mengakar kuat dalam pribadi KH. Khumaidi semenjak kecil. Hal ini sebagai modal besar kelak beliau melanjutkan pengembaraan keilmuan keagamaan di tempat lain.

Di bawah asuhan ayahnya, beliau belajar dasar-dasar keilmuan Islam seperti membaca al-Qur’an, nahwu, dan fiqh. Kiai Umar dikenal sebagai pribadi yang sangat disiplin dalam mendidik anak-anaknya, apalagi masalah agama. Selain belajar agama kepada ayahnya, juga belajar membaca al-Qur’an kepada Kiai Roja’i Wonosari. KH. Khumaidi kecil sudah dikenal sebagai pribadi yang tekun dan mudah menerima pelajaran. Dan, yang paling diingat dan melekat benak banyak orang semenjak kecil beliau adalah pribadi yang tawadhu’ dan penyabar.

Sedangkan untuk pendidikan formalnya ditempuh di Sekolah Rakyat (setingkat SD) Wonosari selama enam tahun. Setelah lulus beberapa sumber menyebut beliau melanjutkan ke PGA (setingkat MTs) selama empat tahun di Kendal (sekarang MTs NU 07 al-Hidayah Kendal).

Tahun 1964, KH. Khumaidi Umar muda berangkat ke Mranggen, Demak. Tepatnya di Pondok Pesantren Futuhiyah sampai tahun 1975 di bawah asuhan KH. Muslih bin Abdurrohman. Di pesantren inilah tempat beliau satu-satunya untuk menuntut ilmu.

Saat itu pondok pesantren Futuhiyah Mranggen merupakan salah satu pesantren yang paling dituju para santri Jawa Tengah, bahkan seluruh Jawa. Daya tarik utamanya terletak pada sosok KH. Muslih bin Abdurrahman, ulama karismatik, zahid, dan alim. Salah satu guru para mursyid-kholifah di tanah Jawa yang melahirkan berpuluh-puluh karya dalam lintas disiplin keilmuan Islam. KH. Muslih bin Abdurrahman sendiri lebih dikenal sebagai ulama thariqat. Di sini beliau memulai pendidikan di kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah pondok sampai kelas 3 Aliyah.

Saat itu KH. Khumaidi muda sudah dikenal sebagai santri yang tekun dalam belajar. Amanah dari orang tuanya untuk belajar di Mranggen beliau gunakan sebaik mungkin dengan tekun. Kesempatan itu tidak beliau sia-siakan. Terbukti beliau adalah santri yang sangat menonjol dalam pelajaran di dalam kelas.

Selama meuntut ilmu agama di pesantren Futuhiyah, selain usaha dhohir beliau juga mengusahakan dengan usaha batin dengan riyadhoh dan tirakat. Semenjak di kelas aliyah beliau sudah mulai puasa dalail, dalail khoirot. Salah satu bentuk tirakat terberat di dunia pesantren dengan bentuk puasa tiga tahun berturut-turut. Hebatnya lagi beliau lakukan dengan ngrowot. Satu bentuk tirakat yang tidak memakan makanan dari bahan dasar hewani dan tidak makan nasi. Yang dikonsumsi hanya buah-buahan, sayur-sayuran, singkong, jagung, umbi-umbiyan, dan lain sebagainya.

“Pak Khumaid itu dulu menonjol puasa, dalailan. Mulai kelas aliyah itu sudah dalailan,“ kenang bapak Kholil Lutfi, salah seorang kawan satu angkatan beliau. “Puasanya ngrowot, tidak makan nasi. Hanya singkong dan  ubi-ubian,” lanjutnya.

Beli Buku

Bahkan, puasa dalail tersebut beliau lakukan istiqomah secara terus-menerus, tidak putus sama sekali sampai saat beliau akad nikah.

Setelah menempuh pendidikan selama 7 tahun kemudian diangkat menjadi staf pengurus dan pengajar di almamaternya. Ketika menjadi pengurus inilah beliau mulai dikenal sebagai santri yang gemar membuat karangan. Salah seorang kawannya menuturkan, bahwa beliau menulis pada waktu itu sebagai cara untuk mengisi waktu luang.

Di kemudian hari beliau diamanati  untuk menjadi lurah pondok. Penunjukkan lurah pondok waktu itu bukanlah hal sembarang, apalagi sekelas pesantren Futuhiyyah Mranggen. Selain harus cakap dalam mengatur santri yang begitu banyaknya dan kelangsungan tata-tertib pesantren, haruslah berwawasan luas, kharismatik dan disegani.

Selain tugas-tugas tersebut, lurah biasanya yang dipasrahi untuk menggantikan pengasuh memimpin jamaah dan membacakan kitab saat pengasuh berhalangan hadir karena sebab tertentu. Ditambah lagi, saat bulan Ramadhan tiba beliau juga dipercaya untuk membacakan kitab Fathu al-Mu’in selama ngaji pasanan.

Bahkan, beliau diangkat menjadi katib pribadi KH. Muslih bin Abdurrahman. Ketika KH. Muslih bin Abdurrahman hendak menulis suatu karya, maka KH. Khumaidi yang menuliskan dan mendiskusikannya dengan KH. Muslih bin Abdurrahman.

Jadilah beliau dikenal sebagai salah seorang santri dekat, kepercayaan, dan kinasih KH. Muslih bin Abdurrahman. Kedekatan beliau dengan KH. Muslih bin Abdurrahman sudah seperti hubungan seorang ayah dan putranya. Sangat dekat.

Diceritakan di dalam jurnal atTaqaddum UIN Walisongo, Volume 6, Nomor 2, November 2014 dengan judul Melacak Pemikiran KyaiMuslih Mranggen (1912-1981) melalui Kitabnya: Yawaqit al-Asani Fi Manaqib al-Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, hasil penelitian Moh. Masrur. Di antara puluhan ribu santri KH. Muslih bin Abdurrahman yang telah mukim, hanya beliau yang diamanahi dan diberikan sebuah manuskrip kitab manaqib, Yawaqit al-Asani Fi Manaqib al-Syeikh Abdul Qadir al-Jilani untuk diterjemahkan.

Manuskrip tersebut diberikan melalui Kyai Lutfi Hakim bin Muslih suatu hari ketika sakit menjelang wafatnya tahun 2007. Kiai Lutfi Hakim bin Muslih yang merupakan pengganti KH. Muslih bin Abdurrahman Mranggen sebagai mursyid Thariqat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Mranggen. Hal ini menunjukkan bahwa beliau sangat dipercaya oleh KH. Muslih bin Aburrahman.

Beli Buku

Kiprah

Setelah boyong dari pondok hampir seluruh hidup KH. Khumaidi Umar digunakan untuk berjuang di jalan agama. Terhutang semenjak tahun 80-an beliau aktif di NU, baik tingkat kecamatan atau kabupaten. Di tingkat kecamatan pernah menduduki posisi Rais Syuriah selama dua periode. Di tingkat kabupaten beliau berkali-kali diminta oleh para Kiai sepuh agar bersedia menduduki jabatan Rais Syuriah, namun beliau belum bersedia karena merasa masih banyak yang lebih pantas, beliau hanya bersedia menduduki wakil Syuriah. Terakhir, periode berikutnya KH. Khumaidi Umar digadang-gadang lagi untuk dicalonkan, namun sayang beliau meninggal dunia terlebih daulu pada 2017.

Selain aktif di NU, KH. Khumaidi Umar adalah seorang khalifah-mursyid Thariqat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di lingkup kabupaten Kendal yang dibaiat langsung oleh KH. Muslih bin Abdurrahman. Tugas ini mengharuskan beliau membaiat dan membimbing para murid menuju Allah SWT. Belum pertemuan thariqat setiap tiga bulan satu kali yang diadakan di luar kota.

Beliau juga menjadi salah seorang yang diminta LP. Ma’arif Kabupaten Kendal untuk menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa atau Indonesia dengan aksara pegon sebagai kitab pegangan dan pengantar MDA yang saat itu dibawah naungan LP. Ma’arif.

Selain itu, kegiatan rutin beliau adalah mengajar di dua tempat: tiga hari di MTs NU 07 al-Hidayah Kendal, tiga hari di MTs NU 07 Patebon. Saat mengajar beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat disiplin.

Pada jadwal-jadwal tertentu beliau mengajar di majlis ta’lim ndalem beliau. Setiap ba’da magrib menerima sorogan anak-anak remaja di lingkup desa Wonosari. Setiap senin dan selasa jam 1 siang sampai ashar membacakan kitab Tafsir Jalalain, Tafsir Munir, dan kajian Fiqih bagi jama’ah putra-putri. Setiap kamis pahing tawajuhan thariqat, mengingat beliau adalah salah seorang mursyid-khalifah Thariqat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di kabupaten Kendal yang dibaiat langsung oleh KH. Muslih bin Abdurrahman. Setiap sabtu sore membacakan kitab Jami’u al-Ushulu fi al-Aulia. Setiap Ahad pagi membacakan kitab kajian Tasawuf. Setiap malam sabtu ngaji bandongan membacakan kitab Maraqi al-‘Ubudiyah bagi remaja di lingkup desa Wonosari.

Tugas-tugas di atas masih beliau emban dengan ikhsal, sungguh-sungguh, dan istiqamah sampai wafatnya pada Sabtu 15 Juli 2017 bertepatan 21 Syawwal 1438 H.

Pribadi

Beli Buku

Orang-orang yang mengenal KH. Khumaidi Umar sepakat bahwa beliau adalah seorang ulama yang sangat alim, pemahaman beliau terhadap ilmu agama sangat luas dan mendalam, namun beliau menutupinya dengan sikap tawadhu’ dan cara berpakaian yang sangat sederhana. Beliau adalah pribadi yang sangat bersahaja. Dalam tradisi pesantren hal ini dikenal dengan istilah khumul.

Kawan-kawan dekat beliau menuturkan tidak pernah melihat KH. Khumaidi Umar mengeluh atau marah karena suatu hal. Beliau sangat penyabar dalam menghadapi suatu masalah.

Dalam mendidik putra-putrinya beliau dikenal lemah lembut dan sangat telaten. Juga tidak lepas dari riyadhoh, baik dhohir atau batin. Terbukti, seluruh putra-putrinya berhasil dalam pendidikan. Keempat putranya semuanya sarjana dan telah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Sedangkan putra keempat masih menghafal al-Qur’an dan melanjutkan studi di Universitas Wahid Hasyim Semarang. Keempat putrinya merupakan hafizah al-Qur’an dan telah menyelesaikan pendidikan di pesantren masing-masing.

Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang sangat berhati-hati dalam bertindak. Juga sangat menjaga perasaan orang lain. Entah dalam sikap, tindakan, atau tutur katanya.

Ketika hari raya, penulis pernah sowan ke ndalem beliau untuk silaturrahim. Di sana tamu-tamu yang sedang sowan itu disambut dengan ramah dan dilayani beliau sendiri. Bahkan dengan senang hati beliau yang mengambilkan minuman untuk tamu-tamunya, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, atau orang tua. Semuanya disambut penuh kasih sayang.

Misbahul Munir, salah seorang putra beliau mengenang, KH. Khumaidi Umar adalah sosok yang sangat kuat dan tekun dalam mutholaah, baik mengkaji, menerjemah, atau memberi ulasan pada sebuah kitab. Beliau sangat menghargai waktu. Ketika di rumah, setelah selesai bercengkrama dengan keluarga, khususnya cucu-cucu beliau, maka KH. Khumaidi Umar menggunakan waktunya untuk mutholaah kitab. Lebih lanjut Misbahul Munir menuturkan, ketika hendak tidur ia melihat ayahnya yang masih asik dengan kitab-kitab yang entah sampai jam berapa. Ketika bangun ia mendapati ayahnya sudah bangun terlebih dahulu. Ketika jam setengah tujuh beliau sudah siap berangkat mengajar.

Kisah Teladan

Kisah teladan yang berkaitan dengan KH. Khumaidi Umar sebenarnya sangat banyak, penulis ambilkan satu saja sebagai renungan dan teladan kita bersama tentang sosok yang tawadhu’ dan rendah hati ini.

Beli Buku

Kisah ini penulis peroleh langsung dari KH. Ayyub Nu’man HM yang merupakan salah satu murid KH. Khumaidi Umar ketika di Mranggen dan teman seperjuangan di NU kecamatan Patebon.

Dulu, saat menjadi ketua NU kecamatan Patebon KH. Abdul jalil Lanji setiap selapan satu kali mengadakan pengajian bandongan dengan metode ala pesantren utawi-iki-iku yang diikuti oleh seluruh jajaran pengurus dan anggota NU kecamatan Patebon yang salah satu anggotanya KH. Khumaidi Umar. Kitab yang dibalagh atau dijadikan kajian adalah al-Da’watu al-Tammah buah karya Sayyid Alwi al-Haddad.

Suatu ketika, KH. Abdul Jalil di tengah-tengah pembacaan ada satu lafad di dalam kitab tersebut yang ma’nanya suliti beliau fahami. Kemudian menanyakan kepada KH. Khumaidi Umar yang saat itu ikut memaknai kitabnya, “Bener ngene po, maid? (apakah benar demikian, maid?) KH. Khumaidi Umar hanya menjawab, “Nggeh menawi. Nggeh menawi. (iya nampaknya. Iya nampaknya)

Di kemudian hari KH. Ayyub Nu’man HM sowan dan menyampaikan suatu hal kepada KH. Abdul Jalil bahwa sebenarnya KH. Khumaidi Umar telah menerjemahkan kitab tersebut, kitab yang dikaji, kitab al-Da’watu al-Tammah. KH. Abdul Jalil terheran-heran. Sampai begitunya KH. Khumaidi Umar dalam menutupi kealimannya.

Karya-karya

KH. Khumaidi Umar adalah ulama yang sangat produktif. Puluhan karya dari berbagai disiplin keilmuan Islam telah beliau lahirkan, baik berupa karya murni, terjemah, atau syarah. Baik dalam bentuk syair atau prosa. Beberapa di antaranya yang berhasil penulis konfirmasi:

  1. Aqidah Munirah, kitab berisi seribu bait tentang Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah. Masih berupa manuskrip, belum diterbitkan. Hanya dibagikan kepada kalangan terbatas saja.
  2. Maraqi al-Ikhlas, sebuah kitab yang membahas ilmu fiqh.
  3. Tashilu Mafahimi alShorfi, membahas ilmu shoroh.
  4. Al-Jawahiru al-Naimah, membahas nahwu, terjemah kitab Jurmiyah sebanyak dua juz.
  5. Al-Durusu al-Nahwiyah, membahas nahwu, terjemah al’Umriti sebanyak dua juz.
  6. Tashilu Mafahimi al-Shorfi, membahas ilmu shorof sebanyak 4 juz.
  7. Irsyadu al-Ghulam, membahas aqidah, terjeham Aqidatu al-Awwam.
  8. Durusu al-Fiqhiyah, kitab tentang fasholatan.
  9. Aqidatu al-Saniyah, membahas Tauhid.
  10. Khulaso al-Tarikhu al-Islami, membahas sejarah Islam
  11. Ke-NU-an
  12. Terjemah kitab al-Da’watu al-Tammah, terjemah bersama KH. Ali Hasan Umar.

Karya-karya lain KH. Khumaidi Umar yang masih berupa manuskrip dan belum diterbitkan masih sangat banyak. Di antaranya ada yang sudah diserahkan kepada penerbit, namun sayang naskahnya hilang sebelum diterbitkan.

Beli Buku
Share:
Beli Buku
Avatar photo

Ulama Nusantara Center

Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *