Oleh : Amirul Ulum*
Garis keturunan
Syaikh Abdul Muhyi lahir di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 1071 H / 1650 M. Secera Geneologis Syaikh Abdul Muhyi adalah keturunan darah biru. Silsilahnya dari percampuran antara jalur ulama (pemuka agama Islam) dan umara (penguasa). Dari jalur ayah (Sembah Lebe Warta Kusumah) merupakan keturunan ratu Galuh (Pajajaran, Jawa Barat) yang ke enam. Dan dari pihak ibu (Sembah Ajeng Tanganziah) merupakan ketuturan dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) Gresik Jawa Timur yang merupakan keturuanan Rasulullah SAW melalui jalur Sayyid Husein bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimatuz-Zahra.[1]
Rihlah Pendidikan
Syaikh Abdul Muhyi pertama kali menerima pendidikan agama Islam dari orang tuanya sendiri. Tidak lama kemudian, beliau melanjutkan studinya untuk mencari ilmu kepada ulama-ulama Ampel, sebab kedua orang tuanya telah pindah tempat dan menetap di Ampel. Di sana, beliau belajar kepada ulma-ulama setempat dengan penuh ketekuan sehingga menjadi lebih menonjol dan disegani oleh kawan-kawannya.
Karena merasa masih haus dengan ilmu agama Islam, ketika berumur 19 tahun, Syaikh Abdul Muhyi meminta izin kepada orang tuanya untuk melanjutkan pengembaraannya mencari ilmu ke negeri Aceh Utara.yang di waktu itu penuh dengan ulama-ulama yang alim, baik dalam ilmu syariat maupun kebatinan. Permintaan itu direstuai oleh keduanya. Di sana beliau belajar di pesantren yang diasuh oleh Syaikh Kuala (bahasa Aceh, artinya Syaikh atau ulama di Kuala). Nama itu mashur untuk Syaikh Abdurauf as-Sinkili (Mursyid Profilic dari Sinkil). Gurunya ini dikenal sebagai pembawa thariqah Syatthariyah ke Indonesia. Syaikh Abdurauf as-Sinkili ini adalah seorang wali Allah dan khutub lagi kasyaf serta mempunyai keramat. Selain alim dan sufistik, Syaikh Abdurauf as-Sinkili adalah sosok ulama produktif dalam menghasilkan karya Intelektual. Karyanya banyak, mulai tasawuf hingga fikih. Kitab tafsirnya yang berjudul “Turjuman Al Mustafid” diakui sebagai kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dengan bahasa Melayu. Mir’at at Tulab fi Tahsil Ma’rifat Ahkam asy Syar’iyyah lil Malik al Wahhab merupakan salah satu kitabnya di bidang ilmu fiqih. Di dalam kitab ini memuat berbagai persoalan fikih Madzhab Syafi’i. Tercatat juga, Syaikh Abdurauf pernah menjadi mufti Kerajaan Aceh ketika zaman Sultan Safiatuddin Tajul Alam (1641-1643).
Prof. Dr. Azumardi Azra menyebut guru Syaikh Muhyi ini sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab dalam membuka jaringan ulama Nusantara di dunia internasional. Berkat jasanya orang-orang Indonesia kemudian masuk dalam jajaran jaringan ulama dunia.[2] Syaikh Abdurrauf mewarnai kelimuwan Syaikh Abdul Muhyi, baik dalam segi ilmu syariat, thariqah hakikat dan ma’rifat.
Masa studi Syaikh Abdul Muhyi di Aceh dihabiskannya dalam tempo delapan tahun (1090 H / 1669 M-1098H / 1677 M). Syaikh Muhyi tercatat salah satu santri dari Syaikh Abdurraauf as-Sinkili yang terkenal. Selain itu, ada juga yang terkenal, yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan Sumatera Barat, Syaikh Abdul Malik di Terengganu, Syaikh Yusuf Tajul Khalwati dari tanah Bugis-Makasar dan lain-lain. [3]
Usai belajar di Muara Aceh, oleh Syaik Abdurrauf, Syaikh Abdul Muhyi dan teman-temannya diajak ke Bagdad untuk menziarahi makam Sulthanul Auliya’, Syaikh Abdul Qodir al-Jalaini. agar santri-santrinya tersebut dapat memperoleh keberkahan yang didapat dari ratunya para wali.
Rombongan itu bermukim di Bagdad selama dua tahun. Setelahnya, Syaikh Abdurauf as-Sinkili membawa murid-muridnya ke tanah suci untuk melaksanakan Ibadah Haji dan berziarah ke makam Rasulullah SAW. Di tanah suci ini Syaikh Abdurauf as-Sinkili melihat adanya kelebihan yang dimiliki oleh Syaikh Abdul Muhyi . Kemudian beliau memberikan perintah kepada Syaikh Muhyi untuk mencari suatu goa sebagai medianya untuk berdakwah dan menyiarkan agama Islam. Diriwayatkan bahwa goa itu pernah digunakan oleh Syaikh Abdul Qodir al-Jailani untuk tawajuh menerima ilmu dari gurunya, Imam Sanusi.
Di tanah suci ini, Syaikh Abdul Muhyi juga sempat berguru kepada Syaikh Ibrahim al-Kurani di Mekah dan Syaikh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah. Yang mana kedua-dua ulama itu adalah ulama ahli syariat dan haqiqat yang paling terkenal pada zamannya. Syaikh Ahmad Qusyaysi dan Syaikh Ibrahim al Kurani juga guru besar dari syaikh Abdurraf. Lewat keduanya Syaikh Abdurauf as-Sinkili mendapatkan ijazah thariqah Syatthariyah. Tentang gurunya ini, Syaikh Abdurauf as-Sinkili menyebutnya sebagai pembimbing spiritual di jalan Allah.
Berdakwah Dengan Arif Dan Bijaksana
Setelah menunaikan ibadah haji, Syaikh Abdul Muhyi kembali ke tanah air dan bertempat di Ampel. Sebelum melaksanakn dakwah penyiaran agama Islam dan melaksanakan tugas yang diberikan oleh Syaikh Abdurauf as-Sinkili, orang tua Syaikh Abdul Muhyi terlebih dahulu meminta putranya tersebut untuk menikah. Beliau dinikahkan dengan Sembah Ayu Bakta putri dari Sembah Dalem Secaparana. Dengan istrinya ini, beliau meninggalkan Ampel dan mulai melakukan pengembaraan ke arah Barat. Ketika di Darma, yang termasuk daerah Kuningan, Jawa Barat, beliau diminta masyarakat muslim setempat untuk bertempat tinggal di sana. Beliau menetap di sana selama 7 tahun untuk mendidik masyarakat dengan ajaran-ajaran Islam. Berita menetapnya di Darma Kuningan ini, diketahui oleh orang tuanya yang akhirnya keduanya menyusul anaknya tersebut.
Tujuh tahun Syaikh Abdul Muhyi dan istrinya berada di Darma (1678-1685). Kemudian beliau kembali mengembara dan sampailah ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Beliau menetap di Pameungpeuk selama satu tahun (1685-1686) untuk menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk di sana yang ketika itu masih menganut agama Hindu. Pada tahun 1986 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan.
Beberapa hari setelah pemakaman ayahnya, Syaikh Abdul Muhyi dan istrinya melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi. Beliau bermukim beberapa waktu di sana atas permintaan masyarakat. Setelah itu ia ke Lebaksiuh, tidak jauh dari Batuwangi. Lagi-lagi atas permintaan masyarakat ia bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690).
Pada masa 4 tahun itu, beliau berjasa mengislamkan penduduk yang sebelumnya menganut agama Hindu. Menurut cerita rakyat, keberhasilan Syaikh Abdul Muhyi dalam melakukan dakwah Islam adalah karena karomahnya yang mampu mengalahkan aliran hitam. Di sini Syaikh Abdul Muhyi mendirikan masjid tempat untuk memberikan pengajian dan mendidik para kader-kader Islam untuk mewarisi ilmunya yang kelak dapat membantunya menyebarkan agama Islam secara lebih jauh ke bagian selatan Jawa Barat.
Setiap tempat yang beliau singgahi untuk menyebarkan agama Islam selalu mebuahkan hasil yang memuaskan. Terkadang juga memperoleh jalan yang terjal sebab adanya gangguan orang-orang yang tidak senang dengan Syaikh Abdul Muhyi dan ajaran yang dibawanya. Beliau selalu menyiarkan ajaran Islam dengana arif dan bikasana. Dengan metodenya ini, agama Islam cepat berkembang luas.
Adapun bukti bahwa Syaikh Abdul Muhyi berdakwah menggunakan jalan yang arif dan bijaksana adalah, beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Namun kejahatan itu dibalasnya dengan kebaikan. Pernyataan ini nampak ketika beliau sedang sujud dalam shalatnya, ada dua orang (Mbah Ibra dan Mbah Samun) yang ingin menzaliminya. Namun usaha itu gagal sebab karomahnya. Beliau memaafkan perbuatan kedua orang tersebut yang akhirnya berbuah pengikutnya disuruh untuk mengikuti Syaikh Abdul Muhyi.
Jika sebagian Wali Songo memasukkan ajaran Islam dalam suatu tembang atau nama-nama tertentu, maka Syaikh Abdul Muhyi juga mempunyai taktik yang tidak jauh dari strategi Wali Songo. Suatu ketika Syaikh Abdul Muhyi melihat ada seseorang yang belum memeluk Islam sedang memancing dan tidak kunjung mendapat ikan. Kemudian Syaikh Abdul Muhyi meminta izin untuk memancingkannya. Ketika pancing sudah dipegang ditangannya, banyak ikan yang didapat Syaikh Abdul Muhyi. Orang tersebut heran, kemudian meminta jampe-jampe tau doa yang dibaca untuk memancing. Doa tersebut adalah “Bismillaahirrahmsanirrahim asyhadu allaa ilaaha illallah waasyhadu annamuham madarrasulullah.” Dari peristiwa ini akhirnya orang tersebut masuk Islam.
Pamijahan dan Goa Safar Wadi
Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, Syaikh Abdul Muhyi lebih memilih melangkahkan kakinya lagi ke sebelah Timur kampung Lebaksiuh. Di sana Syaikh Muhyi bermukim di dalam goa yang sekarang dikenal sebagai goa Safar Wadi di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Goa itu merupakan suatu tempat yang diperintah oleh Syaikh Abdurauf as-Sinkili sebagai tempat Syaikh Abdul Muhyi untuk berdakwah.. Goa itu serupa dengan tempat di mana Syaikh Abdul Qodir al-Jailani menerima baiat dari gurunya, Imam Sanusi.
Keterkaitan antara Syaikh Abdul Muhyi dengan Syaikh Abdul Qodir al-Jailani begitu erat dengan adanya goa Safar Wadi tersebut. Ada yang mengatakan, “Apabila Syaikh Abdul Qadir al Jaelani disebut sebagai ‘wali awal’, maka Abdul Muhyi dianggap sebagai ‘wali penutup’. Kedudukan ini memang dibuktikan oleh kenyataan bahwa setelah wafatnya, keturunan Syaikh Abdul Muhyi tidak lagi menggunakan gelar Syaikh. Istilah ‘wali penutup’ memang menjadi pertanyaan, sebab dalam sejarah Islam wali akan tetap ada setiap zaman, tetapi hanya para ‘wali’ yang mengetahui keberadaan seorang ‘wali’.”[4].
Menurut salah satu tradisi lisan, kehadiran Syaikh Abdul Muhyi di goa Safar Wadi itu adalah atas undangan bupati Sukapura yang meminta bantuannya untuk menumpas aji-aji hitam Batara Karang di Pamijahan. Di sana terdapat sebuah goa tempat pertapaan orang-orang yang menuntut aji-aji hitam itu. Syaikh Abdul Muhyi memenangkan pertarungan melawan orang-orang tersebut hingga dapat menguasai gua itu.[5]
Syaikh Abdul Muhyi menjadikan goa Safar Wadi itu sebagai tempat pemukiman dan beribadah bagi keluarga dan pengikutnya, di samping sebagai tempat memberikan pengajian agama Islam dan mendidik kader-kader dakwah Islam. Dan juga goa tersebut sangat sesuai baginya dan para pengikutnya untuk melakukan ibadah menurut ajaran thariqah mu’tabarah Syatthariah.
Nama Safar Wadi berasal dari bahasa Arab, yaitu “safar” (jalan) dan “wadi” (lembah/jurang). Jadi, Safarwadi adalah jalan yang berada di atas jurang, sesuai dengan letaknya yang ada di antara dua bukit di pinggir kali. Panjang lorong goa sekitar 284 meter dan lebar 24,5 meter.
Setelah goa Safar Wadi ditemukan, Syaikh Abdul Muhyi bersama-sama dengan para santrinya, menyebarkan Islam di Kampung Bojong, sekitar 6 km dari goa. Sekarang tempat itu lebih dikenal sebagai Kampung Bengkok. Sekitar 2 kilometer dari Bojong, ia mendirikan perkampungan baru yang disebut Kampung Safar wadi. Kampung itu kemudian berganti nama menjadi Pamijahan, yang artinya tempat ikan bertelur (memijah). Di daerah ini, Syaikh Abdul Muhyi menghabiskan sisa-sisa umurnya untuk mengamalkan dan menyiarkan agama Islam bersama keluarganya dan para pengikutnya..
Ajaran Syaikh Muhyi Waliyullah
Syaikh Abdul Muhyi merupakan salah satu penganut thariqah mu’tabarah, yaitu thariqah Syatthariyah (the Syatthariyah Order). Thariqah Syatthariyah adalah thariqah yang dianut gurunya, Syaikh Abdurrauf as-Singkili. Syariatnya beraliran Syafiiyyah karena mengikuti imam Syafi’i sebagaimana madhab Syaikh Abdurauf as-Sinkili.
Thariqah Syatthariyah adalah thariqah yang mengantarkan dirinya sampai derajat kewalian. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa derajat kewalian beliau didapat dari jalan melakukan thariqoh an-Nabawiyyah.[6] Namun Pendapat mashur yang menjadikan beliau hingga mencapai suluk kewaliannya adalah dengan Thariqah Mu’tabarah Syatthariyah, yang silsilah keguruan atau kemursyidannya hingga Rasulullah SAW.
Syaikh Abdul Muhyi Mengambil sanad (transmisi atau silsilah) thariqah ini dari dua jalur. Pertama, dari jalur Syaikh Abdurauf as-Sinkili. Kedua dari jalur Syaikh Ahmad al-Qusyasyi, yaitu guru Syaikh Abdurauf as-Sinkili. Akan tetapi Syaikh Abdul Muhyi lebih mengutamakan silsilahnya tetap menyebut Syaikh Abdur Rauf as-Sinkili. Hal ini karena thariqah Syatthariyah tersebut memang terlebih dulu diterimanya dari Syaikh Abdurauf as-Sinkili. Adapun Syaikh Abdurauf as-Sinkili sendiri mengambil sanad thariqah Syatthariyah dari Syaikh Ahmad Qusyaysi dan Syaikh Ibrahim al-Kurani. Lewat kedua ulama besar ini, Syaikh Abdurauf as-Sinkili mendapatkan ijazah thariqah Syatariyah. Tentang gurunya ini Syaikh Abdurauf as-Sinkili menyebutnya sebagai pembimbing spiritual di jalan Allah. .
Ajaran thariqah Syatthariyah merupakan jalan tepat untuk mebangun pribadi pengikut Syaikh Abdul Muhyi. Thariqah lebih dapat membuat manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menurut al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), Thariqah ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.[7] Thariqah sendiri memiliki dua pengertian, Pertama berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan sang pencipta. Kedua, thariqah sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.
Bila ditinjau dari sisi lain thariqah juga mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syaikh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru thariqah diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru. Dan Syaikh Abdul Muhyi sendiri adalah seorang mursyid (penunujuk jalan menuju Allah) yang alim serta mempunyai karomah yang dapat mengayomi pengikutnya yang mengikuti jalannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dari derajat yang luhur ini, maka banyak kaum muslimin di dalam Tasikmalaya dan lainnya yang melakukan wasilah dengannya.
Syaikh Abdul Muhyi adalah tergolong tokoh sufi, sebab thariqah sendiri itu merupakan cabang dari tasawwuf. Beliau mempunyai pemikiran tasawuf “Martabat Alam Tujuh”. Dalam tradisi Tasawuf yang kelak nantinya diikuti oleh pengikutnya, maka Syaikh Abdul Muhyi dengan thariqah Syatthariyah akan memberi suatu pemikiran tentang ajaran Martabat Alam Tujuh, yang disebut Martabat Alam Tujuh.
Martabat tujuh ini adalah sesuatu proses yang mengajak manusia untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhan (Taqarub Ila Allah). Di antaranya adalah; Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah (hanya tertuju kepada Allah sang khaliq), Alam Arwah, Alam Mitsal, Alam Ajsam (tertuju terhadap Alam), dan Alam Insan (tertuju kepada manusia).
Dalam menjelaskan ketujuh martabat ini Syaikh Abdul Muhyi pertama-tama menggaris bawahi perbedaan antara Tuhan dan hamba, agar sesuai dengan ajaran Syaikh Abdurauf as-Sinkili. Hal ini dimaksudkan agar orang tidak terjebak pada identiknya alam dengan Tuhan. Syaikh Abdul Muhyi mengatakan bahwa wujud Tuhan itu qadim (azali dan abadi), sementara keadaan hamba adalah muhdas (baru). Dari tujuh martabat itu, yang qadim itu meliputi martabat Ahadiyyah, Wahdah, dan Wahidiyyah, semuanya merupakan martabat-martabat “keesaan” Allah SWT. yang tersembunyi dari pengetahuan manusia. Inilah yang disebut sebagai wujudullah. Empat martabat lainnya termasuk dalam sesuatu yang disebut muhdas, yaitu martabat-martabat yang serba mungkin, yang baru terwujud setelah Allah SWT. berfirman “kun” (jadilah).
Perlu kita ketahui bahwa ajaran Martabat Tujuh sebenarnya bukanlah ciptaan Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, tetapi yang pertama membicarakan ajaran itu ialah dalam kitab bahasa Arab berjudul Tuhfatul Mursalah karya Syaikh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri. Kitab tersebut disyarahi oleh Syaikh Abdul Ghani an-Nablusi.
Martabat Tujuh dalam bahasa Melayu selain yang dibicarakan oleh Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, juga banyak, dimulai oleh ulama-ulama tasawuf di Aceh, seperti Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari dengan Ad-Durrun Nafisnya, Syaikh Abdus Shamad al-Falimbani membicarakannya dalam Siyarus Salikin, Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathani dalam Manhalus Shafi dan banyak lagi yang lainnya.
Muhammad bin Fadhlallah al-Burhanpuri mencetuskan konsep wujudiyyat yang dikenal dengan “Martabat alam Tujuh”. Menurutnya, wujud Allah itu dapat dikenal melalui tujuh martabat (tingkatan) :
Tingkatan pertama, adalah martabat al-lata’ayyun yang disebut ahadiyyah, yaitu esensi Tuhan yang mutlak tanpa nama dan sifat, sehingga tak nampak dan tak terkenal siapa pun.
Tingkatan kedua, adalah martabat al-ta’ayyun al-awwal (penampakan yang pertama) yang disebut wahdah. Penampakan esensi Tuhan pada tingkat ini berupa Hakikat Muhammad (al-haqiqah al-Muhammadiyyah) yang diartikan sebagai ilmu Tuhan mengenai diri-Nya, sifat-Nya, dan alam semesta secara global tanpa pembedaan yang satu dari yang lain.
Tingkatan ketiga, adalah martabat al-ta’ayyun al-tsani (penampakan kedua) yang disebut wahidiyyah dalam rupa Hakikat Insan (al-haqiqah al-insaniyyah), yakni ilmu Tuhan mengenai diri-Nya, sifat-Nya, dan alam semesta ini secara terinci dan pembedaan yang satu dari yang lain, atas jalan perceraian.[8]
Tingkatan keempat, adalah martabat ‘alam arwah dan disebut juga Nur Muhammad SAW, yaitu ibarat dari keadaan sesuatu yang halus semata. Ruh Tunggal yang merupakan asal ruh semua makhluk.
Tingkatan kelima, ialah martabat ‘alam mitsal, yaitu ibarat dari keadaan sesuatu yang halus, yakni diferensiasi dari Nur Muhammad tersebut dalam rupa ruh perorangan, yang dapat ditamsilkan “laut” selaku alam ruh melahirkan dirinya dalam bentuk “ombak” sebagai ‘alam mitsal.
Tingkatan keenam, yaitu martabat ‘alam ajsam, yaitu alam benda-benda yang kasar, yang tersusun serta berbeda-beda antara yang satu dan yang lainnya.
Tingkatan ketujuh, adalah martabat insan atau alam paripurna, yang padanya terhimpun segenap martabat yang sebelumnya, sehingga martabat ini disebut tajalli (penampakan).
Demikianlah tujuh martabat wujud Allah menurut al-Burhanpuri, yang dipelajarinya oleh Syaikh Abdul Muhyi murid dari Abdul Rauf Singkili. Yang pertama dari tujuh martabat itu adalah sumber martabat bagi penampakan Allah, yang enam martabat lainnya adalah martabat-martabat penampakan Allah yang kulli (global).
Martabat yang terakhir, yakni martabat insan disebut juga insan kamil, jika naik meningkat, maka segenap martabat yang lain tampak serta terpancar di dalamnya. Puncak insan kamil yang paling sempurna terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW, penutup segala nabi-nabi. Demikianlah konsep martabat tujuh menurut pencetusnya, yakni Muhammad bi Fadhallah al-Burhanpuri.
Intelektualitas , Perjuangan Dan Pengaruh Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan
Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan adalah ulama yang mashur di seluruh Jawa Barat, tetapi riwayat hidupnya hampir-hampir saja tidak dikenal di dunia Melayu lainnya. Beliau hidup sejajar dengan ulama-ulama terkenal yang lain, yang hidup sezaman dengannya, yaitu Syaikh Abdul Malik Terengganu Syaikh Burhanuddin Ulakan, Syaikh Yusuf Khalwati, Syaikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathani dan lain-lain.
Karena kealiman Syaikh Abdul Muhyi yang mashur, diriwayatkan bahwa Maulana Mansur berulang kali datang ke Pamijahan untuk berdialog dengan Syaikh Muhyi. Syaikh Maulana Mansur adalah putra Sultan Abdul Fattah Tirtayasa dari kesultanan Banten. Sultan Tirtayasa sendiri adalah keturunan Maulana Hasanuddin, sultan pertama kesultanan Banten yang termasuk putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, salah seorang Wali Songo.
Syaikh Abdul Muhyi telah berhasil menyebarkan Islam di seluruh Jawa Barat. Keberhasilannya ini membuat pengaruhnya besar. Contoh kecilnya adalah Bupati Wiradadaha IV, yakni Raden Subamanggala pernah berwasiat bahwa jika beliau meninggal dunia supaya dikuburkan di sisi gurunya Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan itu. Tempat itu sekarang lebih dikenali dengan nama Dalem Pamijahan.
Berita tentang ketinggian ilmunya itu sampai juga ke telinga sultan Mataram. Sultan kemudian mengundang Syaikh Abdul Muhyi untuk menjadi guru bagi putra-putrinya di istana Mataram. Sultan Mataram Paku Buwono II (1727-1749). Sang sultan menjanjikan akan memberi piagam yang memerdekakan daerah Pamijahan dan menjadikannya daerah “pasidkah”, daerah yang dibebaskan dari pembayaran pajak atau upeti.
Diriwayatkan dalam suatu cerita bahwa pada saat Jawa Barat dikusai oleh Belanda yang merembet ke Tasikmalaya. Belanda ingin menjadikan daerah tersebut sebagaimana daerah lainnya yang harus tunduk dan membayar upeti atau pajak. Permintaan penjajah untuk memberikan pajak kepadanya ditolak mentah-mentahan, sebab menurut Syaikh Muhyi meberikan pajak kepada mereaka adalah haram. Selain itu derahnya adalah daerah bebas upeti sebab sudah diistimewakan oleh pihak kerajaan Mataram.
Selain aktif dalam berdakwah dan mengamalkan ilmunya kepada para santrinya serta mengamalkan ajaran thariqah Syatthariyah, Syaikh Abdul Muhyi juga menyempatkan diri untuk berkarya. Hal ini sesuai dengan penelitian orang Belanda, Snouck Hurgranje, pernah mengembara di Jawa Barat dan di Sukabumi. Dia menemukan beberapa naskhah karya yang dibangsakan kepada karya Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan.
Karya tulis Syaikh Abdul Muhyi yang asli tidak ditemukan lagi. Akan tetapi ajarannya disalin oleh murid-muridnya, di antaranya oleh putra sulungnya sendiri, Raden Muhyiddin yang menjadi tokoh thariqah Syatthariyah sepeninggal ayahnya. Raden Muhyiddin menikah dengan seorang putri Cirebon dan lama menetap di Cirebon. Ajaran Syaikh Abdul Muhyi versi Raden Muhyiddin ini ditulis dengan huruf pegon (Arab Jawi) dengan menggunakan bahasa Jawa (baru) pesisir. Naskah versi Raden Muhyiddin itu berjudul Martabat Kang Pitutu (Martabat Alam Tujuh) dan sekarang terdapat di museum Belanda, dengan nomor katalog LOr. 7465, LOr. 7527, dan LOr. 7705.
Ada juga manuskrip koleksi Muzium Islam Pusat Islam Malaysia nombor kelas MI 839, yang membicarakan Martabat Tujuh yang menurut Haji Wan Mohd. Shaghir Abdullah merupakan nukilan karya Syaikh Abdul Muhyi itu.
Pengaruh Syaikh Abdul Muhyi yang luas, menarik banyak orang untuk membuat tulisan tentang sejarah dan ajarannya. R. Abdullah Apap ibn R. Haji Miftah menyusun sebuah buku berjudul, Sejarah Pamijahan, Kisah Perjuangan Syeik Haji Abdul muhyi Mengembangkan Agama Islam di Sekitar Jabar. Aliefya M. Santrie menulis artikel Martabat (Alam) Tujuh, suatu naskah mistik Islam dari Desa Karang, Pamijahan. Dan banyak lagi tokoh yang membuat kajian mengenai ulama yang dibicarakan ini.[9]
Mengenai artikel Aliefya M. Santrie yang lebih menjurus kepada pengenalan ajaran Martabat Tujuh versi Raden Muhyiddin yang ditulis dengan huruf pegon. Setelah diteliti dan dibandingkan oleh Haji Wan Mohd. Shaghir Abdullah dengan naskhah yang ada pada pada dirinya yang ditulis dalam bahasa Melayu/Jawi, yang juga tercatat sebagai karya Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, katanya benyak persamaan.
Wasiat-Wasiat Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan
Beberapa Wasiat Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan kepada putra-putri dan istri-istrinya sebelum malaikat maut menjemputnya adalah sebagai berikut :
- Hendaklah kamu sekalian bertakwa kepada Allah
- Berbaktilah kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkanmu
- Hormati dan muliakanlah tamumu
- Bicaralah dengan benar
- Senangkanlah orang lain, sekalipun kamu tidak dapat menyenangkan orang,
- Janganlah kamu sedikit berbuat yang dapat menyusahkan orang
- Kasihanilah orang yang kecil
- Hormati orang yang besar
- Hargailah sesamamu,
- Hiduplah di dunia ini seakan mau melintasi jurang yang penuh dengan duri .
Syaikh Abdul Muhyi adalah kekasih Allah yang tidak suka dengan amalan makruh, seperti merokok, sebab merokok termasuk amalan yang dibenci Allah. Amalan merokok ini sangat dijauhinya. Bahkan bisa dikatakan beliau mengharamkan rokok untuk dirinya sendiri. Untuk keluarga dan pengikutnya yang merokok diharapkan jauh dari jarak beliau. Maka dari itu, sebagai penghormatan atas beliau, di daerah pamijahan dilarang merokok kecuali tempat yang telah diperbolehkan untuk merokok.
Istri-istri Dan Putra-Putri Syaikh Abdul Muhyi
Menurut riwayat yang ada, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan mempunyai empat isteri. Hasil perkahwinannya itu, beliau memperoleh 18 keturunan.
Pernikahan pertama adalah dengan Sembah Ayu Bakta. Dari prnikahan ini Syaikh Muhyi diberi keturunan empat :
- Raden Muhyiddin
- Raden Abdullah
- Nyai Madia Kusumah
- Raden Faqih Ibrahim
Pernikahan Syaikh Abdul Muhyi dengan sembah ayu fatimah dianugrahi lima keturunan :
- Raden Nadzar
- Raden Atam
- Nyai Usim
- Nyai Arunah
- Nyai Hatisah
Pernikahan Syaikh Abdul Muhyi dengan Sembah Ayu Salamah diberi anugarah Allah sebanyak tiga keturunan :
- Raden Bagus Muhammad
- Nyai Siti
- Nyai Ageng
Pernikahan Syaikh Abdul Muhyi dengan Sembah Ayu Winangun diberi keturunan enam :
- Nyai Candera
- Nyai Ajeng Enur
- Nyai Jabaniah
- Nyai Ageng Nidor
- Raden Bagus Atim
- Raden Ali Akbar
Pulang Ke Rahmatullah
Setelah menjalani perjuangan yang panjang untuk kepentingan agama Islam, dalam usia yang 80 beliau mengalami sakit yang menjadi penyebab wafatnya. Beliau wafat pada Tahun 1730 M / 1151 H. beliau dimakamkan di dekat Goa Safar wadi. Karena dipandang sebagai wali, makam dan goa yang menjadi peninggalan Syaikh Abdul Muhyi banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah. Bukan hanya daerah Tasikmalaya saja, tetapi sampai keluar dari daerah Jawa Barat. Semoga Allah SWT merahmati Syaikh Abdul Muhyi dan menjadikan perjuangannya sebagai perjuangan yang penuh dengan keberkahan.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. AA. Khaerussalam. 1987. Sejarah Perjuangan Syekh Haji Abdul Muhyi Waliyullah Pamijahan. Cet III, Pamijahan.
Moh. Ali Fadillah. 20 Juni 2005. Keramat Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya: ritual keagamaan dan prospeknya bagi pengembangan pariwisata,.
Dr. M. Dhiyaudin Qushwandhi. 2009. Menguak Rahasia Kesuksesan Dakwah Wali Songo Dan Titik Nun Pulau Jawa. Demu. Rembang,
- Rahimsyah AR. 2002. Sunan Kalijaga Dan Syeh Siti Jenar. Penerbit Amanah. Surabaya.
Amir-IDR. 17 april 2009. Menengok Sisi Sejarah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Jakarta
Syufrizal Abu Ikhwan . 2009. Syekh-Abdul-Muhyi-Pamijahan.
Mohammad Ali. , 2008 .Cahaya dari Timur.
- Imam Sanusi, Ah. 2002.. Perjuangan Syaikh. K.H. Ahmad Mutamakin. KMF. Yogyakarta.
Nurul Huda Karim MR. Kisah Wali Songo. Bersumber dari http://dimhad.6te.net.
Drs. Suwanto dkk. 1997..Sejarah Nasional Dan Umum. Penerbit CV Aneka Ilmu.
Kh. Azizi Hasbullah. 2011. Kontekstualitas Kitab Turats Teori Dan Strategi Penerapannya. Demu. Rembang,
Samsul Munir Amin. Karomah Para Kiai. 2008. Pustaka Pesantren. Yogyakarta.
Biografi sufi dari www. WordPress. Com
Koleksi tulisan Haji Wan Mohd. Shaghir Abdullah mengenai Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan Penyebar Tasawuf di Jawa Barat, 20 Februari 2008.
Www. Syaikh Muhyi Abdul Muhyi Pamijahan.Com
Ki santry. 2008. Syekh Haji Abdul Muhyi.
Ferry Djajaprana . 2008. Perjalanan Spiritual. Jakarta
http://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat.
Www. Early Tarekat In Buntet: Syattariyah. Com
Murid Paramartha. 2009. Syeikh Abdurrauf As-Sinkili.
www. Makam Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan.Com 2009
*Khadim Ulama Nusantara Center (UNC)
[1] Drs. H. AA. Khaerussalam, Sejarah Perjuangan Syekh Haji Abdul Muhyi Waliyullah Pamijahan, cet III, (Pamijahan, 1987), hal 7-8.
[2] Biografi sufi dari www. WordPress. com
[3] Koleksi tulisan Haji Wan Mohd. Shaghir Abdullah mengenai Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan penyebar tasawuf di Jawa Barat, 2008.
[4] Www. Syaikh Muhyi Abdul Muhyi Pamijahan.Com
[5] Ki santry, Syekh Haji Abdul Muhyi, 2008
[6] Thariqah an-Nabawiyyah adalah suatu thariqah yang wiridnya membaca istigfar 3 kali, membaca allahumma anta salam.., membaca allahumma lamania.., tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 33 kali.
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat.
[8] Tiga martabat tersebut, menurut al-Burhanpuri semuanya bersifat qadim dan ‘azali, karena martabat yang tiga ini ketika itu tiada ada yang mawjud, melainkan Dzat Allah SWT dan sifat-sifat-Nya, sedangkan sekalian makhluk ketika itu adalah mawjud di dalam ilmu Allah, belum lahir dalam wujud kharij (luar).
[9] Koleksi tulisan Haji Wan Mohd. Shaghir Abdullah mengenai Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan penyebar tasawuf di Jawa Barat, 2008.








