/>
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Beli Buku

Biografi Habib Muhammad Ridho Bin Yahya

Oleh: Urai Zahwa Meisyaharani Saputri

Habib Ridho bin Yahya mempunyai nama lengkap yaitu  Habib Muhammad Ridho bin Ahmad bin Aqil bin Salim bin Umar bin Hamid bin Aydrus bin Syaihan bin Umar bin Syaihan bin Hasan bin Aydrus bin Muhammad bin Hasan bin Yahya bin Husain Ahmar bin Ali bin Qhinaz bin Alwi bin Muhammad Mawla Dawileh bin Ali bin Alwi Qhuyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sohibul Mirbath bin Ali Khali’ Qhosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad Naqib bin Ali Uradi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali bin Husain bin Sayyidina Ali Fatimah Azzahra binti Rasulullah.

Beliau berasal dari tanah Pekalongan, Jawa Tengah  yang dikenal dengan sebutan  kota batik mulai tahun 1800 M. Nama Pekalongan berasal dari kata A-Pek-Halong-an yang mempunyai arti pendapatan. Jadi tidak menutup kemungkinan  orangtua Habib Muhammad Ridho ialah seorang seniman batik. Habib Muhammad Ridho lahir di Kota Pekalongan  pada tahun 1927 M. Beliau hidup tepat pada zaman ketika Indonesia mengalami pemberontakan  komunis khususnya di kepulauan Sumatera. Beliau lahir dari seorang ibu yang bernama Syarifah Nur binti Muhammad bin Syekh Bilfaqih.

Di masa kecil beliau merupakan anak yang ulet di berbagai bidang keilmuan, khususnya ilmu agama walaupun beliau hidup di dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan, tetapi hal terebut tidak sedikit pun mematahkan semangatnya untuk menuntut ilmu.

Beliau memulai pendidikannya di sekolah milik Belanda yang bernama Holand Arabic School (HAS). Setelah menyelesaikan pendidikan di HAS, beliau melanjutkan pendidikan di sekolah umum dari pagi hingga siang hari dan mengisi waktu kosongnya dengan belajar ilmu agama di sebuah madrasah hingga sore hari.

Sayangnya hal tersebut hanya bertahan beberapa tahun, sebab masuknya Jepang ke Indonesia khususnya di tanah Jawa, membuatnya pindah sekolah yang khusus mengajarkan ilmu agama. Pada saat itu beliau duduk di bangku Aliyah dan sudah mulai mandiri dengan mengajar di Ar-rabithat Solo.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, beliau mencoba mendaftarkan diri sebagai TNI AL dengan bermodalkan bakat renang yang dimilikinya. Tetapi hal tersebut tidak berhasil beliau capai, karena tidak mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Akhirnya beliau menuruti arahan kedua orang tuanya demi sebuah kebaikan yang patuh terhadap kedua orang tua. Akhirnya beliau melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1953, dengan memilih  jurusan filsafat pendidikan.

Beli Buku

Berjalannya dari waktu ke waktu Habib Muhammad Ridho kemudian mempersunting seorang syarifah yang juga termasuk dari golongan alawiyin, yaitu Syarifah Hidayah binti Habib Abdullah bin Abu Bakr bin Yahya dan di karuniai 11 orang anak yang terdiri dari 9 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Akan tetapi dari 11 anak tersebut 9-nya masih hidup sedangnya yang 2 sudah wafat di masa kecilnya.

Adapun urutan putra & putri Habib Ridho bin Yahya yang maih hidup :

  1. Syarifah Sakinah binti Muhammad Ridho bin Yahya.
  2. Habib Qasim bin Muhammad Ridho bin Yahya.
  3. Syarifah Khadijah binti Muhamad Ridho bin Yahya.
  4. Habib  Ali bin Muhammad Ridho bin Yahya
  5. Habib Musthofa bin Muhammad Ridho bin Yahya
  6. Habib Husin Helmi, S.Sos bin Muhammad Ridho bin Yahya
  7. Habib Ahmad Zaky, Lc bin Muhammad Ridho bin Yahya
  8. Habib Abdullah, SH bin Muhammad Ridho bin Yahya
  9. Syarifah Nurlaila binti Muhammad Ridho bin Yahya

Ada satu hal yang berbentuk warisan dari Habib Muhammad Ridho kepada anak-anaknya yaitu berdirinya pondok pesantren yag diberi nama “DARUNNA’IM”  terdiri atas putra & putri yang sekarang di wariskan & diasuh  langsung oleh anaknya yaitu Habib Zaky, Lc bin Muhammad Ridho bin Yahya. Dan yang putri di asuh oleh Drs. Habib Ali bin Muhammad Ridho bin Yahya.

Habib Muhammad Ridho dalam hidupnya juga pernah mencoba melakukan usaha dalam bidang perdagangan namun belum mencapai kesuksesan beliau sudah berhenti, karena teringat pesan ibunya untuk mengabdi di dunia pendidikan. Maka setelah menyelesaikan pendidikannya Beliau memulai mengabdi & berdakwah dari masjid satu ke masjid lainnya. Guna mengembangkan ilmunya dalam berdawah, beliau memutuskan hijrah ke tanah Kalimantan khususnya Pontianak.

Pada awalnya beliau juga di tawari untuk menjadi imam tetap di masjid Miri, Malaysia namun beliau belum mengiyakan tawaran tersebut. Tidak lama kemudian beliau juga berdakwah ke Negara Malaysia, dan beliau memutuskan kembali ke Solo untuk merundingkan kebingungannya dengan keluarga dan menceritakan juga kebingungannya kepada tokoh Ulama Besar Pontianak yaitu Habib Sholeh Al-Haddad yang juga sebagai salah seorang guru beliau.

Sehingga didapatkanlah sebuah keputusan untuk mendirikan Pondok Pesantren guna memakmurkan negeri sendiri dengan ilmu. Beliau mulai menginjak tanah Kalimantan berkisaran tahun 1981/1982 sebagai salah satu tokoh masyarakat dan juga pengasuh pertama Pondok Pesantren As-salam Pontianak di Pal V. Sebelum mendirikan Pondok Pesantren Darunna’im, beliau membuka majlis ta’lim yang di dalamnya mengkaji masalah fiqih & syariat Islam hingga sekarang diteruskan oleh anak beliau nomer 7 yaitu Habib Zaky bin Muhammad Ridho bin Yahya, Lc.

Selain menjadi pengasuh di majis ta’lim, Habib Muhammad Ridho juga memegang Thariqah Qadiriyah Wa  Naqsabandiyah jalur Maranggeng Demak/Semarang, yang mempunyai guru beranama KH. Muslih bin Abdurrahman yang nasabnya juga sampai kepada Syekh Khatib As-sambasi.

Di era 1990-an beliau juga pernah menjadi guru penasehat Nahdatul Ulama’ (NU) dan juga sempat menjadi anggota dewan & merangkul para penjabat, aparat hingga mereka pun ikut berpartisipasi menjadi donatur dalam proses pembangunan Pondok Pesantren Darunna’im Pontianak.

Beli Buku

Seiring berjalannya waktu pada tahun 1987 beliau mendirikan TK Al-Ikhwah sekaligus mendirikan Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam  (YPPAI), yang terletak di jalan Pangeran Nata Kusuma, Gg. Samarukun  No.9. Setelah itu pada tahun 1992  beliau membangun  Madraah Ibtidaiyah al-Ikhwah di samping TK al-Ikhwah. Sekarang Yayasan tersebut di ketuai oleh Habib Ali bin Muhammad Ridho bin Yahya (seorang murid yang ada di yayasan tersebut berkisaran sekitar 700-an).

Pada tahun 2000 barulah beliau membangun Pondok Pesantren Darunna’im Putra yang ada di jalan Ampera Kota Baru. Dalam jangaka waktu 5 tahun barulah Pondok Pesantren Putra di mulai proses pembelajarannya dan pada tahun 2012 beliau melanjutkan keinginan membangun Pondok Pesantren Darunna’im Putri, setelah kurang lebih 2 tahun masa pembangunan, berulah dilaksanakan proses belajar mengajar pada tahun 2014.

Salah satu tujuan beliau membangun Pondok Pesantren Darunna’im adalah untuk memperjuangkan agama Islam & mepersatukan umat Islam melalui pendidikan keilmuan agar memberi pemahaman terhadap umat tentang syariat Islam tanpa memandang ras ataupun etnik. Melalui santri-santrinya yang diharapkan kelak akan melanjutkan  perjuangan beliau di masa yang akan datang.

Pada tahun pertama beliau hanya memiliki 9 orang santri tetapi beliau tetap semangat untuk meneruskan perjuangannya, sehingga Pondok Pesantren Darunna’im cukup maju hingga mampu menampung sekitar 230 santriwan dan 190 santriwati. Di dalam Pondok Pesantren Darunna’im juga menerapkan sistem salafi & modern dengan menggunakan kitab-kitab para salaf terdahulu. Santri yang belajar di tempat ini juga diharuskan memakai gamis dan imamah.

Pesantren ini pun tak jarang dikunjungi tokoh ulama’ termasyhur, misalnya Habib Umar bin Hafidz dan para tokoh ulama dari Jawa misalnya Habib Syekh dan ulama–ulama lainya. Habib Muhammad Ridho menganut paham Ahlussunnah Waljama’ah dengan bermazhabkan Imam Syafi’i beliau sangat menghindari yang berbau perdebatan mazhab.

Sekarang bukan hanya Pesantren yang berdiri tetapi terdapat pula masjid megah di area tersebut. Habib Muhammad Ridho merupakan seorang pemimpin yang tegas, namun di dalam ketegasannya beliau juga bersifat penyayang kepada siapa pun itu. Dari sifat itulah beliau mampu merangkul donatur dari beberapa penjabat pemerintah dalam pembangunan Pondok Pesantren Darunna’im.  Dan hasil yang telah dicapai saat ini semua itu tidak terlepas dari masukan serta doa dari para guru. Seperti Ustadz Abdullah bin Hamid  Al-Hinduan, Habib Sholeh bin Alwi Al-Haddad.

Sebelum Habib Muhammad Ridho wafat beliau memberikan pesan kepada anak-anaknya “Ikuti saya, maka hidupmu akan membawa keberkahan dan jangan lupa jika mendapatkan rezeqi lebih maka bersedekah lah. Inilah yang akan menjadikan  hidupmu tenang, dijauhi dari bala’, serta dapat membawa nilai kebaikan dari Allah untukmu dan keluarga”.

Pesan beliau singkat tetapi memiliki makna yang luas, pesan tersebut bukan hanya untuk anak-anak beliau tetapi juga orang lain agar mengamalkan isi dari pesan tersebut. Dan beliau juga berwasiat untuk ada yang meneruskan dakwahnya, Lembaga Pondok Pesantren Darunna’im & Lembaga Pendidikan lainnya agar dapat mensejahterakan umat di bidang ilmu agama dan pendidikan.

Beli Buku

Pada hari ahad tanggal 14 Agustus 2015 beliau menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya jl. Ampera Pondok Pesantren Darunna’im Putra. Beliau dikebumikan di salah satu halaman Pondok Pesantren Darunna’im khusus maqbaroh. Pada tanggal terebut juga bertepatan dengan milad 1 tahun Pondok Pesantren Darunnai’m Putri.

Hingga sekarang dakwah & Pondok Pesantren Darunna’im diteruskan oleh putra beliau yaitu Habib Ahmad Zaky, Lc bin Muhammad Ridho bin Yahya & Drs. Habib Ali bin Muhammad Ridho bin Yahya.

Share:
Beli Buku
Avatar photo

Ulama Nusantara Center

Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *